Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

DIMANA HABIB AN-NAJJAR SEKARANG


DIMANA HABIB AN-NAJJAR SEKARANG
[Habib si tukang kayu]

Habib an-Najjar adalah seorang lelaki mukmin yang namanya dapat ditemukan dalam berbagai kitab Tafsir yang membahas tentang surat Yasin, tepatnya ayat 20 sampai 27. Siapa sebenarnya sosok si Habib dan prestasi apa yang dia lakukan sehingga Allah mengabadikan namanya. Untuk menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut mari kita telusuri kisahnya dalam surat Yasin.

Siapa Habib an-Najjar.

“ dan telah datang seorang laki-laki dari ujung kota ia berjalan dengan bergegas, dia berkata: wahai kaumku ikutilah oleh kalian utusan-utusan itu”[QS.Yasin:20]

Oleh sementara ulama termasuk Ikrimah dan Musthafa al-Maraghi seorang lelaki yang disebutkan dalam ayat diatas adalah Habib an-Najjar.Yang berprofesi sebagai tukang kayu [an-Najjar].Al Suddi menambahkan bahwa tubuhnya pendek. Qatadah menambahkan lagi, ia adalah seorang Abid [ahli ibadah] yang melakukan ibadah dan tafakkurnya didalam sebuah gua. Ibnu Abbas menerangkan bahwa laki-laki itu adalah Habib an-Najjar, Habib yang berprofesi sebagai tukang kayu.

Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan sebagai berikut:

Diriwayatkan bahwa laki-laki itu bernama Habib. Ia adalah seorang tukang kayu. Sedangkan menurut Ibnu Abi Laila, katanya, “orang-orang yang bersegera dari rumah ada tiga, mereka tidak pernah kafir sekejap pun, yaitu Ali bin Abi Thalib, pemilik surat Yasin [Habib] dan orang yang beriman diantara keluarga Fir’aun.

Dari uraian diatas kita dapat simpulkan bahwa lelaki yang disebut dalam ayat ke 20 surat Yasin itu adalah Habib an-Najjar, yang berprofesi sebagai tukang kayu bertubuh pendek dan ahli ibadah. Oleh Ibn Abi Laila disebut sebagai pemilik surat Yasin.

Terlepas siapa pun dia, yang jelas bukan karena profesinya ia diabadikan namanya oleh Allah. Namanya diabadikan pastilah karena sesuatu yang sangat istimewa, dan tentunya keistimewaan tersebut diharapkan dapat diteladani oleh orang-orang yang membaca surat yasin khususnya dan siapa saja yang mempelajari perjalanan kehidupannya. Apa yang special dari sang Habib mari kita simak yasin menuturkannya.

Panggilan fithrah membela kebenaran.

Ketika utusan-utusan Allah [al-Mursalun] yang diutus ke negeri Antiokhiah di wilayah Suriah sekarang menghadapi ancaman serius bahkan ancaman rajam dan siksa yang pedih [Yasin:13-19]. Saat itu pula Allah mengirim Habib an-Najjar yang datang dengan bergegas dari tempat yang jauh [ujung kota/aqshal madinah] untuk membela dakwah para rasul tersebut [Yasin:20]

Dahsyatnya sebuah keikhlasan.

Ikhlas adalah sebuah kekuatan yang menyimpan energi luar biasa. Energi tersebut tidak berkurang meskipun harus menempuh jarak jauh. Ini lah episode kekuatan energi ikhlas yang di perlihatkan oleh seorang Mukhlis Habib an-Najjar. Kampung halaman dan juga mungkin keluarga ia tinggalkan demi sebuah panggilan suci membela kebenaran. Jarak jauh dia jalani untuk menggapai ridha Ilahi. Semuanya terasa ringan karena inisiatif keikhlasan.

Tidak ada yang mengundangnya untuk datang dan membela rasul kecuali undangan fithrah dan keimanan. Tidak ada biaya transport karena dia datang atas inisiatif sendiri. Tidak ada jadwal kunjungan ke kota karena dia hanya seorang tukang kayu. Tidak ada acara protokoler penyambutannya karena ia bukan ustadz, camat atau pejabat apalagi ningrat. Ucapannya tidak dikonsep karena ia datang dari hati bukan lisan basa-basi. Tidak manggut-manggut dan memperkenalkan diri kepada utusan-utusan yang dibelanya, karena dia tidak sedang mencari simpati apalagi cari muka [carmuk].

Hanya keikhlasan modalnya, kebenaran yang dibelanya dan ridha ilahi tujuannya. Itulah si tukang kayu, yang mengenal betul profesinya dan dia tahu bahwa profesi tersebut tidak akan membuatnya terpuji dan mulia sehingga ia berusaha terus menerus untuk memberdayakan modal awal pemberian Tuhan yaitu fithrah. Hasilnya, profesi apapun yang terbaik saat ini tidaklah pantas disejajarkan dengan Habib si tukang kayu.

Yas’a/ ia berjalan bergegas [yasin:20] dan dia tidak menunda-nunda waktu, karena ia memahami betul hakikat waktu yang terus berjalan dan tidak pernah menunggu. Ia juga memahami betul hakikat sebuah kesempatan, karena biasanya kesempatan tersebut tidak datang dua kali. Ia faham betul peluang ibadah, disaat orang lain tidak memanfaatkan peluang tersebut. Pengetahuannya tentang keutamaan jihad menyebabkan zikir di gua ia tinggalkan. Keterasingannya di ujung kota menjadikan ia orang yang memiliki kepekaan dan merdeka. Pekerjaannya sebagai tukang kayu membuatnya menjadi orang yang ikhlas dan tidak pamrih. Pengasingan dirinya didalam gua menjadikan ia jeli dalam melihat suatu masalah. Hebat si Habib, kami malu kepadamu.

Keberpihakannya kepada kebenaran

Ya Qaumi ittabi’u al Mursalin, wahai kaumku ikutilah oleh kalian rasul-rasul itu. Kebenaran yang diusung para utusan tersebut adalah kecendrungan fitrah yang pada awalnya di titipkan Tuhan pada setiap insan. Kebenaran yang menembus batas- batas ke- sukuan, kebangsaan, kelompok, dan firqah. Dia tidak melihat siapa utusan-utusan tersebut, yang dilihatnya adalah kebenaran yang mereka sampaikan. Ketenangannya terusik ketika kebenaran itu diusik. Inilah orang fithrah yang kefithrahannya tidak dibelenggu oleh bendera partai, tidak diredupkan oleh organisasi keagamaan, apalagi belenggu kepentingan. Kepentingannya hanya satu kebenaran harus ditegakkan. Indahnya prinsif hidup si Habib, kami salut kepadamu.

Fahami dan lakukan tindakan yang tepat.

Ittabi’u man la yas-alukum ajran wahum muhtaduun, ikutilah oleh kalian orang yang tidak mengharapkan imbalan dan mendapat petunjuk. Al-quran tidak menyebutkan hubungan antara si Habib dan utusan Tuhan tersebut, sehingga dengan hubungan tersebut ia memperoleh pengetahuan tentang mereka. Namun dari materi pembelaannya, memperlihatkan bahwa Habib kenal betul dengan mereka. Pertanyaannya dari mana si Habib mendapatkan pengetahuan tentang rasul tersebut? Habib mengenal rasul dari ciri dan cara mereka berdakwah. Kegigihan para rasul tersebut menjawab hinaan, tuduhan bahkan ancaman membuktikan sinyal keikhlasan sebagai pembawa risalah.

Saat ini banyak orang berkata bahwa sulit untuk membedakan orang yang ikhlas dan tidak, terlebih lagi di arena dakwah. Tapi bagi Habib dan orang-orang yang peka membaca ayat-ayat kauniyah Tuhan serta menghubungkannya dengan ciri dan cara yang tampak, maka niscaya jelas sekali beda keduanya.

Ikutilah orang yang tidak pamrih dan mendapat petunjuk.

Si Tukang Kayu juga mengenal betul karakter masyarakat kota yang dihadapinya. Berbekal pengetahuan itu habib mengambil langkah-langkah strategis dalam dakwah. Ketika berhadapan dengan orang yang berfikiran serba materi dan mengukur orang lain dengan ukuran mereka, maka hal pertama yang dilakukan Habib adalah mengklarifikasi serta meluruskan masalah yang sesungguhnya. Karena ini sangat penting, bila klarifikasi tidak dilakukan maka akan lahir kesalahfahaman. Dakwah tidak akan pernah berjalan dengan baik bila antara dai [orang yang berdakwah] dan mad’u [yang jadi sasaran dakwah] tidak saling memahami satu dengan yang lain.

Ikutilah oleh kalian orang yang tidak mengharapkan imbalan. Bagi penduduk Antiokhiah dalam hidup ini tidak ada yang gratis, sehingga siapapun yang berbuat sesuatu pasti bermuara pada fulus, mereka menilai orang lain seperti itu karena itu prinsip dan keyakinan serta standar perbuatan mereka. Dakwah tidak akan nyambung bila aroma kecurigaan tidak dilenyapkan. Inilah yang dilakukan Habib. Seakan Habib berkata kepada penduduk negeri, wahai kaumku, ikutilah oleh kalian rasul-rasul ini, karena mereka tidak mengharapkan imbalan kalian, mereka tidak sedang mencari dukungan, mereka tidak mencari popularitas, mereka tidak mau bikin kelompok baru, kepentingan mereka adalah menyampaikan kebenaran yang diamanahkan Tuhan kepada mereka. Balasan yang dijanjikan Tuhan membuat mereka tidak tertarik kepada apa yang dijanjikan oleh manusia apapun bentuk dan berapapun jumlahnya. Dimana Habib sekarang ?

Wahum muhtaduun, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Salah satu makna dakwah adalah mengajak. Bagaimana mengajak orang berenang bila kita takut dengan air. Seekor kuda tidak akan mau nyebur ke kali bila di dorong dari belakang, ia akan ikut masuk kedalam air bila ditarik dari depan. Bagaimana menebar hidayah, bila hidayah sebatas hafalan lisan, bagaimana hati bisa tersentuh bila retorika yang diperindah. Habib kenal betul ciri-ciri orang yang dapat hidayah dan tidak, sehingga habib tidak gampang di tipu dengan indahnya sorban. Tidak pamrih dan dapat hidayah adalah dua alasan utama menurut Habib seseorang harus di ikuti

Kritikan halus dengan menjadikan diri sendiri sebagai contoh

Wama lia la a’budu allazi fatharani, mengapa aku tidak menyembah zat yang telah menciptakan aku. Sebuah kalimat pengakuan di dalamnya tersirat kritikan dan ajakan. Pengakuan singkat Habib ini diucapkan dihadapan penduduk Antiokhiah yang menyembah berhala. Sebuah pengakuan yang memberikan rangsangan agar orang berfikir. Dengan bahasa lain seakan Habib berkata, aku tidak pantas menyembah sesuatu yang tidak menciptakan aku, apalagi bila yang disembah tersebut justru manusia yang membuatnya. Habib tidak sedang mengatakan bahwa sembahan Antiokhiah itu salah, dia hanya mengajak mereka berfikir, dan berharap hasil pemikiran mereka akan bermuara pada kesimpulan bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah ternyata salah karena bukan pencipta. Hebat benar ya Habib, sekarang susah untuk mencari Habib an-Najjar yang merangsang orang berfikir.

Tidak ada alasan untuk tidak menyembah Zat yang telah menciptakan aku. Ini sama maknanya dengan aku tidak memiliki satu alasanpun untuk menyembah sesuatu yang bukan pencipta. Allazi fatharani, [yang telah menciptakan aku]. Kata aku yang di pergunakan oleh Habib di sini bermakna semua yang sama dengan aku [manusia], bukankah penduduk Antiokhiah juga manusia, berarti Tuhan yang menciptakan mereka sama dengan Tuhan yang menciptakan Habib.

Begitu halus cara Habib mengkritik sikap penduduk Antiokhiah dan apa yang mereka sembah. Suatu cara yang tidak mungkin datang sendiri tanpa mengetahui latar belakang dan karakter orang yang di dakwahi. Habib bukan seorang sosiologi atau antropologi lulusan perguruan tinggi terkenal, dia hanyalah orang yang menimba kedua ilmu tersebut dalam sebuah gua. Kesendiriannya di pergunakan untuk mengenal diri, alam, lingkungan dan Tuhan. Di gua ia membekali diri dengan pengetahuan dasar, yang mutlak harus di ketahui siapapun yang mendambakan penunaian misi kekhalifahannya dengan sempurna. Dengan kebersahajaannya ia punya misi yang sangat mulia menyangkut hubungannya dengan Tuhan, alam dan manusia. Sebuah misi yang nyaris punah dari bumi pertiwi. Hasilnya ia jadi orang yang luar biasa dengan ilmunya yang sederhana.Dengan bekal itulah Habib terjun kedalam kancah kehidupan nyata, dan ternyata memperoleh hasil luar biasa. Itulah Habib yang dakwahnya berorientasi kepada hasil. Dan konsep keberhasilan Habib jelas, yakni mendambakan perubahan, dan bukan materi apalagi memperkaya diri sendiri. Dimana Habib an-Najjar sekarang ?. Indonesia membutuhkanmu Bib.

Wa ilaihi turja’uun, dan kepada-Nya [yang menciptakan aku] kalian semua akan dikembalikan. Dalam al-Quran 19 kali kata tersebut di ulang, keseluruhannya memiliki kesan negatif. Kebanyakan ia digunakan ketika berhadapan dengan orang fasiq, musyrik dan kafir. Bahkan orang-orang musyrik menginginkan agar di panjangkankan umur sampai seribu tahun supaya mereka terhindar dari azab. Dari keinginan tersebut memperlihatkan bahwa mereka tidak mungkin dengan kesadaran sendiri mau kembali kepada Allah, karena mereka meyakini kehidupan adalah yang sekarang di dunia, dan apa yang dimilikinya saat ini [didunia] lebih baik dari apa yang akan ia hadapi nanti di akhirat. Bagi orang-orang seperti ini mereka harus di usir keluar dari dunia atau dalam bahasa al-Quran, kepada-Nya kalian akan dikembalikan.

Cara indah dalam mengkritisi

A attakhizu min duunihi aalihah, pantaskah aku mengambil/menjadikan selain-Nya [yang menciptakan aku] sebagai tuhan-tuhan? Sebuah pertanyaan untuk menjebak lawan bicara, karena jawabannya secara tidak langsung sudah ditentukan. Pertanyaan ini merupakan lanjutan dari cara berfikir yang memiliki pola seperti diatas, sangat tepat dan efektif dalam mematahkan konsep ketuhanan kaum musyrikin. Jawabannya sudah jelas, yaitu tidak pantas. Jebakannya terletak pada, pertama bahwa yang mengatakan tidak pantas tersebut bukan Habib, tetapi jawaban mereka sendiri. Bila yang mengatakan hal tersebut adalah Habib bisa di pastikan mereka tersinggung dan marah. Kedua, bila si tukang kayu saja tidak pantas, apalagi orang kota yang konon lebih berpendidikan. Habib mengerti bahwa orang yang menganggap dirinya lebih baik, berarti sombong. Dan orang sombong itu gengsinya tinggi. Itu sebabnya Habib memunculkan pertanyaan yang bisa mengusik rasa gengsi dan harga diri mereka. Dengan harapan agar mereka malu dan berusaha keluar dari keadaan mereka sebelumnya. Mantab Habib, andai saja kita punya banyak orang seperti Habib. Yang tidak sibuk menebar pesona, dan merekrut jama’ah. Ketiga, dan inilah sebenarnya tujuan utama Habib. Pertanyaan diatas bila diubah menjadi pernyataan tegas seakan Habib berkata: “tuhan-tuhan kalian tidak pantas untuk di sembah, karena tuhan-tuhan tersebut bukan pencipta” Kembali kita melihat kecerdasan seorang tukang kayu, pintar menentukan cara dalam berdakwah dan tepat dalam memilih kata-kata, tidak vulgar apalagi kasar.

In yuridni ar-Rahman bi dhurrin, jika yang Maha Pengasih menghendaki kemudharatan untukku. Dalam kalimat singkat Habib mampu menyampaikan dua hal penting. Pertama, memperkenal Tuhan yang menciptakannya yaitu ar-Rahman. Bukankah Allah memiliki 99 Asma al-Husna, mengapa Habib tidak memperkenalkan Tuhan kepada mereka dengan Asma-Nya al-Jabbar misalnya. Karena Habib pintar komunikasi masa, dimana kesan jadi kesimpulan dan pencitraan jadi prioritas. Habib menyebutkan ar-Rahman supaya Asma tersebut paling duluan mengisi hati dan pikiran penduduk kota tersebut. Dengan harapan mereka tidak salah dalam menilai Tuhan. Itulah bentuk tasbihnya sang Habib, yakni meluruskan persepsi yang keliru tentang Tuhan. Bertolak belakang dengan yang kita saksikan saat ini, dimana tasbih hanya diterjemahkan dengan ucapan Subhaanallah semata, sementara kata-kata azab, murka, dan kutukan senantiasa disandingkan dengan Tuhan, bukankah sifat ar-Rahman dan ar-Rahim lebih banyak diulang-ulang dalam al-Quran. Dan bukankah Allah Swt berfirman bahwa rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Bukankah dalam al-fatihah berulang kali Allah memperkenalkan diri-Nya dengan ar-Rahman dan ar-Rahim.

Kedua, orang-orang musyrik mengenal ar-Rahman, tetapi dengan pengenalan yang keliru. Mereka terlalu mengandalkan kasih sayang Tuhan tanpa menghubungkannya dengan perbuatan mereka. Betul Tuhan maha Penyayang, tetapi kita mau disayang Tuhan dengan cara apa. Karena aplikasi Rahman itu bermacam-macam. Sebuah ilustrasi misalnya. Orang tua yang sayang kepada anaknya, suatu ketika si anak berbuat salah, apakah orang tua yang sayang kepada anak tersebut hanya diam menyaksikan si anak berbuat salah, atau malah menegurnya. Jelas orang tua menegurnya. Ini bukti kalau orang tua tersebut sayang kepada anaknya. Sayang dengan memberikan teguran. Teguran tersebut bukan tujuan ia hanyalah cara. Tujuannya adalah agar dengan teguran tersebut mereka sadar dan kembali kepada kebenaran. Ini barangkali yang ingin disampaikan oleh Habib, tujuannya jelas supaya mereka tidak keliru menilai Tuhan. Salah dalam menilai dan mempersepsi sesuatu akan berdampak kepada salah dalam menyikapi dan memperlakukan sesuatu tersebut.

Bantahan yang tepat dan mendasar.

Laa tughni ‘anni syafa’atuhum syaian wa laa yunqizun. Tidak berguna bagiku pertolongan mereka sedikitpun dan mereka [tuhan-tuhan] tidak bisa menyelamatkan. Dalam sejarah perjalanan manusia mencari Tuhan, pada dasarnya segala sesuatu yang mereka anggap sebagai tuhan, pastilah sesuatu yang mereka yakini bisa memberikan kebaikan dan mampu menghindarkan mereka dari hal-hal yang tidak di inginkan. Bila hal ini dihubungkan dengan potongan ayat diatas, maka berarti bahwa adalah sia-sia dan bahkan keliru bila menyembah sesuatu yang tidak bisa menghindarkan umatnya dari kemudharatan dan tidak mampu mendatangkan keselamatan. Dengan kata lain seakan Habib berkata bahwa tuhan yang selama ini kalian sembah tidak akan mampu menolak kemudharatan bila ar-Rahman menghendakinya.

Pukul anak sindir menantu.

Inni izan lafi dhalaalin mubin, sesungguhnya aku jika demikian sungguh benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Wahai penduduk Antiokhiah jika aku menyembah tuhan yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan maka benar-benar aku dalam kesesatan yang nyata. Ada pepatah melayu Riau khususnya yang berbunyi: Pukul anak sindir menantu, pepatah ini bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada menantu yang berbuat salah, tetapi caranya dengan memukul anak sendiri, dengan harapan agar si menantu berfikir. Dan memperbaiki kesalahannya.

Apa yang di lakukan oleh Habib an-Najjar hemat penulis sama seperti pepatah di atas. Habib seakan berkata bahwa kalian benar-benar telah berbuat kesesatan yang nyata dengan menyembah sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat apa-apa. Habib tidak memilih kata-kata ini karena walaupun sepintas terkesan sama, namun sesungguhnya sangat berbeda, apalagi dalam konteks dakwah. Dakwah semestinya tidak hanya di fahami dalam arti menyampaikan kebenaran, namun yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana caranya agar kebanaran tersebut tidak hanya sekedar disampaikan, tetapi di terima, di fahami serta diamalkan. Yang jadi persoalan penting dalam menyampaikan kebenaran adalah bagaimana caranya menyampaikan kebenaran tersebut.

Karena objek dakwah adalah manusia,berarti kita dituntut untuk mengerti dan memahami latar belakang, adat istiadat, budaya,sifat dan juga karakter manusia tersebut. Dari cara serta bahasa yang di pilih oleh Habib kita bisa menilai bahwa ia mengerti betul siapa yang sedang dia hadapi.

Kesaksian Habib an-Najjar

Inni aamantu birabbikum fasma’un, sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian maka dengarkanlah pengakuanku ini. Habib an-Najjar datang dari ujung kota untuk membela para rasul, namun dari awal pembicaraan tidak ditemukan indikasi adanya komunikasi apalagi hubungan antara Habib dengan utusan-utusan tersebut. Hal ini tentu bukan tanpa tujuan. Bisa jadi hal ini Habib lakukan untuk menghindari kesan menjilat dan bersekongkol, atau menyembunyikan untuk sementara siapa dia sebenarnya. Karena bila dari awal penduduk Antiokhiah sudah mengerti bahwa Habib sama dengan rasul-rasul tersebut niscaya bisa jadi komunikasi tidak akan berjalan dengan baik, dan bisa saja dari awal Habib sudah ditolak dan diancam seperti halnya para rasul tersebut.

Namun ketika berbagai bantahan telah disampaikan tibalah saatnya kini sang Habib harus memberikan pengakuan kepada para rasul. Pengakuan ini tidak saja agar diketahui oleh para rasul, tetapi yang lebih penting adalah sebagai usaha pamungkas Habib menghadapi penduduk Antiokhiah. Bukankah dari awal Habib berkata “ikutilah para rasul itu”, sementara Habib sendiri belum secara terbuka memberikan pengakuan keimanannya. Di balik pengakuannya Habib berharap agar penduduk Antiokhiah mengikuti jejaknya.

Indahnya kematian Habib

Qiila udkhuli al jannah, dikatakan [kepadanya] “masuklah engkau ke surga”. Habib sudah berusaha maksimal sesuai dengan kemampuannya, namun keras kepala penduduk Antiokhiah tidak bisa di tundukkan. Sebaliknya mereka semakin geram dan marah mendengar kelantangan pengakuan dan nasehat sang Habib. Puncak kemarahan mereka yaitu melempari Habib dengan batu hingga gugur sebagai Syahid. Malaikat menyambut sang syahid dengan ungkapan masuklah engkau ke surga, ini adalah berita gembira bagi Habib. Sebuah kematian yang sangat indah yang menjadi dambaan siapa saja yang berkomitmen di jalan Allah. Al-Fushilat ayat 30 Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan] jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan surga yang Allah janjikan kepadamu

Qaala ya laita qaumi ya’lamuun. Bima ghafarali rabbi wa ja’alani min al-mukramiin, ia berkata: “alangkah baiknya sekiranya kaumku mengerti apa yang menyebabkan Tuhanku mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang di muliakan. Itulah Habib an-Najjar, sampai ketika usaha tidak mungkin lagi dilakukan tetapi harapannya tetap tidak berubah. Habib telah tiada, perjuangannya belum selesai. Balasan Tuhan telah dia dapatkan berita gembira surga dan termasuk orang yang dimuliakan Tuhan. Dunia membutuhkan orang-orang seperti Habib, ya Allah beri kami kemampuan untuk meneruskan perjuangan pemilik Yasin, yaitu Habib an-Najjar.

November 22, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: