Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

HAKIKAT IDUL FITHRI


HAKIKAT ‘IDUL FITRI DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN
Drs. Jasdi bahrun

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan kejahatan perbuatan-perbuatan kami. Barang siapa yang Allah tunjuki dengan hidayah, maka tidak ada seorangpun yang mampu menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka dia tidak akan mendapatkan seorangpun yang akan melindunginya dan tidak akan ada yang memberinya petunjuk. Shalawat dan salam semoga tercurah keharibaan Rasulullah, para keluarga dan sahabatnya serta siapa saja yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Saya bersaksi bahwa ia telah menyampaikan misi, menunaikan amanah, dan berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenarnya hingga ajal menjelang.

Sesuatu yang selalu kita jumpai setiap hari terkadang membuat kita lupa akan kelebihannya. Kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Islam sering kita tidak menyadari akan keagungan ajaran Islam itu sendiri. Kita menjalani kewajiban-kewajiban dan segenap aturan di dalamnya hanya sebagai sebuah rutinitas yang kadang terasa menjemukan.

Kita perlu memandang agama ini secara utuh seperti pandangan seorang yang baru pertama kali datang ke suatu kota.Sungguh Islam lebih megah dari apapun, dan bangunan-bangunan yang terdapat di dalamnya jauh lebih mempesona ”

Mungkin dari sejak kecil dulu kita jarang menerima pelajaran tentang agama ini dari sudut ia sebagai sesuatu yang indah,menyejukkan dan membahagiakan. Sehingga banyak diantara kita yang pergi jauh dan lari dari agama, atau minimal tetap beragama tetapi keluar dari hakikat yang di kehendaki oleh agama. Kebanyakan kita menatap agama hanya sebagai tumpukan kewajiban dan peraturan-peraturan yang mengikat

Padahal agama menurut bahasa aslinya, berarti kesadaran dan kesolehan di satu sisi, dan menghubungkan atau mengikat di sisi yang lain. Dengan kata lain, agama di defenisikan sebagai seperangkat doktrin spiritual dan metafisika yang mengikat orang yang memeluknya. Agama selama bertahun-tahun, juga menjadi system pengertian, system symbol dan system ibadah yang menyediakan sense of identity yang mendalam bagi penganutnya untuk menghadapi hidup di dunia yang kompleks ini sebagai sebuah tantangan eksistensial. Dalam sejarah kehidupan manusia, sebenarnya agama menjadi wadah pencarian kebenaran dan kepastian yang hakiki. Namun demikian, dan ini sisi negatifnya, proses pencarian kebenaran tersebut sering kehilangan dinamikanya dan mengkristal menjadi dogma-dogma yang tidak bisa diubah. Kemudian dogma-dogma ini dilengkapi dengan rangkaian ibadah yang menjadi “pelipur-lara” dan rasa kepatuhan simbolik bagi orang-orang beriman.

Kalau agama masih difahami seperti itu, perubahan apa yang dapat kita harapkan dari kesalehan ritual yang dilakukan. Hiruk-pikuk ibadah di bulan Ramadhan kini hanya tinggal menjadi sebuah kenangan. Gegap-gempita gema takbir saat idul fitri berganti dentuman suara musik halal bil halal. Isak tangis di hari suci berubah gelak tawa kesana-kemari. Indahnya suara tadarrus mungkin tahun depan lagi. Zakat, infak dan shadaqah spanduk dan panitianya sudah tidak ada lagi. Masih teramat banyak lagi untuk disebutkan yang kalau diteruskan membuat sedih dan sakit hati. Akh ini mungkin karena saya terlalu berlebihan. Ampuni saya ya Rabb.

Padahal tidak ada ibadah tanpa tujuan termasuk rangkaian ibadah ramadhan. Satu diantara harapan besar yang di usung oleh ramadhan adalah mengembalikan manusia kepada fitrah, yang lebih kita kenal dengan sebutan “Idul fitri”.

Tulisan ini bukan untuk memaparkan kebenaran yang hakiki, karena kebenaran yang seperti itu hanya milik Allah. Melainkan hanya untuk memaparkan sesuatu yang saya yakini sebagai kebenaran.Melalui tulisan ini saya ingin mencoba sedikit menguat makna ‘idul fitri dan implementasinya dalam kehidupan.

Kalimat “Taqabbalallahu minna wa minkum” bukanlah sesuatu yang asing dari pendengaran kita, terlebih lagi ketika kita memasuki ‘idul fitri. Ia juga menjadi kata yang paling banyak di pakai melalui pesan singkat SMS. Tetapi tahukah kita apa hubungan kalimat tersebut dengan ibadah ibadah ramadhan umumnya dan puasa khususnya bahkan apa pula hubungannya dengan idul fitri. Secara lengkap kalimat tersebut biasanya berbunyi:

تقبل الله منا و منكم صيامنا وصيامكم من العائدين والفائزين كل عام وانتم بخير

“Mudah-mudahan Allah Swt menerima segala amal ibadah kami dan kalian, puasa kami dan kalian. Mudah-mudahan pula kita semua termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah, sehingga kita akan memperoleh keberuntungan dan kesuksesan. Mudah-mudahan anda berada dalam keadaan baik sepanjang tahun”

Dari pengertiannya kita bisa memahami bahwa kalimat/ungkapan tersebut merupakan do’a sekaligus harapan kepada Allah Swt. Mudah-mudahan Allah menerima segala amal/ibadah kami dan kalian. Harapan ini bersifat umum, mencakup masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Sehingga maknanya bisa dikembangkan menjadi “Semoga Allah menerima segala bentuk ibadah yang telah kita lakukan, menuntun kita kepada yang lebih baik bagi ibadah yang sedang kita laksanakan serta membimbing kita untuk menjadi lebih sempurna dalam ibadah yang akan kita lakukan” Untuk ibadah yang akan datang, masih ada kesempatan insya Allah untuk memperbaikinya. Namun bagaimana halnya dengan ibadah yang telah dilakukan, yang tidak sepi dari kesalahan, kekurangan dan keterbatasan, baik yang disebabkan karena ketidak-tahuan, kemalasan atau pembangkangan. Dengan demikian yang harus kita lakukan sebelum mengucapkan kalimat Taqabbalallahu adalah memohon ampun kepada Allah atas kesalahan, disempurnakan apa-apa yang kurang dari ibadah yang telah dilakukan. Dengan begitu kita bisa berharap agar kesalahan di ampuni, kekurangan di sempurnakan sehingga ibadah di terima.

Salah satu syarat ibadah di terima oleh Allah Swt adalah Sah. Sedangkan sah tidaknya suatu ibadah di tentukan oleh syarat dan rukunnya. Bila ibadah sudah sesuai dengan syarat dan rukunnya maka ibadah tersebut disebut sah. Ke-sah-an ibadah seseorang seperti shalat misalnya dapat dinilai oleh manusia, karena ukurannya hanya sebatas rukun-rukunnya yang telah di tetapkan dalam fiqih, bila salah satu rukun tidak dikerjakan maka kita bisa berkata bahwa shalatnya tidak sah. Persoalannya apakah ibadah yang sudah sah itu diterima Allah atau tidak, kita tidak mempunyai kemampuan untuk menjawabnya, karena hal tersebut berkaitan dengan syarat yang abstrak yaitu ikhlas. Ikhlas adalah persoalan tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah Swt dan yang bersangkutan.

Harapan agar ibadah diterima harus dibarengi dengan senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk memurnikan niat dari selain Allah Swt, serta terus-menerus harus belajar dan berlatih agar benar-benar menjadi orang yang ikhlas. Ikhlas adalah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun berat untuk dilaksanakan.

Kita memang tidak memiliki kemampuan untuk menilai apakah ibadah seseorang diterima atau tidak, namun kita hanya dapat melihat indikasi atau bekas dari ibadah tersebut dalam kehidupan. Secara umum dapat dipahami bahwa hubungan ibadah dan akhlak adalah sebuah keniscayaan. Kekhusyukan dalam beribadah akan melahirkan kesolehan bagi yang melakukannya. Kesolehan yang tidak hanya terbatas pada kesolehan pribadi tetapi juga kesolehan social. Apabila ini kita jadikan barometer untuk mengukur apakah rangkaian ibadah yang telah kita lakukan sebulan penuh diterima Allah atau tidak, maka jawabannya dapat kita lihat setelah ramadhan berlalu. Seberapa jauh ibadah-ibadah tersebut membawa bekas dalam kehidupan kita, ataukah ia juga turut pergi bersama ramadhan.

Ramadhan pergi syawalpun datang. Syawal dari segi bahasa berarti peningkatan. Maka bulan syawal berarti bulan peningkatan setelah penempaan, pelatihan dan pendidikan selama bulan ramadhan. Apa saja yang seharusnya meningkat pasca ramadhan, uraian berikut ini mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dari sekian banyak ibadah yang kita lakukan di bulan ramadhan, saya mencoba untuk melihat sebagian kecil saja dengan harapan ini dapat mewakili. Saya akan memulai dari yang terkecil dan ringan yaitu wudhu’.

Pada suatu hari, dua orang sahabat masuk ke dalam masjid dan bertanya kepada Rasulullah Saw. Yang pertama datang untuk menanyakan masalah haji dan yang kedua menanyakan tentang wudhu’. Menjawab pertanyaan mengenai wudhu’ Rasul berkata:

Adapun arti wudhu’ adalah membasuh muka dan tangan serta mengusap kepala dan kedua kaki yang di dalamnya terdapat rahasia-rahasia. Membasuh muka artinya, Wahai Tuhanku, aku membasuh mukaku agar aku bersih dari segala dosa yang telah aku lakukan dengan wajahku, sehingga aku dapat menyembah-Mu dengan wajah yang bersih, dan bersujud di tanah dengan kening yang bersih. Membasuh kedua tangan artinya, wahai Tuhanku aku membasuh kedua tanganku agar aku bersih dari seluruh dosa yang kulakukan dengan kedua tanganku. Mengusap kepala artinya, wahai Tuhanku aku mengusap seluruh dosa, pikiran, atau kebingungan yang melintas di kepalaku sehingga kepalaku bersih. Dan mengusap kedua kaki artinya, wahai Tuhanku aku mengusap seluruh kesalahan yang kulakukan dengan kedua kakiku sehingga keduanya bersih. Jika seseorang ingin menyebut nama Allah dengan lisannya, maka ia harus membersihkan mulutnya. Tak pantas seorang menyebut nama Allah Swt dengan mulut yang tidak bersih {tidak suci}. Berkumur sebelum menyebut nama Allah adalah penyucian bagi mulut.

Dari hadits Rasulullah Saw tersebut kita hanya dapat berkata, Subhanallah {maha suci Allah} yang telah mensyariatkan kepada kita wudhu’, yang begitu besar manfaat dan hikmahnya dalam kehidupan kita untuk memelihara kesucian seluruh anggota tubuh dari dosa dan salah. Manfaat besar tersebut akan kita peroleh bila wudhu’ yang di laksanakan tersebut di sertai dengan ketundukan semata-mata kepada Allah, serta dibarengi oleh pemahaman yang mendalam akan makna dan hakikatnya.

Dari wudhu’ kita menuju shalat. Kita semua sudah maklum bahwa shalat merupakan sendi utama tegaknya agama. Yang tanpa itu keberagamaan kita akan menjadi sia-sia, dan bahkan dianggap tidak beragama. Yang demikian disebabkan karena shalat yang diperintah Allah Swt tersebut memiliki banyak sekali rahasia, hikmah dan manfaatnya bagi orang yang mendirikannya. Secara umum shalat memberikan dua kebaikan, yang merupakan syarat utama untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat, yang tanpa keduanya manusia tidak akan pernah menemukan kebaikan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kedua hal tersebut adalah kedekatan hubungan dengan Allah {hablun minallah} dan keharmonisan hubungan dengan manusia{hablun minanaas}

Beruntunglah kita yang diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat memahami shalat, yang tidak lagi melaksanakannya hanya sebatas kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan. Motivasinya melaksanakan shalat tidak hanya takut dosa dan mengharapkan pahala, bahkan lebih tinggi dari itu yaitu kedekatan, ridho dan cinta Allah Swt. Hal itu dilakukannya karena ia telah memahami betul hakikat shalat, sehingga dengan shalatnya melahirkan kesadaran akan kebesaran Allah Swt, serta kekecilannya dihadapan Allah. Dengan dua kesadaran itulah ia bertakbir. Takbir yang merontokkan segala sifat negative didalam dirinya terutama yang berkaitan dengan egoisme, keangkuhan dan kesombongan.

Disisi lain akan amat merugilah, orang-orang yang shalatnya dari tahun ke tahun, jangankan manfaat shalat, pemahamannya tentang shalatpun tidak kunjung berubah. Takbirnya tidak mampu mengikis rasa sombong yang bercokol dalam dirinya. Kalimat tahmid yang dilantunkan tak sanggup menyingkirkan sifat riya. Tasbih yang diwiridkan tak mengubah pandangan dan persepsinya tentang Allah. Zikir yang diucapkanpun belum mampu melahirkan ketenangan hati dan jiwanya. Mudah-mudahan Allah Swt memberi kita hidayah, sehingga tidak termasuk kelompok yang merugi tersebut. Amin.

Bulan Ramadhan disebut juga bulan puasa, karena di dalamnya kita diwajibkan untuk melaksanakan ibadah tersebut. Mengenai dasar, cara serta tujuan ibadah puasa, hampir seluruh umat islam telah mengetahuinya. Persoalan akan kembali mencuat kepermukaan ketika kita mempertanyakan soal hasil dari ibadah puasa tersebut. Kata taqwa yang hampir memenuhi telinga kita, hanya dapat kita dengar di mimbar dalam batasan-batasan teoritis yang kaku, seakan kata taqwa tersebut seperti makhluk asing di planet bumi ini. Padahal taqwa yang ingin dicapai dengan puasa tersebut adalah persoalan praktis, yang tidak boleh hanya menghiasi retorika belaka melainkan persoalan sikap dan prilaku.
Kata taqwa berasal dari kata waqo-wiqoyah yang berarti memelihara, sehingga orang yang bertaqwa {muttaqi} adalah orang yang menjaga dirinya dari hal-hal yang melukai atau merusak. Sementara kalau ditarik dari kata wiqoyah, maka artinya adalah orang yang memakai baju pelindung, bukan karena takut melainkan karena waspada dan hati-hati. Dengan demikian orang yang bertaqwa itu adalah orang yang memiliki mekanisme atau daya penangkal terhadap kejahatan yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain, dengan cara mengaktifkan kekuatan-kekuatan potensial yang di milikinya yaitu akal, hati dan nafsu, serta melahirkan kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah Swt. Itulah kekuatan yang sesungguhnya, yang lahir dari ketaatan kepada perintah Allah serta menyerap kekuatan-Nya. Mencerdaskan akal, menghidupkan hati serta mengendalikan hawa nafsu merupakan hasil nyata dari ibadah puasa, disamping melatih kesabaran dan kepekaan sosial. Keseluruhan hasil tersebut di bungkus oleh satu kata yaitu taqwa. Dengan demikian orang yang bertaqwa tersebut harus memiliki sifat-sifat:

1. Kecerdasan akal.
2. Kelembutan hati.
3. Nafsu yang terkendali.
4. Kesabaran.
5. Kepekaan sosial.
6. Ukhuwah dan persatuan.
7. Rendah hati.
8. Kasih sayang.

Betapa besarnya manfaat ibadah puasa, yang dengan ibadah tersebut akan melahirkan sifat-sifat sempurna yang keseluruhannya merupakan modal yang tak ternilai harganya untuk mewujudkan cita-cita luhur seorang mukmin yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Melihat kesempurnaan tersebut kita hanya bisa berandai dan berharap. Andai saja puasa yang telah di lakukan setiap tahun oleh umat islam mampu melahirkan sebagian saja dari sifat-sifat tersebut, saya yakin sejarah islam dan umatnya akan berubah dan tidak seperti saat sekarang. Hal terpenting yang tidak boleh hilang dalam diri kita adalah harapan, tentunya harapan yang dibarengi oleh kesungguhan dan kerja keras. Kita tetap terus berharap semoga pandangan, persepsi serta pemahaman kita terhadap islam dan ajarannya semakin baik, karena tanpa berbekal hal-hal seperti itu niscaya ibadah yang di lakukan tidak akan banyak memberikan kontribusi positif dalam kehidupan, dan iapun tidak akan pernah menjadi solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi.

Bagaimanapun kita harus selalu introspeksi diri, dimana letak kesalahan dan kekurangan ibadah puasa yang kita lakukan, sehingga hasilnya masih terlalu jauh dari apa yang diharapkan. Dengan introspeksi itu diharapkan kita mampu melihat dengan nyata segala bentuk kekurangan dan kesalahan, yang dengan itu akan melahirkan kesadaran. Kesadaran yang mendorong kita untuk bangkit dan berbuat lebih baik lagi. Dengan kesadaran itu pula kita ingin mengubah sejarah masa depan.

Tidak ada perubahan tanpa kesadaran, dan tidak akan ada kesadaran tanpa penghayatan dan perenungan. Dengan kata lain, perenungan adalah salah satu hal mendasar yang harus dilakukan untuk membangkitkan kesadaran, yang dengan kesadaran itu di harapkan nantinya akan melahirkan perbuatan. Dan perubahan tidak akan terealisasi tanpa terlebih dahulu berbuat.
Kembali kepada Fithrah [kesucian]

Sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang makna kembali kepada fithrah, terlebih dahulu izinkan saya mengawali bahasan ini dengan mengangkat salah satu firman Allah yang menjelaskan secara ringkas dan padat tentang rute perjalanan yang pasti akan ditempuh oleh makhluk yang dinamai-Nya manusia. Ayat tersebut terlanjur salah difahami, sehingga kesan angker dan menakutkan segera akan memenuhi perasaan orang yang membaca atau mendengarnya, yang lebih parah lagi ia hanya di peruntukan bagi orang-orang yang sudah meninggal.

انا لله وانا اليه راجعون

Sesungguhnya kami untuk, kepunyaan dan milik Allah. Dan sesungguhnya kami kepada-Nya kembali.

Sebagaimana di sebutkan diatas, bahwa ayat ini merupakan penjelasan singkat tentang sebuah hakikat yaitu manusia adalah kepunyaan Allah, ia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

October 23, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: