Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

AYAT 7 S/D 12 SEHAT BERSAMA SURAT YASIN


SEHAT BERSAMA SURAT YASIN

AYAT 7 S/D 12

بسم الله الرحمن الرحيم
لقد حق القول علئ اكثرهم فهم لا يؤ منون انا جعلنا فئ اعنا قهم اغللا فهي الئ الاذقان فهم مقمحون وجعلنا من بين ايديهم سدا ومن خلفهم سدا فاغشينهم فهم لا يبصرون وسواء عليهم اانذرتهم ام لم تنذرهم لا يؤمنون انما تنذر من اتبع الذكر وخشئ الرحمن بالغيب فبشره بمغفرة واجر كريم انا نحن نحئ الموتئ ونكتب ما قدموا وءاثرهم وكل شيئ احصينه فئ امام مبين

PENJELASAN KATA-KATA

Kata Laqad terdiri dari dua huruf yaitu La dan Qad keduanya sama-sama berarti sungguh. Haqqa al-Qaulu bila diartika satu persatu maka Haq berarti benar dan al-Qaul adalah ucapan/ketetapan. Hasanain Muhammad Makhluf dalam “kalimah al-Quran” menjelaskan bahwa ‘ laqad haqqal al-qaul” bermakna “demi Allah yang benar-benar telah menetapkan dan telah mewajibkan hukuman”. La yukminun/mereka tidak beriman terulang sebanyak 48 kali dalam al-Quran dari 78 kali kata Yu’minun. A’naqihim berarti leher mereka, dengan berbagai perubahannya terdapat 9 kali dalam Quran. Aghlaalan dapat dijumpai sebanyak 6 kali dan dua kali dengan kata maghluulah yang berarti belenggu.

Dari 6 kali kata aghlaalan tiga kali diantaranya mengambarkan keadaan orang-orang kafir nanti di akhirat, di leher mereka dipasangkan belenggu sebagai akibat dari perbuatan mereka selama ini di dunia. Sedangkan tiga lagi menggambarkan sikap atau keadaan mereka di dunia. Salah satunya adalah surat al-A’raf ayat 157.

Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang [nama] mereka tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka, maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya al-Quran yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Sebagian dari misi para Rasul adalah membebaskan manusia dari berbagai beban kehidupan dan belenggu-belanggu yang membuat mereka terkurung dalam perangkap yang tanpa disadari mereka buat sendiri.

Kata Muqmahuun berasal dari kata Qamaha yang pada mulanya berarti mengambil sesuatu dengan telapak tangan lalu menelannya. Kata muqmah dapat digunakan untuk melukiskan unta yang haus namun tidak mendapati minuman.

Kata saddan berarti tembok atau dinding terulang sebanyak 3 kali, dua kali dalam surat yasin ini dan satu kali dalam surat al-Kahfi ayat 94. Sedangkan kata khosyiya terulang sebanyak 4 kali. Pada umumnya kata ini digunakan untuk pengertian takut kepada Allah, berbeda dengan khouf yang juga bermakna takut, kata ini lebih banyak digunakan untuk takut kepada selain Allah. Kata maghfirah yang berarti ampunan terulang sebanyak 28 kali dan kata ghafur/Maha Pengampun terdapat 91 kali dalam al-Quran. Kata ajrun berarti ganjaran/balasan ada 92 kali dalam Quran dengan berbagai kata ganti yang menyertainya, sementara itu dalam bentuk jama’nya ujuur terulang sebanyak 12 kali.

لقد حق القول علئ اكثرهم فهم لا يؤ منون

Sebelum menjelaskan kandungan ayat ke tujuh diatas, penulis ingin terlebih dahulu menggaris bawahi akhir ayat ke enam, yaitu ghaafiluun. Salah satu penyebab kelalaian menurut ayat ke enam diatas adalah karena tidak adanya peringatan. Peringatan dalam ayat tersebut lebih dimaksudkan kepada peringatan berupa ucapan dan tentu pelakunya adalah manusia. Dari keseluruhan ayat yang menggunakan kata ghafilun dan berbagai bentuk perubahannya, penulis mencoba membuat kesimpulan tentang penyebab-penyebab kelalaian, diantara penyebab tersebut adalah:

1. Tidak mempergunakan hati untuk memahami ayat-ayat Allah.
2. Tidak mempergunakan mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.
3. Tidak mempergunakan telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah.

Ketiga point diatas disebutkan oleh Allah dalam surat al-A’raf ayat 179:

ولقد ذرء نا لجهنم كثيرا منالجن والانس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم اعين لايبصرون بها ولهم ءاذان لا يسمعون بها اؤلئك كالانعام بل هم اضل اولئك هم الغفلون

Dan sesungguhnya Kami telah jadikan untuk [isi] neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [ayat-ayat Allah], mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah], dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar [ayat-ayat Allah] mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Al-A’raf: 179

4. Tidak percaya kepada pertemuan dengan Allah di akhirat. 10:7.
5. Merasa puas dan tenang dengan kehidupan dunia, 10:7.
6. Lalai terhadap ayat-ayat Allah, 10:7
7. Lebih mencintai dunia daripada akhirat, 16:107.
8. Hati, pendengaran dan penglihatan mereka di tutup oleh Allah, 16:108.
9. Hanya mengetahui yang zhahir saja dari kehidupan dunia, dan melalaikan akhirat, 30:7
10. Lalai terhadap makna dan hakikat doa, 46:5.
11. Mendustakan ayat-ayat Allah, 7:136 dan 7:146

Demikian sebagian dari penyebab kelalaian menurut al-Quran. Yang tidak kalah pentingnya untuk di perhatikan adalah akibat dari kelalaian tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Dua contoh besar yang telah Allah perlihatkan kepada manusia sebagai dampak dari kelalaian yaitu ditenggelamkannya bani Israil surat al-A’raf:136, dan dihancurkannya penduduk kota-kota juga disebabkan karena mereka lalai, Al-An’am:131. Yang terakhir ini menggambarkan kenyataan yang telah terjadi sekaligus mengandung makna janji serta ancaman bagi siapa saja yang melalaikan ayat-ayat/peringatan Allah, baik pribadi maupun bangsa.

Kembali ke ayat ke 7 surat Yasin diatas, kata penegas yang Allah pergunakan dalam ayat diatas merupakan realisasi dari janji-janji-Nya, baik berupa kebaikan maupun sebaliknya. Bukankah Allah tidak akan pernah mengingkari janji-janji-Nya. Ayat 7 diatas mengingatkan saya pada ungkapan:

Tebarlah gagasan, petiklah perbuatan.
Tanamlah perbuatan, petiklah kebiasaan.
Tanamlah kebiasaan, petiklah karakter.
Tanamlah karakter dan petiklah nasib.

Hubungan ungkapan tersebut dengan ayat yang dibahas menurut hemat penulis sangatlah relevan. Relevansinya terletak pada keterkaitan antara nasib mereka [tidak beriman ] dengan sikap yang mereka perlihatkan [yaitu lengah dan lalai dari berbagai bentuk peringatan dan ayat-ayat Allah].

Tidak berimannya mereka adalah suatu kemestian, karena mereka tidak pernah mempergunakan potensi-potensi terbaik yang Tuhan berikan kepada mereka. Iman adalah hasil dari proses perenungan, pemikiran dan pembacaan, dan ini adalah ketetapan yang tidak mungkin Allah mengubahnya sesuai dengan firman-Nya, kecuali mu’jizat. Mu’jizat adalah pengecualian, tetapi harus di ingat ia hanya diperuntukkan bagi Nabi dan Rasul. Dan kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah khataman nabiyyin/nabi terakhir dan tidak akan ada lagi Nabi sesudahnya. Ini berarti bahwa mu’jizat tidak mungkin ada lagi.
Dengan kata lain siapapun yang tidak mempergunakan hati untuk memahami, mata untuk melihat dan telingan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, niscaya ia akan lalai, akibatnya mereka tidak mungkin beriman.

اناجعلنا فئ اعناقهم اغللا فهي الئ الاذقان فهم مقمحون

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu ia kedagu sehingga mereka tertengadah

Perbuatan yang dilakukan berulang kali akan menjadi kebiasaan. Dan bila kita terus menerus dalam suatu kebiasaan maka akan menyebabkan kesulitan untuk keluar dari kebiasaan tersebut. Dalam hal-hal tertentu ia bisa menimbulkan ketaatan, kecintaan dan kefanatikan. Tidak jarang kita dapati terkadang manusia lebih tunduk kepada kebiasaan daripada agama. Itu sebabnya mengapa Rasulullah di periode Mekkah lebih banyak memfokuskan perhatian kepada bagaimana caranya memotong kebiasaan-kebiasaan salah yang selama ini mereka patuhi. Apa yang diterapkan oleh Rasul tersebut adalah untuk efisiensi dakwah.

Inilah yang dilukiskan oleh Allah dalam ayat ini. Kebiasaan yang telah mengkristal tersebut digambarkan Allah seperti belenggu yang melilit penuh leher mereka bahkan sampai kedagu, akibatnya mereka tertengadah dan tidak dapat lagi melihat kebawah. Paling tidak ada tiga hal dari ayat diatas yang perlu digaris bawahi:

1. Kata aghlaalan yang bermakna belenggu tersebut sedikitnya terulang 6 kali dalam al-Quran. Dan dua kali dengan kata maghluulah. Keseluruhan kata tersebut menggambarkan dua hal yang berbeda. Pertama menggambarkan keadaan orang-orang kafir yang telah membelenggu diri mereka dengan kebiasaan yang salah. Dalam konteks ini kata aghlaalan bermakna perumpamaan majaz/metafora. Sebagaimana telah disebutkan diatas. Kedua kata aghlaalan tersebut bukan majaz melainkan hakikat yang akan didapati oleh orang-orang kafir di akhirat. Terdapat dua ayat yang menyebutkan aghlaalan dalam konteks ini, yaitu:

اذالاغلل فئ اعناقهم والسلسل يسحبون
Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seraya mereka diseret. [al-Ghafir: 71]

انا اعتدنا للكفرين سلسلا واغللا وسعيرا

Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. [al-Insaan:4]

Kedua ayat dari dua surat yang berbeda tersebut menggambarkan hakikat yang akan dihadapi oleh orang-orang kafir di akhirat nanti.

2. Kalimat ilal azqaani, yang berarti sampai kedagu. Ini memperlihatkan betapa kronisnya kelalaian mereka sampai melilit habis leher dan bahkan sampai kedagu. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa kenyataan yang mereka dapati tersebut bukan datang dengan tiba-tiba dan tanpa sebab, melainkan sebuah konsekwensi dari kenyamanan mereka terhadap kebiasaan yang salah.

3. Kata muqmahuun yang berarti tertengadah. Inilah dampak paling berbahaya dan mengerikan dari sebuah kebiasaan salah. Bukan saja tidak menyadari kesalahan bahkan dalam tingkat tertentu mereka bangga dengan kesalahan tersebut, hal ini terjadi karena mereka tidak menyadari kesalahan dan menganggapnya sebagai kebenaran serta bangga dan menyombongkan diri dengannya. Adalah wajar bila setiap Rasul [utusan] datang memberi peringatan kepada mereka, dijawab dengan penolakan, setiap nasehat direspon dengan ejekan dan cemoohan. Disamping itu tertengadah tersebut juga menggambarkan bahwa mereka tidak mungkin bisa di harapkan mampu melihat diri dan mengambil pelajaran darinya. Padahal Allah Swt menyebutkan bahwa dalam diri kita terdapat ayat-ayat [tanda-tanda] kebesaran-Nya. Wa fii anfusikum afalaa tubshiruun, dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada diri kalian apakah kalian tidak melihat.

وجعلنا من بين ايديهم سدا ومن خلفهم سدا فاغشينهم فهم لا يبصرون
Dan Kami telah jadikan dihadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding dan Kami tutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Sebuah kesalahan yang dibiarkan berlarut-larut tidak hanya akan membawa pelakunya kepada kebodohan, melainkan akan membawanya lebih jauh lagi ke dasar jurang kehancuran. Dalam ayat ke 8 kita melihat betapa menderitanya orang-orang musyrik tersebut dengan belenggu yang menutupi leher dan tertengadah, namun itu belumlah cukup untuk membayar besarnya kerugian yang yang disebabkan oleh kelalaian mereka. Ayat ke 9 ini semakin memperpanjang deretan penderitaan yang mereka hadapi, sampai mereka tidak memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran dan hakikat yang ada di depan dan dibelakang mereka, disebabkan karena tembok tinggi yang tanpa sadar mereka bangun.

Menurut Fakhruddin ar-Razi ayat diatas memberikan dua ilustrasi tentang sikap kaum musyrikin. Pertama, keengganan mereka memandang ayat-ayat Allah yang terdapat dalam diri mereka sendiri. Inilah yang diibaratkan dengan belenggu-belenggu yang menjadikan seseorang tertengadah tidak dapat melihat dirinya sendiri. Kedua, keengganan mereka memandang ayat-ayat Allah yang terhampar di alam raya ini.

وسواء عليهم ءانذرتهم ام لم تنذرهم لا يؤمنون

Dan sama saja bagi mereka apakah enkau memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan mereka. Mereka tidak akan beriman.

Sikap keras kepala yang diperlihatkan oleh orang-orang kafir sebagimana dilukiskan ayat-ayat sebelumnya telah mengantarkan mereka kepada keadaan terburuk sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, yaitu jangankan peringatan yang tersirat, peringatan secara tegas melalui lisan Rasulpun tidak akan menggeser keadaan mereka kepada kebaikan. Sama saja bagi mereka engkau beri peringatan atau tidak tetap mereka tidak beriman. Ayat ini sama dengan ayat ke 6 surat al-baqarah, yang menjelaskan hal yang sama tentang orang-orang kafir. Mengapa peringatan demi peringatan tidak mempengaruhi mereka, jawabannya selain telah dijelaskan dalam ayat ke 8 dan 9 diatas, dengan redaksi yang sedikit berbeda dapat di temukan dalam al-baqarah ayat ke 7. Yaitu karena Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta pada penglihatan mereka ada tabir penutup [ghisyawah] yang dalam ayat ke 9 surat yasin di sebut dengan saddan [tembok/dinding]. Apapun kalimat atau kata yang Allah pergunakan untuk menggambarkan keadaan mereka namun pada hakikatnya adalah sama, yaitu mereka bila tingkat kekufurannya sudah sampai kepada keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ke 8 dan 9 diatas, maka mereka tidak mungkin akan kembali lagi pada kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-baqarah ayat ke 18.
صم بكم عمي فهم لا يرجعون
Mereka tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak dapat lagi kembali [kepada kebenaran]

انما تنذر من اتبع الذكر وخشي الرحمن بالغيب فبشره بمغفرة واجر كريم

Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan bagi siapa yang mengikuti adz-Dzikr [al-Quran] dan yang takut kepada ar-Rahman, meskipun Dia gaib. Maka karena itu gembirakanlah ia dengan maghfirah dan ganjaran yang mulia.

Peringatan apapun bentuk dan dari manapun datangnya, niscaya akan berguna dan memberikan pengaruh yang positif bagi orang yang mau membuka mata, telinga, pikiran dan hati mereka. Karena dari ke empat kekuatan itulah perubahan berawal.

ان الله لا يغير ما بقوم حتئ يغيروا ما بانفسهم

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ar-Ra’du: 11

Menurut hemat penulis ayat ini seakan berkata bahwa, siapa yang menginginkan perubahan [kepada yang lebih baik] maka langkah pertama yang harus dilakukan untuk perubahan tersebut adalah mengubah: sudut pandang, persepsi, cara berfikir dan cara melihat sesuatu. Orang yang memiliki kepribadian tertutup, cara dan wawasan berfikirnya sempit serta melihat sesuatu menurut kaca mata mereka, niscaya tidak akan mudah untuk berubah.

Dari ayat ke 11 diatas dapat kita fahami bahwa nasehat, pelajaran bahkan peringatan hanya akan berguna bagi orang yang mengikuti al-Quran dengan bersungguh-sungguh dan memiliki rasa takut kepada ar-Rahman.

Yang harus digaris bawahi dari ayat ini adalah penggunaan kata khasyia ar-Rahman [takut kepada yang maha Pengasih]. Manusia pada umumnya takut kepada yang jahat, buas dan sebagainya. Tapi dalam ayat ini justru sebaliknya. Bukankah kata ar-Rahman membuat kita tenang, sejuk dan damai. Kalau demikian mengapa rasa takut itu muncul.

Dari empat kali kata khasyia dalam al-quran tiga kali diantaranya menyebutkan takut kepada kepada Allah, satu lagi takut akan kesulitan dalam menjaga diri. Kata lain yang berarti takut yang banyak di dapati dalam al-Quran adalah khauf. Kata ini justru sebaliknya, ia lebih banyak dipergunakan untuk mengungkapkan takut kepada makhluk. Dari sinilah barangkali munculnya ungkapan yang mengatakan bahwa takut kepada makhluk harus menghindar dan menjauh, tetapi takut kepada Allah dengan jalan mendekat dan menghampiri.

Penghujung ayat 11 ini disebutkan bagi orang yang mengikuti al-Quran dan takut kepada ar-Rahman, gembirakanlah mereka dengan ampunan dan ganjaran yang mulia. Pemahaman terbalik dari ayat ini berarti bahwa yang tidak mau mengikuti ajaran Quran dan tidak takut kepada ar-Rahman maka gembirakanlah mereka dengan azab yang menghinakan.

Mencari jalan untuk melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan kepada rahmat dan kasih sayang Allah adalah realisasi dari takut kepada ar-Rahman. Atau dengan kata lain takut kepada ar-Rahman berarti takut tidak mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

انانحن نحئ الموتئ ونكتب ما قدموا وءاثرهم وكل شيئ احصينه فئ امام مبين

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatat apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami pelihara dalam kitab induk yang nyata [Lauh Mahfuzh]

Ayat-ayat yang mengangkat thema tentang kematian biasanya memulai pembicaraan dengan kehidupan baru kemudian di susul dengan kematian. Hal sebaliknya justru kita dapati dalam ayat diatas, dimana pembicaraan dimulai dengan kalimat Kami akan menghidupkan orang yang mati.

Penulis memahami ayat ini bukan hanya menjelaskan bahwa setiap manusia akan mati, tetapi lebih kepada mengingatkan bahwa setelah kematian akan dihidupkan kembali. Di dalamnya terkandung makna pemberitahuan tentang perjalanan manusia, yang akan di hidupkan kembali setelah kematian mereka. Di samping itu ia juga bisa difahami sebagai peringatan. Seakan-akan Allah mengatakan wahai kalian yang hidup, semua manusia akan mati. Dan kematian itu bukanlah akhir dari kehidupan, karena manusia akan dihidupkan kembali. Kehidupan kembali tersebut berdampak kepada datangnya masa pertanggung jawaban terhadap apa saja yang telah dan akan dikerjakan. Bila ia difahami sebagai peringatan maka tujuannya adalah untuk menyadarkan manusia agar selalu memperhatikan dan memperhitungkan apapun yang akan dilakukan, karena sekecil apapun perbuatan manusia baik yang baik maupun sebaliknya pasti akan diminta pertanggung jawabannya. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggung jawaban akan melahirkan kehati-hatian dalam berbuat dan berprilaku, sekaligus akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam kehidupan.

October 30, 2010 - Posted by | Uncategorized

1 Comment »

  1. ya Robbi aktifkanlah panca indra kami yang lebih lagi.
    AMIN

    Comment by masda hanafiah | November 13, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: