Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

DARI TAUHID IBADAH MENUJU TAUHID UMMAH


DARI TAUHIDUL IBADAH MENUJU TAUHIDUL UMMAH

الحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات الذى هدانا لهذا وما كنا لنهتدى لولا ان هدانا الله واشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له خصنا بخير كتاب انزل واكرمنا بخير نبي ارسل واتم علينا النعمة باعظم دين شرع دين الاسلام
واشهد ان محمدا عبده ورسوله الذي ادى الامانة وبلغ الرسالة ونصح للامة وجاهد فى الله حق جهاده فمن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما ومن يعص الله ورسو له فقد ضل ضلال مبينا
اللهم صل وسلم وبارك على هذا النبي اكريم وعلى اله وصحابته واحينا اللهم على سنته وامتنا على ملته واحشرنا فى زمرته مع الذين انعمت عليهم من النبين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا اما بعد

Syukur adalah sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang mendambakan kebahagiaan. Mempergunakan nikmat sesuai dengan kehendak yang memberi merupakan cara yang tepat untuk bersyukur, harapan kita mudah-mudahan semoga segala aktivitas yang telah, sedang dan yang akan kita lakukan senantiasa berada dalam bingkai syukur kepada Allah Swt, Amin ya rabbal alamin.

Shalawat serta salam semoga Allah limpahkan kepada seorang manusia sederhana yang paling bijak mempergunakan waktu dalam 63 tahun usianya. Sungguh perbedaan waktu dan prestasi yang telah diukirnya melampaui kemampuan manusia-manusia modern saat ini. Tidaklah berlebihan jika kemudian Allah Swt memuliakan dan menyediakan tempat terhormat untuknya. Teriring harapan semoga kebijakan yang sama turut mewarnai hari demi hari yang kita lalui.

Saat ini tidak kurang dari tiga juta kaum muslimin yang datang dari berbagai belahan dunia, sedang melaksanakan ibadah haji. Tanggal 9 Dzulhijjah mereka wuquf di Arafah. Inilah saat yang paling mendebarkan dalam seluruh perjalanan mereka yang suci. Tidak jarang di sela-sela suara talbiyah terdengar isakan tangis anak manusia yang menyadari dosa-dosanya yang telah lalu.

Suara talbiyah sudah bergema sejak tanggal 8 Dzulhijjah, ketika rombongan jamaah haji meninggalkan mekkah menuju Arafah. Saat itu para penumpang bis, pemakai taksi, atau pejalan kaki sepanjang jalan tidak henti-hentinya berzikir:

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لبيك ان الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك
Kami datang memenuhi panggilan-Mu, kami datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah kami datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu sesungguhnya segala pujian, karunia dan kekuasaan semua milik-Mu.

Jamaah haji dari bermacam-macam bangsa dan bahasa sekarang berzikir dengan bahasa yang sama. Pakaian mereka pakaian ihram yang sama. Tidak ada beda raja dengan hamba sahaya, pembesar dengan rakyat jelata, sarjana dengan orang biasa. Semua gelar kebanggaan yang sering digunakan untuk merendahkan orang sekarang ditinggalkan; segala pakaian, kekayaan yang sering ditampakkan untuk melukai hati kaum fuqara, sekarang dilepaskan; seluruh pangkat kebesaran yang sering ditonjolkan untuk menakut-nakuti orang kini dilemparkan. Semua sama dihadapan Allah Rabbul Alamin, semua kecil dihadapan penguasa semesta alam.

Ramadhan pergi, idul fitri datang. Ibadah haji muncul, idul kurban menyusul. Berbagai peristiwa datang dan pergi silih berganti dihadapan kita, ada yang menjadikannya hanya sebagai tradisi sehingga peristiwa demi peristiwa pergi dan berlalu begitu saja tampa meninggalkan bekas yang nyata kecuali hanya sekedar nostalgia dan kenangan semata, sedikit barangkali diantara kita yang mampu menjadikan momen-momen penting tersebut sebagai media untuk berbenah diri sambil menunggu sebuah kepastian yang pasti dan tidak dapat dihindari. Mudah-mudahan ketika janji itu datang, kita betul-betul berada dalam kesiapan yang matang. Allahummakhtim ajalana ya Allah bi husnil khatimah. Amin.

Hidup ini bagaikan sandiwara, dimana kita menyaksikan pergantian siang dan malam seakan tidak berkesudahan. Sebuah pertunjukan yang sangat aneh, apabila mempunyai suatu kebutuhan maka kita berharap dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tetapi begitu perjuangan itu berhasil, maka kita akan memandang enteng semua jerih payah yang telah kita curahkan.

Jika hidup hanyalah sekedar untuk memenuhi kebutuhan hari demi hari bagi seorang manusia, maka ketika itu pula ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari hidupnya, sesuatu yang menjadi pembeda antara dirinya dengan makhluk Allah yang lainnya, yaitu arah dan tujuan yang jelas. Disamping itu meluasnya berbagai bentuk kemerosotan nilai yang berpangkal dari hedonisme, kehampaan spiritual dan hasrat melampaui batas terhadap kebebasan. Semua itu merupakan manifestasi dari krisis yang dialami manusia modern yang hidup dalam peradaban serba materialistis.

Ibadah haji sebagaimana ibadah-ibadah lainnya yang terdiri dari ucapan, perbuatan, dan sikap harus berangkat dari landasan yang kuat yaitu akidah sebagai dasarnya, syariat sebagai pedoman pelaksanaannya dan ridha Allah sebagai tujuan akhirnya. Dengan demikian ibadah mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup ini kita harus memiliki bangunan pondasi yang kuat, yaitu aqidah/tauhid yang akan menjadikan kita tidak mudah terombang-ambing oleh dahsyatnya badai kehidupan. Kekuatan itulah yang dimiliki oleh Ibrahim, Imail dan Siti Hajar. Sehingga pahit getirnya perjalanan hidup mereka tidak sedikitpun membuat mereka goyah apalagi kehilangan arah. Kondisi seperti itu sangat sulit kita temukan saat ini.

Ibadah yang hanya dilandasi oleh keyakinan semata tidaklah cukup, ia harus dibungkus oleh seperangkat tata cara yang dapat mengantarkannya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ibadah bukan tujuan melainkan sarana untuk mencapai tujuan.

Haji pada hakikatnya adalah simbol pemberontakan melawan berbagai kelemahan, kebodohan, penindasan, belenggu dan keterpurukan umat mansuia. Dengan menyempurnakan ibadah haji kita dapat memutuskan serta menyingkirkan belenggu-belenggu yang menjajah, mengekang, membodohi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pertunjukan haji bermula di Miqat. Disini manusia harus berganti pakaian. Karena pakaian menutupi diri dan watak manusia. Dengan kata lain, seseorang individu tidak mengenakan pakaian tetapi pakaianlah yang menutupi dirinya. Pakaian melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan “batas” palsu yang menyebabkan “perpecahan” diantara umat manusia umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dan hampir semua perpecahan ini melahirkan “diskriminasi”. Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep “Aku” bukan kami atau kita. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti rasku, kedudukanku, kelompokku, pemahamanku, partaiku dll, dan bukan aku sebagai manusia.

Berawal dari perbedaan dalam memahami ajaran Islam, yang kemudian melahirkan firqah-firqah. Lahirnya kelompok atau firqah dalam diri umat adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dapat dihindari. Al Quran yang hanya terdiri dari 6000 ayat lebih bukanlah merupakan penjelasan rinci mengenai berbagai persoalan kehidupan umat manusia, melainkan ia bersifat global. Untuk mengaflikasikan ayat-ayat yang bersifat global tersebut dibutuhkan sebuah upaya maksimal yang dikenal dengan istilah Ijtihad. Sedangkan buah dari ijtihad akan melahirkan hasil yang berbeda sesuai dengan perbedaan-perbedaan yang melekat dalam diri orang-orang yang berijtihad.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan hasil ijtihad tersebut. Idealnya kita harus bersikap lapang dada dan menghormati segala bentuk perbedaan, dan bukan fanatik. Karena fanatisme yang berlebihan akan melahirkan klaim-klaim kebenaran yang subjektifitas sifatnya. Disamping itu ia juga akan melahirkan semangat juang yang tinggi bukan untuk kepentingan Islam dan Umat Islam secara umum, melainkan tenaga, waktu dan pikirannya dihabiskan untuk memperjuangkan kelompoknya dan menolak serta mengingkari orang lain yang kebetulan berseberangan pendapat dengannya.

Adanya pembedaan antara Islam sebagai ajaran dengan Islam sebagai gerakan paling tidak merupakan bukti penampakan fenomena tersebut diatas. Menyikapi keadaan seperti itu, pertama, kita harus memahami dan menjadikan Islam sebagai kekuatan ajaran dan bukan kekuatan gerakan. Gagasan ini sangat penting karena ada perbedaan sangat mendasar antara islam sebagai ajaran dengan islam sebagai gerakan. Islam sebagai ajaran bisa meluas, menyerap, dan menembus lintas ruang dan waktu. Sedangkan Islam sebagai gerakan telah mempersempit ajaran islam menjadi milik kelompok tertentu. Dan bahkan tidak jarang antara gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam tersebut terlibat konflik kekerasan, akibat perbedaan politik dan kepentingan.

Kedua, kita harus membangun sikap keberagamaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moderat, toleran, seimbang dan konsisten. Tidak cukup hanya itu kitapun harus memiliki kemampuan untuk memelihara ukhuwwah dalam diri umat manusia.

Nabi Ibrahim As, untuk menghindari perpecahan dalam keluarganya yang disebabkan karena kecemburuan Sarah terhadap Siti Hajar dan Ismail, ia harus rela untuk sementara berpisah dengan istri dan anaknya, serta meninggalkan mereka berdua di lembah yang sepi dan tandus. Demikian pula Siti hajar sendiri, menerima dengan lapang dada ketentuan ini untuk menyelamatkan keutuhan keluarganya. Sungguh luar biasa sikap yang mereka perlihatkan, sebuah pengorbanan yang hampir tidak dapat kita temukan saat ini. Karena budaya ego terlanjur menguasai diri

Islam bukan saja mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah, tetapi Islam juga mengutuk sikap mental yang melebihkan satu kelompok manusia atas kelompok yang lain. Merasa mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang lain karena keturunan, kekuasaan, pengetahuan dan kecantikan, dikutuk oleh Islam sebagai takabbur.

Dalam perjalanan sejarah, paling tidak ada tiga hal yang sering merusak keutuhan umat, yang sering menyebabkan sekelompok masyarakat memperbudak kelompok lain. Ketiga hal itu ialah keturunan, kekuasaan dan kekayaan

Kebanggaan karena keturunan, bukan saja telah menimbulkan feodalisme, tetapi juga imperialisme. Kita harus menundukan kepala dan merenungkan kembali Hadits Rasulullah Saw: tidak ada kelebihan orang kulit putih dan hitam, kecuali karena amal shaleh.

Setelah keturunan, kekuasaan sering di pakai untuk menindas orang lain. Sering, lantaran mempunyai wewenang, orang bertindak sewenang-wenang. Allah Swt mengingatkan kita tentang Firaun yang menyeret ribuan budak belian untuk membangun pyramid. Firaun memberikan hak istimewa kepada suatu kelompok masyarakat untuk menindas kelompok lain. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya Firaun berbuat sombong di muka bumi, di pecah-pecahnya masyarakat menjadi bermacam-macam golongan, sebagian menindas golongan yang lain; membunuh laki-lakinya, dan membiarkan perempuannya. Sesungguhnya ia termasuk orang yang berbuat kerusakan. { Al Qashash 4 }

Dewasa ini masih banyak kita lihat Firaun kecil yang tertawa gembira diatas penderitaan orang, Firaun-firaun kecil yang menggunakan wewenang untuk berbuat sewenang-wenang. Hari ini, suara Umar bin Khattab kepada Amr bin Ash terdengar nyaring kembali “mengapa engkau perbudak manusia, padahal ibunya melahirkan mereka dalam keadaan merdeka”.

Itulah kondisi aktual wajah umat Islam, terlepas dari suka atau tidak, yang jelas kita tidak dapat menghindar dari kenyataan. Setuju atau tidak adalah persoalan lain, namun yang jelas menyikapinya secara arif dan bijak adalah sebuah tuntutan keadaan untuk menyelamatkan misi Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Agama seharusnya menjadi perekat bagi pemeluknya, bukan malah sebaliknya.
,
Bila kita melihat kondisi objektif umat Islam saat ini, maka tidak berlebihan kiranya persoalan diatas sedikit saya diberi penekanan. Mungkin saya telalu berlebihan dalam melihat realitas, tetapi apapun pandangan tersebut semuanya dilandasi oleh kekhawatiran dan harapan. Bila penyakit kronis yang saat ini di derita umat Islam, tidak segera di diagnosa dan diobati, saya takut kita akan kembali kepada masa lalu yang suram dan menakutkan.

Momen idul adha ini adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk merenungi kembali teladan Nabi Ibrahim As yang sarat dengan pelajaran. Bagaimana Ibrahim mampu menempatkan secara tepat kepatuhan kepada Allah diatas segala-galanya. Kecintaannya kepada Ismail tidak menghalanginya untuk taat kepada perintah Allah Swt. Ismail adalah symbol kecendrungan cinta manusia, kecendrungan terhadap anak, harta, jabatan, kekuasaan, kelompok dll. Semua kecendrungan tersebut adalah manusiawi sifatnya, namun jangan sampai kecendrungan tersebut melalaikan dan mengabaikan perintah Allah Swt.

Kurban yang dijalankan Nabi Ibrahim dan keluarganya ibarat sebuah film, ia merupakan dokumentasi yang tetap aktual dan selalu menarik untuk ditonton. Peristiwa itu juga menyediakan samudra hikmah yang tak pernah habis untuk diselami. Sepotong episode memikat dari “film besar” itu adalah percakapan seorang ayah dan anak antara Ibrahim dan Ismail yang mengawali penyembelihan yang masyhur itu.

Dalam surat Ash Shaffat ayat 102, rekaman tersebut diabadikan Al Quran:

فلما بلغ معه السعي قال يبني اني ارئ في المنام اني اذبحك فانظر ماذا ترئ قال يابت افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصابرين

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai pada umur yang sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata; Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, Maka pikirkanlah apa pendapatmu, ia menjawab, Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.

Percakapan tersebut dapat dianalisis kedalam empat bagian utama. Pertama, kedua tokoh mengawali ucapannya dengan ungkapan penghormatan yang bermuatan kasih sayang yaitu ya bunayya atau wahai anakku kata Ibrahim dan ya abati atau wahai ayahku kata Ismail.

Meskipun inti pesannya adalah sesuatu yang besar dan sangat mengerikan, masing-masing bisa menyampaikannya dengan santun. Allah Swt memerintahken untuk menyembelih anak semata wayangnya, sungguh peristiwa dahsyat yang dirasakan Ibrahim, juga bagi Ismail. Disini terpancar cahaya kesabaran dari kedua belah pihak

.Ucapan yang santun [mau’izhotil hasanah] dan kasih sayang dalam menyampaikan kebenaran itulah barangkali pelajaran yang dapat kita simak dari point diatas. Sebuah sikap yang patut untuk diteladani, dalam menjalankan risalah dakwah. Sikap mencela, menghujat dan menyalahkan sudah seharusnya ditinggalkan. Karena sikap seperti itu tidak akan melahirkan simpati melainkan antipati dan bahkan permusuhan.

Kedua, Ibrahim menyampaikan pesannya tidak dengan nada instruktif namun justru secara konsultatif, meminta tanggapan sang anak terhadapnya. Ibrahim mendudukan diri sebagai ayah yang demokratis bukan yang otoriter atau memaksakan kehendaknya. Si anak ditempatkannya pada posisi yang setara dengannya, yang memiliki hak menerima atau menolak usulan sang ayah.

Pola komunikasi demokratis ini tentunya telah dibangun oleh Ibrahim dalam waktu yang lama sehingga dipuncak ketegangan seperti itu masih dibuka kesempatan untuk berbeda pendapat.

Ketiga, meskipun menggenggam kebebasan memilih, namun Ismail lebih memenangkan perintah Allah Swt daripada memperturutkan ego pribadinya. Dengan tegas ia mendorong ayahnya untuk tidak ragu melaksanakan perintah tersebut. Sikap ini menguatkan hati sang ayah. Ucapannya itu merupakan cermin keberhasilannya mengatasi rasa takutnya terhadap resiko yang akan ditanggungnya bila menerima perintah Allah Swt. Kemampuannya untuk mengambil resiko terpahit tersebut merupakan buah pendidikan keimanan yang luar biasa.

Keempat, bagian akhir dari kalimat Ismail tersebut adalah pertanda sikap tawadhu atau rendah hati dengan ucapan “Insya Allah menjadi orang yang sabar”. Ketegasan dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan tidak serta merta harus kehilangan orientasi kesantunan sebagai neraca penyeimbangnya.

Ismail pun memahami bahwa dipenghujung penentuan sikapnya itu akan dicapainya suatu derajat yang sangat tinggi yaitu termasuk golongan manusia penyabar. Golongan yang hanya dapat dicapai melalui proses panjang yang menuntut ketekunan dan pengorbanan.

October 23, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: