Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

SEHAT BERSAMA YASIN AYAT 36-40


SEHAT BERSAMA SURAT YASIN

AYAT 36 – 40

 

سُبْحَنَ الَّذِئ خَلَقَ اْلَازْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلَاْرضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ وَءَايَةٌ لَهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُظْلِمُوْنَ وَالشَّمْسُ تَجْرِئ لِمُسْتَقَرٍّلَهَا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ اْلعَلِيْمِ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّئ عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِئ لَهَا اَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِئ فَلَكِ يَسْبَحُوْنَ

 

PENJELASAN KATA-KATA

 

Kata subhaana, Maha Suci terulang sebanyak 18 kali dalam al-Quran, yang bersambung dengan kata ganti orang kedua subhaanaka ada 9 kali, sedangkan diganding dengan kata ganti orang ketiga Subhaanahu terulang 14 kali. Kata Azwaaj adalah bentuk jama’ yang tidak beraturan yang berarti pasangan-pasangan ia terulang sebanyak 52 kali. Bentuk tunggalnya zawjun ada 17 kali dan bentuk dualnya zaujaani dan zaujaini keseluruhannya terulang 7 kali. Kata ya’lamuun/mereka mengetahui terdapat 63 kali dalam al-Quran, 44 kali diantaranya diawali dengan kata Laa yang berarti tidak. Kata Ayat dalam bentuk tunggal terulang 84 kali dan jama’nya dengan berbagai kata ganti yang menyertainya terulang 330 kali. Al-Lail, malam ada 88 kali dan an-Nahr, siang terulang 57 kali. Asy-syams matahari terdapat 32 kali dan al-Qamar 27 kali. Sementara kata Taqdiir terulang 5 kali, dan al-“Aziz 99 kali, al-‘Alim dalam bentuk ma’rifah [diketahui/jelas] terdapat 80 kali, dalam bentuk nakirah 162 kali. Qaddarna, kami menetapkan terulang 5 kali, manaazila ada 2 kali. Falakin yasbahuun terulang 2 kali.

 

KANDUNGAN MAKNA

 

سُبْحَنَ الَّذِئ خَلَقَ اْلَازْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلَارْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

 

Artinya: Maha Suci Zat yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui.

 

Ayat 36 diatas diawali dengan tasbih Subhaana, berarti Maha Suci. Kata tersebut pada awalnya bertujuan untuk meluruskan  persepsi, pandangan, konsep serta sikap kaum musyrikin Mekkah terhadap Allah Swt. Apa sebenarnya pengertian kata tersebut dan apa pula hakikat yang dikehendaki oleh Allah dibalik kalimat tasbih itu, apakah ucapan tasbih yang kita ucapkan sudah sesuai dengan yang di kehendaki Allah Swt. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita persilahkan Al-Quran menjelaskannya agar memperoleh gambaran yang utuh tentang tasbih. Penulis sedikit ingin mempokuskan perhatian kepada persoalan ini, dengan harapan mudah-mudahan memberikan pencerahan khususnya terhadap persoalan sepenting tasbih.

Kata-kata  yang bermakna tasbih dalam al-Quran banyak kita temukan dengan berbagai bentuk perubahannya. Dimulai dari isim masdarnya Subhaana, bentuk lampau sabbaha, bentuk sedangnya yusabbihu, serta perintah yaitu sabbih. Izinkan penulis untuk memaparkan seluruh ayat-ayat tersebut semoga menjadi panduan ketika bertasbih dan sekaligus mudah-mudahan ia menjadi barometer tasbih yang kita lakukan.

 

PENGULANGAN KATA SUBHAANA

 

Katakanlah inilah jalanku [agamaku], aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak [kalian] kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik 12:108

 

Tasbih dalam ayat ini untuk meluruskan sikap mereka yang menyekutukan Allah 12:106. Juga untuk mengingatkan umat Nabi Yusuf yang senantiasa merasa aman dari siksa [balasan dari perbuatan mereka] serta hari kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak/tiba-tiba,12:107.

 

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami, sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Al-Isra’,17:1.

 

Dalam ayat ini Allah Swt memperlihatkan kekuasaan-Nya untuk diyakini oleh setiap mukmin, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin termasuk memperjalankan Hamba-Nya Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha bahkan sampai ke Sidratil Muntaha. Akal manusia mengatakan hal tersebut tidak mungkin, ini berarti Allah ingin meluruskan persepsi manusia tentang kekuasaan Allah, dengan kata lain jangan batasi kekuasaan Allah dengan sempitnya kemampuan nalar manusia.

 

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca, “katakanlah” Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul 17:93.

 

Tantangan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad Saw dalam ayat diatas dan beberapa ayat sebelumnya memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka mempersamakan nabi dengan Tuhan atau sebaliknya. Hal ini bisa dilihat dari ayat 91 mereka meminta nabi untuk mengalirkan sungai-sungai di celah kebun korma dan anggur. Ayat 92 mereka meminta pembuktian kenabian dengan cara nabi menjatuhkan langit berkeping-keping, bahkan yang lebih parah lagi mereka meminta nabi untuk mendatangkan Allah dan para Malaikat agar bertatap muka dengan mereka. Awal ayat 93 mereka meminta nabi untuk naik kelangit dan turun dengan membawa kitab untuk mereka baca. Bukankah hal ini terang-terangan memperlihatkan bahwa konsep Tuhan mereka sangat kacau. Mereka tidak bisa membedakan antara rasul dengan Tuhan. Padahal tidak satupun yang serupa dan menyamai Allah Swt termasuk rasul sekalipun. Itu sebabnya rasul meluruskan persoalan ini dengan kalimat indah dan tepat, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul akhir ayat 93.

 

Dan mereka berkata “Maha Suci Tuhan kami”, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi 17:108.

 

Ayat 107 surat ini Allah mengatakan bahwa berimanlah kamu kepada al-Quran atau tidak usah beriman. Karena beriman atau tidak sama saja bagi Allah, Dia tidak mengambil keuntungan dari keimanan kalian. Bahkan untung rugi setiap perbuatan kalian kembali kepada diri kalian sendiri. Berarti tasbih dalam ayat ini adalah bahwa tidak punya kepentingan terhadap keimanan manusia.

 

Sekiranya ada dilangit dan dibumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu rusak binasa, maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan 21:22.

 

Apakah tuhan-tuhan yang mereka ambil dari bumi dapat menghidupkan orang yang telah mati ayat 21. yang bisa menghidupkan dan mematikan hanyalah Allah Swt, inilah yang ingin ditasbihkan.

 

Allah sama sekali tidak punya anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan lain beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu 23:91.

 

Bantahan sekaligus meluruskan sikap kaum musyrikin dalam ayat diatas dan beberapa ayat sebelumnya sangat jelas, misalnya mereka mengetahui siapa pemilik semua yang ada di bumi ini, tetapi mereka tidak ingat ayat 84-85. mereka juga mengetahui siapa pemilik langit dan ‘Arasy yang besar, tetapi mereka tidak bertaqwa ayat 86-87. siapakah yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan lagi melindungi, dan tidak ada yang dapat melindungi dari azab-Nya, mereka menjawab kepunyaan Allah, maka dari jalan manakah kamu ditipu ayat 88-89. semua hal diatas merupakan bantahan terhadap sikap kaum musyrikin.

 

Awal ayat 91 meluruskan pandangan dan konsep ketuhanan mereka, Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan-tuhan lain bersama-Nya.

 

Dan Maha Suci Allah Tuhan semesta alam, 27:8.

 

Tasbih dalam ayat diatas untuk meyakinkan nabi Musa akan kekuasaan Allah Swt. Dalam ayat sesudahnya Allah berfirman “Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” ayat 9.

 

 

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan, 28:68.

 

Menciptakan dan memilih sesuatu adalah hak mutlak Tuhan, manusia dituntut ikhlas dan ridha terhadap apapun yang telah dipilihkan untuknya. Dan ingat apa yang telah Allah pilihkan untuk manusia itulah yang terbaik, karena Dia maha Mengetahui lagi Bijaksana.

 

Dia juga mengetahui apa yang disembunyikan dan yang ditampakkan ayat 69. tidak ada yang berhak disembah selain Allah, bagi-Nya segala puji dunia dan akhirat, segala ketentuan ada pada Allah dan kepada-Nya kalian akan dikembalikan ayat 70.

 

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,30:17.

 

Menciptakan dan mengembalikannya adalah kuasa sang Khaliq. Pada hari kiamat berhala-berhala yang mereka sembah tidak dapat memberikan pertolongan dan mereka pada waktu itu akan mengingkari berhala tersebut. Manusia pada hari kiamat akan terbagi bergolong-golongan, orang beriman dan beramal shaleh akan bergembira di dalam syurga, sementara orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat al-Quran dan mengingkari pertemuan di hari akhir akan kekal dalam siksa neraka ayat 11-16.

 

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang telah ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui, 36:36.

 

Tasbih dalam ayat diatas untuk mensucikan pandangan mereka terhadap Allah dari segala sifat kekurangan. Allah yang mereka ingkari tersebut adalah zat yang telah menciptakan segala tumbuhan dan menumbuhkan buah-buahan dengan cara menciptakan pasangan bagi masing-masing. Dialah zat yang memiliki sifat dan perbuatan yang sempurna, salah satu kesempurnaan tersebut adalah Ia menciptakan segala sesuatu seluruhnya serba berpasang-pasangan. Baik yang ditumbuhkan oleh bumi, dari diri mereka dan apa-apa yang tidak mereka ketahui. Kata kullaha yang berarti seluruhnya dan wa mimma laa ya’lamun, dari apa-apa yang tidak mereka ketahui, pengertian dari akhir ayat ini lebih memperluas lagi cakupan makna pasangan-pasangan tersebut. Sehingga ia tidak hanya terbatas pada tumbuh-tumbuhan semata.

 

Diantara hal-hal yang difahami sebagai berpasangan adalah: laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, siang dan malam, baik dan buruk, susah senang, hidup mati, panjang pendek, besar kecil, dunia akhirat, syurga neraka, positif negative dan banyak lagi yang lainnya.

 

Kesempurnaan dan kekuasaan justru lebih terlihat dengan adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu serba berpasangan. Bukankah dalam Asma al Husna kita dapati hal yang berpasangan tersebut, misalnya al-Qaabidhu dan al-Baashith, yang menyempitkan dan melapangkan, bila Asma-Nya seperti itu maka perbuatan-Nyapun menggambarkan demikian.

 

Maka Maha Suci Allah yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan, 36:83.

 

Ini adalah tasbih kedua dalam surat Yasin, dalam ayat ini Allah ingin mengingatkan Rasul dan umat Islam umumnya, bahwa dalam berdakwah tidak selamanya hasil sesuai dengan yang diharapkan justru sering sebaliknya, keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha bijaksana akan menjadi spirit dalam menghadapi berbagai hal yang bertolak belakang dengan keinginan. Semangat tersebut tentu sangat tergantung kepada amal dan perbuatan yang di lakukan. Ketika ketaatan meningkat maka ketika itu pula harapan kepada Allah semakin kuat. Ayat ke 76 surat yasin mengingatkan jangan ucapan mereka menyebabkan kamu bersedih.

 

Ayat 77-79 menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan manusia dan membangkitkan kembali setelah kematiannya, ini untuk meyakinkan manusia bahwa mengadakan dari tidak ada [menciptakan] sangatlah mudah bagi Allah, apalagi membangkitkan sesuatu yang pernah ada, tentu jauh lebih mudah.

 

Segala sesuatu sangat mudah bagi Allah karena Ia Maha Kuasa. Tasbih ayat terakhir surat yasin ini untuk membuang jauh-jauh keraguan orang terhadap kekuasaan Allah karena ditangan-Nyalah kekuasaan, dan segala sesuatu akan dikembalikan kepada-Nya.

 

Maha Suci Allah terhadap apa-apa yang mereka sifatkan,37:159.

 

Kembali kita saksikan betapa kacaunya pandangan dan konsep mereka tentang Tuhan, mereka berkata bahwa tuhan mempunyai anak, lebih dari itu Tuhan menurut mereka punya anak laki-laki dan perempuan, yang lebih rancu lagi adalah, mereka mengadakan hubungan nasab antara Tuhan dengan jin. Itu sebabnya ayat 159 diatas mengatakan Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.

 

Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakana,37:180.

 

Rasul dan orang-orang yang beriman harus meyakini dengan seyakin-yakinnya akan kebenaran janji Allah, termasuk menolong siapapun yang menjadi hamba-Nya.  Meyakini kebenaran Janji Allah, berarti bertasbih kepada-Nya.

 

Supaya kamu duduk di punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhan, apabila kamu telah duduk diatasnya, kamu berkata Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, Az-Zukhruf 43:13.

 

Kaum musyrikin ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi?, niscaya mereka akan menjawab, Allah. Tetapi mengapa mereka justru menyembah berhala. Allah menciptakan bumi untuk menetap dan membuat jalan-jalan diatas bumi supaya kalian mendapat petunjuk.Yang menurunkan air dari langit menurut kadar yang diperlukan, lalu Kami hidupkan dengan air tersebut bumi yang tandus, seperti itulah kalian akan dikeluarkan dari kuburan. Dia juga yang menciptakan semuanya berpasang-pasangan dan menjadikan untuk kalian kapal dan binatang ternak untuk ditunggangi. Inilah tasbi yang dikokohkan oleh ayat ke13 surat  az-Zukhruf ini.

 

Maha Suci Tuhan yang mempunyai langit dan bumi, Tuhan pemilik ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan itu, az-zukhruf 43:82.

 

Jika Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah [Nabi Muhammad] yang pertama memuliakan [anak itu]. Dialah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui, pemilik kerajaan langit dan bumi dan yang ada diantara keduanya, di sisi-Nya pengetahuan tentang kiamat dan kepada-Nya kalian dikembalikan.

 

Sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at. Kalau mereka ditanya siapakan yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab “Allah” maka bagaimana mereka di palingkan.

 

Ataukah mereka mempunyai sembahan selain Allah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan, ath-Thur 52:43.

 

Muhammad tetaplah engkau memberi peringatan, karena engkau bukan tukang tenung dan bukan pula orang gila. Kaum musyrikin berkata bahwa nabi seorang penyair, katakanlah kepada mereka apakah pikiran mereka yang memerintahkan mereka untuk mengucapkan tuduhan ini atau mereka kaum yang melampaui batas. Mereka mengatakan bahwa [Nabi Muhammad] yang membuat al-Quran, sebenarnya mereka tidak beriman. Kalau mereka benar hendaklah membuat kalimat yang semisalnya, jika mereka benar.

 

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu atau mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri], atau mereka kah yang menciptakan langit dan bumi, sebenarnya mereka tidak yakin dengan ucapanya sendiri. Atau disisi mereka punya perbendaharaan Tuhan, atau mereka yang berkuasa, ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak laki-laki, atau kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereke dibebani hutang, apakah mereka memiliki pengetahuan yang ghaib lalu mereka menuliskannya, atau mereka hendak melakukan tipu daya, maka mereka itulah yang kena tipu daya, ayat 29-43.

 

Dialah Allah yang tiada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia. Raja yang Maha Suci, yang Maha Sejahtra, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan,al-Hasyr 59:23.

 

Dalam ayat 23 diatas Allah Swt menjelaskan Asma dan Sifat-Nya, untuk difahami dan diyakini. Diantaranya Dialah Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak untuk di sembah selain-Nya, mengetahui yang ghaib dan nyata, Maha Pengasih lagi Penyayang, Raja yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Mengaruniakan keamanan, Maha Memelihara, Maha perkasa, Maha Kuasa yang memiliki segala keagungan maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, pemilik Asma al Husna, semua yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.Memahami dan meyakini Asma Allah diatas serta mengaplikasikan keyakinan tersebut dalam bentuk ucapan, perbuatan dan sikap, inilah Tasbih yang sebenarnya, Al Hasyr 22-24.

 

Maha Suci Tuhan kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim,al-Qalam 68:29.

 

Allah menguji pemilik kebun yang bersumpah bahwa mereka akan memetik hasilnya di pagi hari. Mereka tidak mengucapkan Insya Allah, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, al-Qalam 17-29.

 

Demikianlah al-Quran mengulang kata Subhana dan memperlihatkan kepada betapa kacaunya keyakinan oleh kaum musyrikin. Sengaja penulis memaparkan secara utuh ayat-ayat tersebut dengan harapan agar memperoleh gambaran menyeluruh sekaligus membandingkan kekeliruan tersebut dengan keyakinan yang kita miliki untuk menjadi koreksi dan penguat.

 

MAHA SUCI ENGKAU

 

Berbeda dengan Subhana diatas, kalimat Subhaanaka adalah tasbih yang dilakukan oleh malaikat, para Nabi dan Ulil Albaab. Sementara kata Subhana umumnya adalah ungkapan langsung Allah Swt sebagai bentuk pengajaran tasbih. Agar zat, sifat dan perbuatan Allah tidak dicemari oleh sifat-sifat yang tidak layak dan tidak patut bagi Allah.

 

Ketika nada protes dan menonjolkan diri yang dilakukan oleh malaikat di hadapan Allah Swt, kemudian ia disadarkan oleh Allah dengan cara memberikan tantangan  untuk  menyebutkan nama-nama yang ada di syurga, malaikat terhentak dari kesombongannya dan menyadari akan Pengetahuan dan Kebijaksanaan Allah, seraya berucap “Maha Suci Engkau, kami tidak mempunyai pengetahuan melainkan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.Al-Baqarah:30-32.

 

Inilah tasbih malaikat, yang dapat kita ambil pelajaran darinya adalah adanya PENGAKUAN yang menyertai kalimat Subhaanaka. Pengakuan tersebut terbagi dua, pertama mengakui ketidakmampuannya untuk menjawab tantangan Allah, kedua mengakui kebesaran Allah, yang ‘Alim al-Hakim.

 

Mengingat dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi yang dilakukan oleh Ulil Albaab berujung kepada Tasbih dan permohonan perlindungan dari azab api neraka.

 

سُبْحَنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّاِر

Artinya: Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka, Ali Imran: 191.

Surat al-Maidah ayat 116 Allah Swt berfirman, “dan ingatlah ketika Allah berfirman: Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah”, Isa menjawab:

 

سُبْحَنَكَ مَا يَكُوْنُ لِئ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِئ بِحَقٍّ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِئ نَفْسِئ وَلَا اَعْلَمُ مَا فِئ نَفْسِكَ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

Artinya: Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya], jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib, Al-Maidah;116.

Inilah tasbih Nabi Isa, di dalamnya juga ada PENGAKUAN, mari kita lihat bentuk pengakuan Nabi Isa.

  1. Tidaklah patut bagiku untuk mengatakan sesuatu yang bukan hakku untuk mengatakannya. Pengakuan ini penuh dengan nuansa Ilmu. Yaitu mengetahui apa yang menjadi haknya dan yang bukan, termasuk dalam hal ucapan.
  2. Jika aku pernah mengatakannya maka pastilah Engkau telah mengetahuinya. Nabi Isa menyadari betul bahwa tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan Allah. Berarti Isa mengenal betul siapa Allah, karena kalimat seperti diatas tidak mungkin terlontar tanpa pengetahuan.
  3. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Ini juga pengakuan yang nyata-nyata bermuatan pengetahuan dan pengenalan, kenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
  4. Engkau mengetahui hal-hal yang ghaib.

 

Dan tatkala Musa datang untuk [munajat dengan Kami] pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata: Ya Tuhanku, nampakkanlah [diri Engkau] kepadaku agar aku dapat melihat-Mu, Allah berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap berada ditempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, hancur luluhlah dia dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman, Al-A’raf:143.

Keinginan Musa untuk melihat Tuhan merupakan ketidak kenalannya akan Tuhan. Namun setelah hancurnya gunung dan Ia pingsan barulah Musa sadar bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Kesadaran itulah yang membuat Musa bertasbih dengan berkata, Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu [mengakui kesalahan dan dosaku] dan aku orang yang pertama-tama beriman. Kembali kita lihat tasbih di sertai dengan KESADARAN DAN PENGAKUAN. Itulah Tasbih Nabi Musa.

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah:

 

سُبْحَنَكَ اَلَّلهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ وَاَخِرُ دَعْوَاهُمْ اَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

 

Artinya: Subhaanaka Allahumma [Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami] dan salam penghormatan mereka ialah “Salam” dan penutup doa mereka ialah Alhamdu lillahi Rabbil ‘Alamin [Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yunus:10.

Itulah Tasbih penghuni surga, yang senantiasa melihat segala kesempurnaan, kelebihan dan kebaikan hanya ada pada Allah. Mereka bertasbih disertai dengan kesadaran akan ke-Maha sempurnaan Allah, kesadaran itulah yang menuntun pikiran, hati dan lisannya untuk mengucapkan PUJIAN, Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

 

Sekarang kita lihat bagaimana Nabi Yunus bertasbih. Dalam surat al-Anbiya ayat 87 Allah Swt berfirman:

 

Dan [ingatlah kisah] Dzun Nun [Nabi Yunus], ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan menyulitkannya [karena kemarahan tersebut], maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Sembahan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim, Al-Anbiya:87.

Kesalahan dalam mengira atau menduga tindakan atau perbuatan Tuhan mengantarkan Nabi Yunus kedalam perut ikan, yang dilukiskan al-Quran sebagai zhulumaat [keadaan yang sangat gelap]. Kondisi gelap tersebut kemudian menyadarkan nabi Yunus akan kesalahannya, kesadaran akan kesalahan tersebut membuat Nabi Yunus mengakui kebesaran Allah dengan ucapan Laa Ilaaha illa Anta [tidak ada sembahan kecuali Engkau] dan kemudian bertasbih Subhaanaka [Maha Suci Engkau] selanjutnya diikuti dengan pengakuan diri Inni kuntu minazhzhalimin [sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim]. Ada kesadaran, ada pengakuan akan Allah dan pengakuan siapa dirinya. Itulah Tasbih nabi Yunus.

 

Ingatlah diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut-ke mulut dan kamu katakana dengan mulutmu apa-apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal ia disisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata diwaktu mendengar berita bohong itu: “sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini. Maha Suci Engkau [Ya Tuhan kami], ini adalah dusta yang besar, An-Nuur:15-16.

 

Awalnya mereka [orang-orang mukmin yang ikut menyebarkan berita bohong tentang ‘Aisyah] menganggap kebohongan tersebut sebagai sesuatu yang hayyinan [ringan saja], namun setelah kemudian di ingatkan akan kesalahan tersebut dan mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Kesadaran mereka berujung dengan Tasbih dan juga pengakuan. Yang menarik adalah bahwa pengakuan di sini sedikit berbeda dengan pengakuan pada ayat-ayat sebelumnya, dalam ayat ini yang mereka akui  adalah bahwa berita bohong yang semula mereka kira Hayyinan [ringan] kemudian mereka sadari bahwa itu buhtaanun ‘azhim [kebohongan yang besar]. Itulah tasbih mereka dengan mengakui dan meyakini kebenaran yang ditetapkan oleh Allah Swt.

 

Dan ingatlah suatu hari [ketika] Allah menghimpun mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata [kepada yang disembah] “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirilah yang sesat dari jalan yang benar. Mereka [yang disembah itu] menjawab: Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau [untuk jadi] pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingat Engkau, dan mereka adalah kaum yang binasa, Al-Furqan:17-18. Itulah tasbih sesembahan kaum musyrikin, dengan mengakui siapa dirinya [tidak patut mengambil selain Allah untuk dijadikan pelindung].

 

Dan [ingatlah] hari [yang waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu”. Malaikat-malaikat itu menjawab “Maha Suci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu,Saba’:40-41. Itulah tasbih malaikat, yang senantiasa menyertakan pengakuan dalam tasbihnya, Engkaulah pelindung kami, dan inilah PENGAKUAN tersebut.

 

SIAPA YANG BERTASBIH

 

Terdapat tiga surat dalam al-Quran yang di awali oleh kata sabbaha [dia telah bertasbih]. Ketiga surat tersebut adalah: al-Hadiid, al-Hasyr dan ash-Shaf. Ada apa dibalik ketiga surat yang di awali oleh kata sabbaha tersebut, tentu memerlukan kajian tersendiri untuk dapat menjawabnya. Namun yang jelas dari ayat pertama masing-masing surat tersebut kita memperoleh informasi bahwa semua yang ada di langit dan di bumi telah bertasbih kepada Allah. Bukan hanya itu, bahkan ayat-ayat tersebut diakhiri dengan kata yang persis sama yaitu, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Bila ayat pertama ketiga surat tersebut menyebutkan secara umum bahwa semua makhluk yang ada di langit dan di bumi telah bertasbih kepada Allah, maka rincian dari makhluk-makhluk yang bertasbih tersebut terdapat dalam tujuh ayat al-Quran. Untuk mengetahui siapa saja yang bertasbih menurut ayat-ayat tersebut ada baiknya kita simak penuturan al-Quran, berikut:

 

  1. Guruh dan Malaikat.

 

Allah Swt berfirman, “ dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, [demikian pula] Malaikat karena takut kepada-Nya, Ar-Ra’du:13.

  1. Langit.

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengetahui tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun, Al-Isra’:44.

  1. Orang-orang yang tidak di lalaikan hatinya oleh perniagaan dan jual beli.

 

Bertasbih di dalamnya [masjid] pada waktu pagi dan petang.Laki-laki yang tidak di lalaikan oleh perniagaan dan tidak pula jual beli dari mengingat Allah, dan [dari] mendirikan shalat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang [di hari itu] hati dan penglihatan menjadi goncang, An-Nuur:36-37.

  1. Burung.

 

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan [juga] burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara shalat dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, An-Nuur:41.

  1. Semua yang ada di langit dan di bumi.

 

Dan bertasbih kepada-Nya semua yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Al-Hasyr:24.

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Raja yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, al-Jumu’ah:1.

 

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Hanya Allah yang mempunyai kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, at-Taghaabun:1.

 

bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengetahui tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun, Al-Isra’:44.

 

 

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, An-Nuur:4

BERTASBIHLAH

 

Kata sabbih adalah bentuk perintah yang berarti bertasbihlah, kata ini terulang sebanyak 13 kali dalam al-Quran, yaitu:

 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيْرًا وَسَبِّحْ بَالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Artinya: dan sebutlah [nama] Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari, Ali Imran:41.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِيْنَ

Artinya: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu diantara orang-orang yang bersujud [shalat], al-Hijr:98.

فَاصْبِرْ عَلئَ مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا

Artinya: Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka ucapkan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, Thaha:130.

 

وَمِنْ اَنَاءِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَئ

Artinya: dan dari waktu-waktu malam hari maka bertasbihlah dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, Thaha:130.

 

وَتَوَكَّلْ عَلَئ الْحَيِّ اَّلِذيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَئ بِهِ بِذُنُوْبِ عِبَادِهِ خَبِيْرًا

Artinya: dan bertawakkallah kepada Allah yang Hidup [kekal] yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya, al-Furqan:58.

فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Artinya: maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi, al-Mukmin:55.

فَاصْبِرْ عَلَئ مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ

Artinya: Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakana dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, Qaaf:39.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُ

Artinya: dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun, ath-Thuur: 48.

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

Artinya: Maka bertasbih dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang Maha Besar, Al-Waqi’ah: 74, 94 dan Al-Haaqqah: 52.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلَاعْلَئ

Artinya: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, al-‘A’laa:1.

Demikianlah kata tasbih dengan berbagai bentuk dan pengertiannya. Masih banyak lagi kata-kata tersebut disebutkan dalam al-Quran, namun yang telah penulis paparkan di atas paling tidak memberikan gambaran kepada kita apa, siapa dan bagaimana tasbih tersebut.

 

Selanjutnya kembali kepada ayat 37 surat yasin.

 

وَءَايَةٌ لَهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُظْلِمُوْنَ

Artinya; dan suatu tanda [kekuasaan Allah] bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang darinya, maka tiba-tiba mereka berada dalam kegelapan.

 

Kata ayat di awal ayat 37 ini merupakan yang ke dua dari tiga kali pengulangan kata tersebut dalam surat yasin. Pertama terdapat pada ayat 33, dan diakhiri dengan kalimat “maka apakah mereka tidak bersyukur”. Bila kaum musyrikin Mekkah yang menjadi sasaran awal ayat ini mau membaca ayat-ayat Allah yang paling dekat dengan kehidupan mereka, yaitu bumi yang tandus, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat 33 yang lalu, maka tentulah ayat yang ke dua ini akan mudah pula untuk mereka baca. Tahapan membacanya dimulai dari terdekat dengan mereka, sampai kepada yang jauh.

 

Tanda keberadaan dan keesaan Tuhan yang kedua yang harus di baca adalah, pergantian siang dan malam dan hal-hal yang menyertai pergantian tersebut. Pergantian siang dan malam tidak hanya sekedar perubahan terang menjadi gelap. Lebih dari itu pergantian tersebut punya tujuan, baik yang berhubungan dengan manusia maupun yang lainnya. Yang berhubungan dengan manusia misalnya, Allah menjadikan malam untuk istirahat dan siang untuk berusaha. Istirahat dan berusaha adalah dua hal yang berhubungan dengan pemeliharaan kehidupan manusia itu sendiri. Ini berarti bahwa pergantian siang dan malam adalah bagian dari kasih sayang Allah untuk kemaslahatan manusia. Tidak bisa dibayangkan sekiranya Allah menjadikan seluruh waktu adalah malam atau sebaliknya.

Terjadinya pergantian siang dan malam pada dasarnya merupakan akibat dari perjalanan matahari. Yang menarik disini adalah Allah tidak menyebutkan perjalanan matahari lebih dahulu baru kemudian dampaknya yaitu siang dan malam, melainkan sebaliknya. Pengaruhnya di sebutkan terlebih dahulu baru kemudian yang mempengaruhi. Hemat penulis ini berkaitan dengan tahapan dalam membaca ayat-ayat Allah. Pertama,mulai dari yang terdekat dan yang nyata sampai kepada yang jauh. Kedua, pada umumnya cara berfikir manusia selalu berawal dari dampak/akibat dan bukan penyebab. Misalnya mengapa ia batuk, ternyata setelah dicari penyebabnya baru terjawab. Dia batuk karena debu. Untuk cara berfikir orang awam, kalau tidak ada yang batuk niscaya sampai hari ini tidak akan di ketahui bahwa debu bisa menimbulkan batuk.

 

Allah melalui ayat diatas mempergunakan cara ini. Dengan adanya gelap mereka akan mencari penyebabnya. Itu sebabnya ayat 38 berbunyi:

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِئ لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

Artinya: dan matahari beredar pada garis edarnya. Itulah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui

Kata Mustaqarr dalam ayat diatas mempunyai pengertian, antara lain:

 

  1. Waktu yang terbatas, suatu masa yang ditentukan, seperti dalam surat Al-An’am;67.
  2. Tempat istirahat atau tempat tinggal, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah:36.

 

Dalam lingkungan masyarakat sederhana seperti yang di dapati oleh al-Quran ketika itu, pemilihan kata mustaqarr sangat tepat dan bijak. Sehingga mudah untuk mereka fahami dengan tingkat pemahaman yang sederhana tentunya. Ketika matahari terbenam dan tidak menampakkan dirinya maka mereka berkata bahwa matahari menetap di suatu tempat dan beristirahat untuk besok muncul kembali. Pengertian mustaqarr bagi masyarakat maju tentu tidak demikian.

 

Itulah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, penyandingan kedua Asma diatas dan hubungannya dengan peredaran Matahari adalah sangat jelas. Keteraturan terbit dan terbenamnya serta dampat yang di munculkan oleh kehadiran atau ketidak hadirannya tidaklah mungkin di lakukan tanpa keperkasaan dan pengetahuan. Itulah barangkali mengapa di masyarakat jahiliyah ada diantara mereka yang menyembah matahari. Karena melihat kehebatan matahari, dan bukan yang menciptakannya. Ini disebabkan karena cara berfikir yang salah, yang hanya mampu melihat yang nyata dan jelas tanpa melihat adanya sesuatu di balik yang nyata tersebut.

 

Dari ayat 33 secara tidak langsung Allah mulai meluruskan cara berfikir kaum musyrikin Mekkah, dengan cara memerintahkan mereka untuk membaca ayat berupa bumi yang tadinya tandus kemudian menjadi subur dan menumbuhkan korma dan anggur. Diharapkan hasil dari pembacaan ayat-ayat kauniyah seperti ini berujung kepada kesimpulan bahwa ada yang menghidupkan bumi yang tandus tersebut. Untuk kemudian mencari tahu siapa yang menghidupkan tersebut.

 

Bila berfikir seperti ini di teruskan kepada peredaran matahari, niscaya ke kaguman mereka kepada matahari akan sirna bila melihat siapa yang menciptakan dan mengatur matahari tersebut.

 

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّئ عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ

Artinya: dan bulan Kami telah menetapkan manzilah-manzilahnya hingga ia kembali seperti tandan yang sudah tua.

Setelah diajak untuk melihat matahari, kembali Allah mengajak kita untuk melihat bulan. Sebagaimana matahari yang beredar pada garis edarnya, bulanpun Allah tetapkan manzilah-manzilahnya. Manaazil atau manzilah-manzilah tersebut adalah tempat-tempat yang di lalui oleh bulan. Mulai dari kecil sampai bulan sabit, kemudian purnama dengan sinarnya yang indah sampai kemudian terlihat kecil kembali. Yang dalam bahasa yasin disebut sebagai ‘urjuunil qadiim/tandan yang sudah tua.

 

Kata ‘urjun/tandan akan mengingatkan kita kepada tanaman kelapa atau korma. Bagi orang Arab kata tersebut tentu tidak asing, karena korma tumbuh dan banyak di dapat ditempat mereka. Ini berarti Allah kembali mengajak terutama kaum musyrikin Mekkah ketika itu, untuk melihat sesuatu yang jauh dengan mengambil sample dari sesuatu yang terdekat dengan kehidupan mereka.

 

Pengumpamaan sesuatu yang dekat untuk memahami yang jauh, hemat penulis untuk menimbulkan zuaq/rasa. Sehingga mudah membekas dalam hati. Tentunya ini kesan paling sederhana yang harus di dapati dari setiap ayat yang dibaca.

 

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِئ لَهَا اَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِئ فَلَكِ يَسْبَحُوْنَ

Artinya: tidaklah mungkin bagi matahari mendapati bulan dan malam mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Matahari dan bulan melintasi daerah zodiac, dan gerakan masing-masing keduanya berbeda, keduanya tidak pernah saling menyusul atau saling mendahului. Apabila matahari dan bulan berada di sisi yang sama dan segaris dengan bulan, maka akan terjadi gerhana matahari. Sebaliknya, bila bulan dan matahari berada pada sisi yang berbeda dalam satu garis, maka akan terjadi gerhana bulan, tetapi tidak ada benturan antara keduanya.

 

Di sini, telah berlaku hukum Ilahi bagi bulan dan matahari. Apabila dalam suatu masa misalnya hari kiamat, bulan mulai meninggalkan bumi untuk bergabung dengan matahari [al-Qiyaamah 75:8-9]. Maka ini pertanda bahwa bulan dan matahari sudah tidak berada dalam posisinya masing-masing.

December 18, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: