Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

AYAT 13 S/D 19 SEHAT BERSAMA SURAT YASIN


AYAT 13 S/D 19

SEHAT BERSAMA SURAT YASIN

بسم الله الرحمن الرحيم
واضرب لهم مثلا اصحب القرية اذ جاء ها المرسلون اذ ارسلنا اليهم اثنين فكذبو هما فعززنا بثالث فقالوا انا اليكم مرسلون قالوا ما انتم الا بشر مثلنا وما انزل الرحمن من شيئ ان انتم الا تكذبون قالوا ربنا يعلم انا اليكم لمرسلون وما علينا الا البلغ المبين قالوا انا تطيرنا بكم لئن لم تنتهوا لنرجمنكم وليمسنكم منا عذاب اليم قالوا طئركم معكم ائن ذكرتم بل انتم قوم مسرفون

PENJELASAN KATA-KATA

Ashhaabu al Qaryah, penduduk negeri. Yang dimaksud oleh ayat ini adalah Antiokhiah, satu kota lama di hulu sungai al-Ashy wilayah Suriah sekarang. Al-Mursaluun, orang-orang yang diutus/utusan-utusan, kata ini terulang sebanyak 9 kali dalam al-Quran, 4 kali diantaranya terdapat dalam surat Yasin yaitu ayat: 13, 14, 16 dan 52.

Arsalnaa, yang berarti kami telah mengutus, ia terulang sebanyak 58 kali dalam al-Quran. Dan 13 kali disambung dengan kata ganti orang kedua yaitu Ka [Engkau]. Kata kadzdzabu ada 49 kali sedangkan yang bersambung dengan kata huma ada dua kali. Qaalu berarti mereka berkata terdapat 231 kali dalam al-Quran. Dalam al-Quran Allah menyebut manusia dengan berbagai sebutan yang paling banyak diantaranya adalah: an-Naas terulang 240 kali, ia pada umumnya diartikan dengan manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk social, al-Insaan ada 65 kali, ia difahami sebagai makhluk Intelektual dan terakhir adalah Basyarun terulang 36 kali sebagai makhluk biologis.

Ar-Rahman yang Maha Pengasih terulang 57 kali dalam al-Quran. Ya’lamu/Dia mengetahui terulang sebanyak 93 kali. Tathayyarna yang diartikan dengan kami bernasib sial. Tathayyarna dan thaairukum diambil dari kata thair yaitu burung, dan yang dimaksud adalah nasib. Musrifuun berarti orang-orang yang melampaui batas, ia terulang sebanyak 3 kali, musrifiin 10 kali dan dalam bentuk tunggal musrif 2 kali.

واضرب لهم مثلا اصحب القرية اذ جاء ها المرسلون

Dan buatlah untuk mereka suatu perumpamaan yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepadanya

Dari dua belas ayat yang lalu telah memberikan banyak sekali pengetahuan dan informasi. Mulai dari al-Quran sampai dengan penegasan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul. Pembicaraan al-Quran berlanjut kepada salah satu misi nabi sebagai Nadzir sekaligus Allah menjelaskan kepada Nabi siapa sasaran misi tersebut ketika itu. Tidak cukup sampai disitu, guna untuk efektivitas dakwah Allah juga memberitahukan bahwa kepada siapa saja peringatan itu berguna dan bermanfaat. Pembicaan di tutup dengan sebuah tekhnik menyampaikan informasi yang bersifat menyeluruh, efektif dan memberikan sentuhan yang sangat dalam. Dengan cara mengingatkan bahwa setelah kematian akan ada kehidupan lagi, dan Allah mencatat apa saja yang telah di lakukan serta bekas yang ditinggalkan.

Ayat ke tigabelas ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya. Ayat ini dan beberapa ayat selanjutnya merupakan bagian dari methode dakwah yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Methode yang diterapkan dalam ayat ini adalah belajar dari sejarah. Melihat kenyataan pada masa lalu, bagaimana sikap umat masa lalu menyikapi utusan Allah dan bagaimana pula akhirnya nasib mereka.

Wadhrib lahum, ayat ini diawali dengan perintah kepada Nabi, agar memaksimalkan cara berdakwah, dalam menghadapi kaum musyrikin Mekkah dan siapa saja yang sama dengan mereka, dengan cara membuat perumpamaan. Dengan perumpamaan tersebut diharapkan agar mereka membandingkan sesuatu yang telah terjadi dengan kemungkinan yang akan menimpa mereka. Hal ini adalah wajar karena diantara mereka memiliki kesamaan karakter dan cara dalam menjawab ajakan Rasul.

Pengungkapan sejarah tersebut pada hakikatnya bertujuan agar keburukan yang telah menimpa umat-umat terdahulu jangan sampai terjadi dan terulang lagi. Hal ini bisa terjadi bila kaum Musyrikin Mekkah mau menghilangkan kesamaan mereka dengan penduduk negeri tersebut. Tanpa itu bisa jadi mereka akan bernasib sama.

Kata matsalan terulang sebanyak 22 kali dalam al-Quran. Pada umumnya kata tersebut lebih banyak mengumpamakan sesuatu perbuatan atau keadaan dengan sesuatu benda atau keadaan lain yang mempunyai kemiripan atau kesamaan. Berbeda halnya dengan matsalan yang terdapat dalam ayat ini, ia lebih mengarah kepada mengandaikan suatu keadaan yang telah terjadi serta dihubungkan dengan kemungkinan keadaan tersebut juga akan terjadi pada dirinya.

Dilihat dari kaca mata manusia, terjadinya peristiwa tersebut untuk masa yang akan datang masih berupa kemungkinan. Dengan kata lain, manusia bisa mengubah kemungkinan tersebut untuk tidak terjadi, dengan menghindari atau membuang hal-hal yang menjadi penyebabnya. Bila ternyata factor penyebab tersebut ada pada diri seseorang atau masyarakat, maka taubat adalah solusi untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan tersebut.

Umumnya ulama berpendapat bahwa qaryah yang dimaksud oleh ayat ini adalah Antiokhiah di wilayah Suriah sekarang. Mengenai di mana negeri tersebut tidaklah terlalu penting karena ia bukan esensi. Yang menjadi inti dari pembicaraan ini adalah bagaimana sikap penduduk negeri tersebut dalam menyambut dakwah utusan-utusan yang diutus kepada mereka dan bagaimana kesudahannya. Dan tujuan dari ayat ini juga sangat jelas, yaitu agar jangan ada lagi qaryah-qaryah lain yang akan bernasib sama dengan mereka. Penggunaan kata ashhabal qaryah dalam ayat ini mengandung makna bahwa sesuatu tersebut benar-benar telah terjadi dan bukan ancaman kosong dan mengada-ada. Kebenaran tersebut di perkuat oleh penggunaan kata mursalun dalam bentuk ma’rifah.

اذ ارسلنا اليهم اثنين فكذبوهما فعززنا بثالث فقالوا انا اليكم مرسلون

Ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang; lalu mereka mendustakan keduanya; maka Kami kuatkan dengan yang ketiga, lalu mereka berkata: “ Sesungguhnya kami kepada kalian adalah utusan-utusan

Sebelum mengarungi ayat ini lebih jauh penulis ingin katakan bahwa ayat ini bertutur tentang sejarah. Dalam membahas sejarah ada hal yang perlu di perjelas [karena ia esensi yang ingin disampaikan] dan ada yang tidak perlu [karena mencari tahu detailnya bisa jadi akan menjauhkan dari pokok masalahnya yang sesungguhnya]. Dalam ayat 13 sebelumnya sebagaimana telah penulis utarakan, yang tidak terlalu penting untuk dicari tahu adalah qaryah, terlebih lagi bila pendapat tentang qaryah tersebut berbeda. Perbedaan tersebut jika terlalu dikedepankan tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada keraguan bagi orang yang tidak dengan sungguh-sungguh mempelajarinya.

Begitu pula dengan kata itsnain [dua orang utusan] dalam ayat ini. Justru yang menarik untuk di garisbawahi adalah mengapa ayat tersebut tidak mengatakan ‘kami mengutus kepada mereka satu orang” tetapi langsung dua bahkan diperkuat dengan utusan yang ketiga. Ini artinya bahwa lebih menggambarkan kepada keadaan masyarakat dimana utusan tersebut diutus. Dengan kata lain jangankan satu orang utusan, bahkan tiga orangpun mereka dustakan. Di sisi lain, pengutusan tiga orang sekaligus untuk meminimal kemungkinan mereka menolak, karena bila hanya satu bisa saja mereka menolah utusan tersebut dengan tuduhan bohong. Allah Swt Maha Mengetahui keadaan masyarakat yang akan dihadapi oleh utusan-utusan tersebut. Dengan pengetahuan tersebutlah ketetapan pengutusan tersebut ditetapkan.

Inna ilaikum mursaluun [sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus untuk kalian]. Akhir ayat ke 14 ini merupakan pengakuan sekaligus sebagai klarifikasi. Semua nabi dan Rasul melakukan hal tersebut dan bentuk klarifikasinyapun hampir sama. Yang biasanya berkisar pada persoalan jati diri mereka. Kalimat yang dipergunakan juga mirip, misalnya:

اني لكم رسول امين

Ungkapan pengakuan tersebut digunakan oleh Nabi Hud ketika menghadapi kaum ‘Ad, QS. 26:125. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nabi Shalih kepada kaum Tsamud, QS.26:143. begitu pula dengan Nabi Luth ketika menghadapi kaumnya, QS.26:162.

Selain mengklarifikasi siapa dirinya, persoalan tujuan dan misi masing-masing nabi dan Rasul juga diperjelas agar tidak terjadi kesalahpahaman. Yaitu:

ان اجري الا

Upahku tidak lain hanyalah dari Allah

Ayat seperti diatas terulang sebanyak 9 kali dalam al-Quran. Diantaranya:

1. Ungkapan Nabi Nuh kepada kaumnya. Ini terulang tiga kali dalam ayat dan surat yang berbeda. QS.10:72, QS.11:29 dan QS.26:109.
2. Ungkapan Nabi Hud kepada kaum ‘Ad, terulang sebanyak dua kali, QS.11:51 dan QS. 26:127.
3. Ungkapan Nabi Shalih kepada kaum Tsamud, QS.26:145.
4. Ungkapan Nabi Luth kepada kaumnya, QS.26:164.
5. Ungkapan Nabi Syu’aib kepada penduduk Aikah, QS.26:180.
6. Ungkapan Nabi Muhammad Saw,QS.34:47.

قالوا ما انتم الا بشر مثلنا وما انزل الرحمن من شيئ ان انتم الا تكذبون

Mereka berkata; Kalian tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami, dan ar-Rahman tidak menurunkan sesuatu pun, tidak lain kalian hanyalah berdusta.

Dalam ayat ke 14 yang lalu, ketika Allah Swt berfirman: “Ketika Kami telah mengutus kepada mereka dua orang utusan, maka mereka mendustai keduanya”. Penulis menggaris bawahi kata ‘maka mereka mendustai keduanya’. Huruf Fa dalam ayat tersebut merupakan respon spontan dan tanpa berfikir terlebih dahulu. Mengapa demikian ? karena bila kita melihat ayat-ayat al-Quran yang mengungkap tentang penolakan kaum musyrikin terhadap para Rasul mereka memiliki pola penolakan yang sama. Pola atau cara yang mereka pergunakan merupakan refleksi dari keyakinan dan persepsi yang keliru tentang konsep kenabian dan kerasulan.

Dari 37 kali kata basyar dalam al-Quran, 13 kali diantaranya menggambarkan penolakan orang-orang kafir/musyrik terhadap status kenabian para utusan Tuhan berdasarkan alasan bahwa para nabi itu adalah manusia biasa seperti halnya mereka juga. Diantara ayat yang mengungkap pengertian tersebut antara lain terlihat pada penolakan umat Nabi Nuh, karena nabi Nuh dalam pandangan mereka adalah manusia biasa.

Dari bentuk penolakan mereka dapat difahami bahwa orang musyrik itu adalah orang yang selain menyekutukan Allah dengan sesuatu, mereka juga tidak mempunyai konsep atau persepsi yang jelas tentang Nabi dan Rasul. Malah sering kita dapati dalam al-Quran mereka mengatakan “mengapa Tuhan tidak mengutus kepada kami seorang malaikat’, bisa jadi menurut mereka seorang Nabi dan Rasul itu adalah dari jenis malaikat dan bukan manusia.
Disamping itu ketika mereka berkata basyarun mitsluna [manusia biasa seperti kami] dari ucapan mereka kita dapat menilai bahwa standar yang mereka pergunakan dalam menilai orang lain sesuai dengan nilai yang mereka miliki. Ini berarti bahwa nilai mereka sangat rendah, karena kemanusiaan mereka hanyalah sebatas basyar.

Menurut bint al syathi kata basyar merujuk kepada pengertian manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk jasmaniah, yang secara fisik memiliki persamaan dengan makhluk lainnya, membutuhkan makan dan minum untuk hidupnya. Ketika pengertian seperti ini dihubungkan dengan penilaian kaum musyrikin diatas, ini berarti bahwa lingkaran kehidupan mereka tidak pernah keluar dari bingkai basyar.

Wa ma anzala ar Rahmanu min syaiin, [dan yang Rahman tidak menurunkan sesuatu]. Karena mereka tidak menemukan seperti yang ada dalam bayangan mereka, maka dengan lantang mereka berkata demikian. Dan bukan hanya itu, yang lebih menyakitkan lagi adalah mereka dengan lancang menuduh utusan-utusan tersebut sebagai orang-orang yang berdusta.

قالوا ربنا يعلم انا اليكم لمرسلون
Mereka berkata”Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah orang-orang yang diutus untuk kalian

Penolakan dan pengingkaran yang disertai dengan tuduhan yang menyakitkan perlu untuk diluruskan supaya tidak larut dalam kesalahan. Persoalan tersebut merupakan fokus dari ayat ini. Persoalan mereka mengikuti Rasul atau tidak, itu lain hal, namun meluruskan kekeliruan adalah suatu kaharusan agar tidak terjadi kesalahfahaman.

Yang menarik dari pembelaan utusan-utusan tersebut adalah mereka tidak mengemukakan pembuktian-pembuktian indrawi yang dapat meyakinkan masyarakatnya tentang kerasulan mereka. Mereka hanya berargumentasi bahwa Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah orang-orang yang diutus untuk kalian. Dengan kata lain, kami tidak membutuhkan pengakuan dan keimanan kalian, yang terpenting bagi kami adalah menyampaikan tuntutan Allah.

Penggunaan kata Tuhan kami mengetahui, disamping sebagai argument ia juga berfungsi sebagai informasi. Kaum musyrikin yang dihadapi oleh utusan-utusan tersebut hanya mengetahui kebaikan Tuhan sebagai ar-Rahman. Sementara kata Rabb yang dipilih disini memperkenalkan sisi lain Tuhan sebagai; pengatur, pemelihara pengawas serta pendidik. Mereka para utusan tersebut diterima atau tidak, bukan jadi masalah namun yang jelas sepintas tentang siapa Tuhan itu telah disampaikan.

وما علينا الا البلغ المبين

Dan tidak lain tugas kami kecuali sebagai penyampai yang jelas

Ayat ini merupakan penguat dari ayat sebelumnya. Seakan utusan tersebut berkata bahwa tugas kami hanyalah penyampai dan hal tersebut sudah dilaksanakan.

قالوا انا تطيرنا بكم لئن لم تنتهوا لنرجمنكم وليمسنكم منا عذاب اليم

Mereka berkata sesungguhnya kami bernasib sial karena kalian sehingga jika kalian tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kalian dan kalian pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.

Penolakan dan tuduhan ternyata belum cukup, utusan-utusan tersebut kali ini harus menghadapi yang lebih pahit lagi yaitu ancaman serius. Sekaligus ini menambah panjang deretan penderitaan yang harus diterima oleh para utusan.

Setelah mereka dituduh berdusta kali ini mereka kembali mendapatkan tuduhan lebih berat lagi yaitu kehadiran utusan-utusan tersebut disebut sebagai pembawa sial. Pada umumnya manusia memang begitu, menyalahkan orang lain lebih mudah daripada mencari kesalahan pada diri sendiri, dan inilah yang mereka lakukan. Keengganan untuk melakukan introspeksi dan dengan mudah menyalahkan orang atau sesuatu diluar dirinya disebabkan karena mereka merasa benar. Akibatnya mereka tidak akan pernah keluar dari keadaan mereka dan tidak akan pernah menjadi lebih baik. Inilah bahayanya menganggap diri benar.

Padahal jika saja mereka mau membuka mata dan introspeksi, bukankah keangkuhan untuk tidak menerima rasul dan sikap melampaui batas yang mereka lakukan sebagai penyebab utama kesialan mereka.

Sungguh jika kalian tidak berhenti kami benar-benar akan merajam kalian [melempar kalian dengan batu sampai mati] dan kalian pasti akan mendapat siksa yang menyakitkan dari kami. Inilah puncak penolakan mereka. Kerasnya penolakan tersebut semakin membuktikan betapa angkuhnya mereka.

قالوا طئركم معكم ائن ذكرتم بل انتم قوم مسرفون
Mereka berkata; kesialan kalian ada pada diri kalian, apakah jika kalian diberi peringatan [kalian menuduh kami] sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui batas.

Ancaman rajam dan siksa yang pedih tidak membuat utusan-utusan tersebut takut, apalagi membiarkan kebathilan. Kesialan kalian bukan karena kehadiran dan dakwah kami, tetapi karena kalian menolak peringatan dan melampaui batas. Hal ini harus di klarifikasi karena jika tidak tuduhan mereka akan dianggap sebagai kebenaran. Dengan kata lain kalaupun kami [utusan-utusan] harus mati di tangan kalian, tidak masalah karena kami mati di jalan dakwah. Namun kekaliruan dan kesalahan tetap harus di luruskan.

November 6, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: