Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

AYAT 20-25 SEHAT BERSAMA SURAT YASIN


SEHAT BERSAMA SURAT YASIN
AYAT 20-25

بسم الله الرحمن الرحيم
وجاء من اقصاالمدينة رجل يسئ قال يقوم اتبعوا المرسلين اتبعوا من لا يسئلكم اجرا وهم مهتدون وما لئ لا اعبد الذي فطرني واليه ترجعون ءاتخذ من دونه ءالهة ان يردن الرحمن بضر لا تغن عنئ شفعتهم شيئا ولا ينقذون اني اذا لفئ ضلل مبين انئ امنت بربكم فاسمعون قيل ادخل الجنة قال يليت قومئ يعلمون بما غفر لئ ربئ وجعلنئ من المكرمين وما انزلنا علئ قومه من بعده من جند من السماء وما كنامنزلين ان كانت الا صيحة واحدة فاذاهم خمدون يحسرة علئ العباد ما ياتيهم من رسول الا كانوا به يستهزءون الم يرواكم اهلكنا قبلهم من القرون انهم اليهم لا يرجعون وان كل لما جميع لدينا محضرون

PENJELASAN KATA-KATA

Aqsha al-Madinah, ujung kota. Mursaliin berarti orang-orang yang diutus/para utusan terulang sebanyak 24 kali. Ittabi’u adalah bentuk perintah yang berarti ikutilah oleh kalian kata ini terulang sebanyak 8 kali. La yasalukum dia tidak meminta kepada kalian. Ajrun bentuk tunggal dengan berbagai kata ganti yang menyertainya terulang sebanyak 93 kali dalam al-Quran. Bentuk jamaknya adalah ujuurun terulang sebanyak 12 kali. Muhtaduun berarti orang-orang yang mendapat petunjuk terulang 8 kali. Fatharani Dia telah menciptakan aku ditemukan 3 kali dalam quran. Turja’uun kata kerja sedang/yang akan datang fasif berarti kalian dikembalikan dan terulang sebanyak 19 kali. Alihah sembahan-sembahan 18 kali. Dhurrin kemudharatan ada 26 kali. Syafa’ah ada 11 kali sedangkan syafa’atuhum hanya 2 kali. Dhalaal berarti kesesatan terdapat 44 kali. Ya’lamuun mereka mengetahui terdapat 85 kali.

Ghafara berarti Dia telah mengampuni terulang 3 kali. Ja’alani dari kata ja’ala yang berarti dia telah menjadikan ia terulang 4 kali. Mukramuun atau mukramin adalah isim [kata benda] maf’ul yang berarti yang di muliakan terdapat 5 kali dalam al-Quran. Anzalna /Kami telah menurunkan ditemukan 40 kali dalam Quran. Jundin terulang 5 kali yang berarti tentara dan ia berbentuk tunggal. Munziliin adalah isim maf’ul dari kata anzala, ia terulang sebanyak 3 kali sedangkan munziluun ada 2 kali. Kata ash-shaihah berarti suara keras yang mengguruh terulang sebanyak 13 kali. Ahlaqna berarti Kami telah binasakan terulang sebanyak 18 kali. Yastahziuun mereka memperolok-olok terdapat 14 kali dalam Quran. Yarji’un dari kata raja’a. ia berarti mereka kembali terulang sebanyak 16 kali. Muhdharuun berarti orang-orang yang dihadirkan ia terulang sebanyak 7 kali.

وجاء من اقصا المدينة رجل يسعئ قال يقوم اتبعواالمرسلين
Dan datanglah dari ujung kota, seorang kaki-laki berjalan bergegas. Dia berkata : Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu.

Apa yang kita saksikan dalam bahasan yang lalu dari ayat 13-19 merupakan contoh sebuah sikap amanah yang diperlihatkan oleh para utusan. Ketika tuduhan negative dialamatkan kepada mereka dengan tegas mereka menjawab untuk klarifikasi dan mendudukkan persoalan yang sesungguhnya agar tidak terbentuk opini yang keliru sebagaimana yang dilontarkan oleh penduduk negeri terhadap mereka.

Mulai dari penghinaan, tuduhan bahkan ancaman keseluruhannya dijawab dengan bahasa yang sangat indah, penuh makna dan tegas. Ancaman akan dirajam dan diberikan azab yang pedih tidak membuat mereka bungkam untuk mengatakan kebenaran. Dengan lugas tapi tegas mereka menjawab bahwa nasib malang kalian disebabkan karena kalian tidak mau menerima dan mengikuti peringatan yang disampaikan, bahkan lebih dari itu kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.

Ayat 20 ini dan ayat-ayat selanjutnya hemat penulis merupakan bagian dari pertolongan Allah kepada para utusan yang amanah tersebut. Pertolongan tersebut berupa dikirimnya seseorang dari tempat yang jauh untuk membela para utusan yang membawa kebenaran. Inilah balasan bagi orang yang meyakini, mengamalkan dan memperjuangkan kebenaran.

Dan telah datang dari ujung kota, kata aqshal madinah dalam ayat ini menggambarkan suatu tempat yang jauh. Mengapa ujung kota dan bukan orang-orang yang berada dalam kota yang menyaksikan langsung para utusan tersebut. Menurut Ibn ‘Asyur sebagaimana yang ditulis oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya menyebutkan bahwa iman kepada Allah ketika itu telah tersebar di pinggiran kota, sebelum tersebarnya di pusat kota. Ini karena pusat kota adalah lokasi pemukiman penguasa dan pemuka-pemuka agama Yahudi dan mereka semua menghadapi ajakan para rasul itu dengan pandangan yang jauh dari objektivitas. Penduduk disekitar merekapun sangat terpengaruh atau takut kepada penguasa dan pemuka-pemuka agama itu, berbeda dengan yang bermukim di pinggiran, yang memiliki pandangan yang objektif dan bersikap mandiri.

Menurut hemat penulis termasuk juga di dalamnya alasan bahwa orang pinggiran tersebut menolong dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridha Allah, sementara penduduk kota sebagaimana tersirat dalam ayat 22 dalam surat ini, mengapa lelaki tersebut menggunakan kata ikutilah oleh kalian orang yang tidak meminta imbalan kepada kalian. Mengapa lelaki tersebut mengemukakan alasan yang pertama rasul tersebut harus diikuti karena mereka tidak mengharapkan imbalan. Bisa jadi hal ini gambaran tentang kehidupan penduduk kota tersebut secara umum, yang selalu mengaitkan sesuatu dengan materi dan imbalan.

Pengunaan kata tersebut bila dihubungkan dengan rajulun [lelaki yang datang tersebut] memperlihatkan kepada kita keberpihakan dan loyalitas seseorang yang sangat luar biasa kepada kebenaran. Kampung halaman, keluarga bahkan pekerjaan rela ditinggalkan untuk membela utusan Tuhan. Di sisi lain, kalau keberpihakan dan loyalitas yang terpanggil, maka jarak bukanlah masalah. Bila kata aqshal madinah tersebut dihubungkan dengan pata utusan, maka ini mengajarkan kepada kita bahwa jangan pernah menakar pertolongan Allah dengan sesuatu yang tampak dan dekat saja. Yang menjadi kewajiban kita adalah keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang memperjuangkan kebenaran tanpa pertolongan. Intanshurullaha yanshurkum, jika kalian menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian. Dalam surat at-thalaq Alla berfirman:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan bagi mereka solusi [makhraja] dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak di duga-duga [unpredictable] at-Thalaq:2-3

Kata rajulun [seorang lelaki] dalam ayat diatas tidak disebutkan siapa nama lelaki tersebut, karena ia dalam konteks ini nama tersebut tidak terlalu penting. Yang perlu disebutkan disini adalah apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut. Pelajaran yang dapat diserap dari point tersebut adalah jangan melihat orang dari tampilan dan keindahan namanya, tapi lihatlah apa yang mereka perbuat. Bilal bin Ghabah dan Siti Hajar adalah dua nama yang secara phisik tidak menarik untuk dibicarakan, namun prestasi yang mereka ukir membuat membuat orang melupakan bentuk mereka. Inilah sikap objektif bagi mereka yang berorientasi kepada kebenaran, bukan kepada ketenaran apalagi ketampanan.

Hal ini perlu digaris bawahi, karena bila melihat kecendrungan dakwah akhir-akhir ini lebih menekankan kepada siapa yang menyampaikan dan bukan apa yang disampaikan. Ini bisa menjadi hal yang tidak baik bagi dakwah, akibatnya para da’i lebih sibuk menata penampilan dari pada ilmu dan tindakan. Bagi para pengikut akan lahirlah fanatisme kepada orang dan bukan kepada kebenaran. Hal ini sangat berbahaya dan rentan untuk dimanfaatkan.

Menurut Ikrimah lelaki yang disebutkan dalam ayat diatas bernama Habib An-Najjar, Habib yang berprofesi sebagai tukang kayu. Bila profesi tersebut dihubungkan dengan tugas mulia membela para rasul, maka sekali lagi ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa jangan pernah menilai seseorang dari kulitnya saja, apalagi menyepelekannya.

Kata yas’a menggambarkan kesegeraan, ini berarti bahwa berbuat baik tidak boleh ditunda-tunda dan harus segera. Terlebih lagi bila menyangkut pembelaan terhadap orang-orang yang di zhalimi. Sikap masa bodoh, cuek dan tidak peduli dengan urusan dakwah, apalagi bila menyerahkan urusan tersebut hanya kepada ustads saja, inilah yang di sindir oleh ayat ini.

Ya qaumi, wahai kaumku, kata tersebut sangat simple dan sederhana, namun dibalik kesederhanaannya menyimpan sebuah kekuatan yang luar biasa karena ia adalah bahasa hati dan bersifat merangkul, tidak memojokkan apalagi mencela.
Ittabi’u al-Mursalin, ikutilah oleh kalian para utusan. Seruan agar penduduk kota mengikuti para utusan tersebut adalah kalimat pertama yang keluar dari lisan Habib. Padahal antara habib dan para utusan tersebut tidak saling mengenal apalagi persekongkolan, hal ini diisyaratkan oleh kata aqshal madinah [ujung kota]. Apa yang mendorong Habib an-Najjar membela para rasul ? yang mendorongnya adalah fithrah yang memiliki kecendrungan dan keberpihakan kepada kebenaran.

Ditengah sikap cuek dan tidak peduli yang diperlihatkan oleh penduduk kota, ternyata ada seorang dari tempat yang jauh memberikan pembelaan. Ini hemat penulis bisa jadi menggambarkan bahwa, sikap masa bodoh menggambaarkan keadaan orang-orang yang mengabaikan fithrah, namun yakinlah bahwa dibalik sikap tersebut ada fithrah yang tersumbat. Sumbatan tersebut akan terbuka ketika seseorang berada dalam kondisi yang tenang dan bebas dari pengaruh yang tidak baik.

اتبعوا من لا يسئلكم اجرا وهم مهتدون
Ikutilah oleh kalian orang yang tidak meminta kepada kalian imbalan, sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Bila kita menyebut rasul atau utusan Allah Swt, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah banyaknya kebaikan yang dibawa oleh utusan tersebut. Idealnya point kebaikan itulah yang harusnya menjadi alasan untuk mengajak penduduk kota tersebut menerima para utusan. Namun apa yang dilakukan oleh Habib an-Najjar justru berbeda. Hal ini agaknya karena beliau tahu persis masyarakat tersebut, sehingga cara yang digunakan untuk mengajak merekapun mengikuti cara yang umum mereka pergunakan.

Habib an-Najjar mendahulukan kalimat “orang yang tidak meminta kepada kalian imbalan” atas penegasannya bahwa “mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa apa yang dilakukan oleh Habib an-Najjar ini mengikuti pandangan penduduk ketika itu. Penduduk yang bejat itu selalu menduga adanya keuntungan material dibalik aktivitas setiap orang karena demikian itulah sikap mereka. Mereka hampir tidak mengenal adanya ketulusan dalam setiap aktivitas. Dan karena itu pula mereka tidak percaya kalau para rasul itu tulus dan tidak mengharap imbalan atas tuntunan mereka.

Mendahulukan kalimat man la yasalukum ajran untuk meluruskan dugaan agar tidak terjadi kesalah fahaman terhadap para utusan tersebut. Sekaligus memperkenalkan kepada penduduk negeri bahwa tidak semua orang berorintasi kepada imbalan. Tujuannya jelas agar mereka memiliki norma pembanding dari apa yang mereka terapkan selama ini. Selanjutnya barulah kemudian Habib meneruskan alasan yang kedua yaitu bahwa mereka para utusan tersebut adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dua alasan tersebut harus menjadi syarat utama untuk mengikuti para utusan. Bila ayat ini difahami sebaliknyanya ini berarti bahwa pemimpin yang kalian ikuti selama ini tidak pantas untuk diikuti karena mereka tidak memiliki kedua alasan tersebut diatas, yaitu mereka pamrih dan tidak mendapat petunjuk. Hal tersebut tidak disebutkan secara jelas karena disamping tidak etis juga diharapkan biar mereka sendiri yang menilai dan jangan orang lain. Walau keduanya kelihatan hampir sama namun sesunguhnya berbeda terutama pengaruhnya secara psikologis.

ومالئ لااعبد الذئ فطرنئ واليه ترجعون

Dan mengapa aku tidak menyembah yang telah menciptakan aku dan hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan

Sebelum penulis meneruskan penelusuran surat yasin ini, izinkanlah penulis mengatakan bahwa kita terutama orang-orang yang terlibat dalam dunia dakwah harus banyak belajar dari Habib an-Najjar. Beliau adalah orang yang sangat cerdas dan kreatif dalam memilih cara dakwah termasuk pemilihan bahasa yang sangat tepat dan indah serta penuh dengan makna dan sindiran halus. Sehingga orang yang diajak bicara tidak merasa digurui apalagi disalahkan. Mari kita ikuti dengan seksama apa yang diperlihatkan oleh Habib an-Najjar untuk dijadikan contoh dan pola dalam dakwah.

Pertama yang harus digaris bawahi adalah pemilihan kata mengapa aku tidak menyembah. Ini adalah pola dakwah yang memulai dari diri sendiri, sehingga apa yang disampaikan olehnya bukanlah merupakan perintah melainkan ajakan. Hal ini mengingatkan penulis kepada ungkapan bahwa kita tidak akan bisa memaksa kuda masuk kedalam air dengan mendorongnya dari belakang, tetapi kita dengan mudah menuntunnya masuk kedalam air dengan kita terlebih dahulu memasukinya. Cara inilah yang diterapkan oleh Habib, agaknya cara inipun muncul merupakan hasil dari pengenalan Habib terhadap karakter penduduk tersebut.

Selanjutnya mengemukakan alasan penyembahan dengan mengatakan “ yang telah menciptakan aku”. Hemat penulis paling tidak kalimat singkat tersebut mengandung makna diantaranya:

1. Seakan Habib berkata bahwa Tuhan yang aku sembah adalah Zat yang menciptakan aku. Penggunaan kata aku disini untuk mewakili seluruh manusia. Aku adalah manusia dan kalian juga manusia, berarti yang menciptakan aku sama dengan yang menciptakan kalian penduduk negeri.
2. Habib seakan juga berkata bahwa tidaklah pantas menyembah sesuatu yang tidak menciptkan apalagi kalau yang disembah itu justru manusia yang membuatnya.

Kedua hal diatas pada dasarnya merupakan kritik yang sangat tajam terhadap penduduk negeri, namun karena dibungkus dengan pilihan bahasa yang tepat, ia tidak terkesan sebagai kritikan.

Kata selanjutnya adalah dan kepada-Nya kalian dikembalikan. Kepada yang telah menciptakan aku dan kalian nanti kalian akan dikembalikan. Pemilihan kata kalian akan dikembalikan, dalam al-Quran kata turja’un terulang sebanyak 19 kali, kata ini agaknya bertujuan untuk menjelaskan siapa Tuhan dan perjalanan manusia menuju Tuhan. Seakan Habib berkata bahwa Tuhan yang aku sembah adalah yang kepada-Nya aku kembali dan kepada-Nya pula kalian dikembalikan. Kata kembali dan dikembalikan adalah dua hal yang berbeda. Dalam surat al-Baqarah ayat ke 28 ketika membicarakan tentang orang fasiq Allah menggunakan kata yang sama dengan ayat 22 surat yasin ini. Kesan yang dimunculkan oleh ayat tersebut adalah keterpaksaan. Sementara ayat yang mengurai tentang orang-orang yang khusyu dalam shalat al-baqarah ayat 46 menggunakan kata raji’un/orang-orang yang kembali. Ayat ini mengandung makna keikhlasan dan kerelaan untuk kembali kepada Allah, karena meyakini bahwa apa yang disediakan oleh Allah untuk mereka diakhirat jauh lebih baik dari apa yang mereka dapati di dunia.

Kembali kepada pembicaraan semula bahwa penduduk negeri tersebut menyadari betul kedurhakaan yang telah mereka lakukan akibatnya mereka takut untuk kembali karena akan dimintai pertanggung jawaban. Hal yang sama diperlihatkan oleh Allah dalam surat al-baqarah ayat 96 ketika membicarakan tentang orang musyrik. Mereka menghendaki agar hidup seribu tahun dengan anggapan hal tersebut dapat menghindarkan mereka dari azab. Dan dijawab oleh Allah bahwa dipanjangkan umur tersebut tidak akan menjauhkannya dari azab.

ءاتخذ من دونه ءالهة ان يردن الرحمن بضر لا تغن عنئ شفعتهم سيئا ولا ينقذون

Apakah aku menjadikan selain-Nya sebagai tuhan-tuhan, jika ar-Rahman menghendaki terhadap diriku bencana, niscaya tidaklah berguna bagi syafaat mereka sedikitpun, dan mereka tidak dapat pula menyelamatkan aku.

Apa yang dilakukan oleh Habib an-Najjar dalam ayat ke 23 ini merupakan lanjutan dari langkah-langkah strategis dari ayat-ayat sebelumnya. Mulai dari tahap klarifikasi kemudian dilanjutkan dengan contoh yang dimulai dari diri sendiri yang diselingi dengan sindiran halus sampai kepada tingkat mengemukakan alasan yang sedikit lebih tegas. Namun yang menarik sebagaimana yang telah kita saksikan walaupun ayat ini terkesan sedikit tegas tapi karena cara dan momentnya yang tepat sehingga tidak begitu dirasakan oleh orang yang diajak bicara.

Pantaskah aku mengambil sebagai tuhan-tuhan sesuatu yang tidak menciptakan aku dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika ar-Rahman [Tuhan yang Maha pemurah] menghendaki kemudharatan serta mereka [tuhan-tuhan tersebut] tidak dapat menyelamatkan aku. Kembali kita menemukan mutiara berharga dari ayat ini, diantaranya:

1. Pantaskah/layakkah aku menyembah sesuatu yang tidak menciptakan aku, penggunaan kata seperti ini hemat penulis mempersilahkan mitra bicara untuk menggunakan akal sehatnya kemudian memberikan penilaian sendiri pantas atau tidak. Setting pembicaraan seperti ini seakan sudah menentukan jawaban bahwa tidak pantas. Namun yang mengatakan tidak pantas tersebut bukan Habib secara langsung, melainkan hasil dari penilaian penduduk negeri tersebut. Ini tentu akan memberikan kesan yang sangat berbeda. Diantaranya adalah bahwa mereka tidak merasa disalahkan walau kemudian sadar bahwa mereka salah. Dan mereka sendirilah yang memberikan penilaian salah tersebut, bukan orang lain. Melalui uraian ayat ini betapa kita menyaksikan bahwa Habib mengerti betul akan perasaan manusia. Dimana pada dasarnya manusia tidak suka bila disalahkan. Dakwah bisa jadi tidak diterima bukan karena ajaran yang dibawa, melainkan karena cara menyampaikan yang keliru dan salah. Bila orang sudah tidak senang dengan cara penyampaian, maka dapat diduga bahwa mereka tidak akan menerima apa yang akan disampaikan.
2. Menghubungkan kata Dhurrin [kemudharatan] dengan ar-Rahman. Ini juga cara memperkenalkan Tuhan, cara yang ditempuh oleh Habib ini meniru cara yang dipergunakan oleh Allah Swt sendiri. Seperti dalam surat al-Fatihah misalnya. Bukankah Allah memiliki 99 Asmaul Husna, namun mengapa yang pertama Allah perkenalkan diri-Nya bukan al-Aziz atau al-Jabbar, namun yang dipilihnya adalah ar-Rahman. Ini bertujuan agar sifat tersebutlah yang paling pertama terlintas dalam pikiran seseorang ketika disebut kata Allah. Kalaupun kemudian disusul dengan kata Dhurrin tetapi kesan ar-Rahman tersebut telah lebih dulu menempati hati mereka. Sehingga kemungkinan munculnya kesan negative dapat diantisifasi. Selanjutnya penghubungan kedua kata tersebut untuk meluruskan sikap terhadap Tuhan. Hal ini sering terjadi orang memahami Rahman tersebut dengan pandangan yang keliru, misalnya mereka terlalu mengandalkan bahwa Tuhan maha Pengasih, tanpa menghubungkan dengan perbuatan yang mereka lakukan. Selanjutnya kalaupun kemudian Tuhan menimpakan dhurrin, itu bukan karena marah dan mau mencelakakan, melainkan itu karena Tuhan sayang.
3. La tughni ‘anni syafa’atuhum, tidak berguna bagiku syafaat mereka [tuhan-tuhan selain Allah]. Alasan manusia menyembah sesuatu biasanya dihubungkan dengan syafa’at/pertolongan yang akan mereka peroleh. Orang yang menyembah batu meyakini bahwa batu tersebut dapat menolong mereka ketika mereka ditimpa kesulitan. Melalui ayat ini Habib mengatakan sia-sia kalian menyembah sesuatu yang sesungguhnya tidak mampu menghindarkan bencana dan menarik manfaat.
4. la tughni ‘anni syafa’atuhum diatas menggambarkan ketidakmampuan tuhan-tuhan selain Allah untuk memberikan kebaikan. Sedangkan wala yunqizun sebaliknya yaitu tidak dapat menolak kemudharatan. Dua hal ini cukup untuk dijadikan alasan menolak tuhan-tuhan selain ar-Rahman. Karena jangankan menyembah memelihara atau menyimpan sesuatu yang tidak memiliki kedua hal diatas adalah sia-sia.

انئ اذا لفئ ضلل مبين

Sesungguhnya aku jika demikian sungguh benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.

Kembali Habib menggunakan kata aku dan bukan kalian. Bila aku sudah mengerti bahwa sesuatu tersebut tidak dapat memberikan manfaat dan menolak mudharat kemudian aku tetap menyembahnya, niscaya apa yang aku lakukan tersebut benar-benar sebuah bentuk kesesatan yang terang-terangan. Habib tidak mau menggunakan kata kalian, alasannya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Yaitu ini untuk kepentingan dakwah bukan untuk memojokkan apalagi menghina sembahan mereka.

انئ امنت بربكم فاسمعون
Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian maka dengarkanlah oleh kalian aku

Semenjak kehadirannya sebagaimana disebutkan dalam ayat ke 20 diatas sampai ayat ke 24 kita tidak melihat adanya dialog antara Habib dengan ketiga orang utusan. Keseluruhannya menguraikan bagaimana lelaki mukmin tersebut berdialog dengan penduduk negeri. Baru kemudian di ayat ke 25 ini Habib mengalihkan pembicaraan kepada para utusan tersebut. Isi pembicaraannya adalah sebuah pengakuan bahwa dia beriman kepada Tuhan para utusan, maka dengarkanlah oleh kalian pengakuanku ini.

November 19, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: