Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

MENGGALI HIKMAH AL-QURAN


MENGGALI HIKMAH AL-QURAN

A. Pengertian.

Al-Quran adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, berbahasa Arab, terdiri dari 30 juz dan 114 surat, diawali surat Al-fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas, untuk jadi pedoman bagi manusia dan membacanya adalah Ibadah.

Defenisi sederhana tersebut, bila difahami dengan baik dan benar maka paling tindak memberikan penjelasan singkat kepada kita apa sebenarnya Al-Quran itu dan bagaimana seharusnya kita memperlakukannya.

Bagaimana kita memperlakukan sesuatu sangat tergantung kepada persepsi kita tentang sesuatu tersebut. Begitu pula halnya dengan Al Quran. Bila kita meyakini bahwa Al-Quran itu firman Allah, maka keyakinan itulah yang akan menjadi landasan sikap dan prilaku kita ketika berinteraksi dengannya.

Harus kita akui bahwa Al Quran itu seperti mutiara yang sangat indah, yang memancarkan cahaya dari segala sisinya. Dari sudut manapun mata diarahkan maka, yang ditemukan adalah kemilau yang sangat indah.

Melihat dan bahkan menikmati indahnya sisi-sisi sebutir mutiara adalah persoalan sangat mudah. Namun membuat kesimpulan yang sempurna dan menyeluruh tentang apa itu mutiara yang sebenarnya bukanlah persoalan mudah. Dari kesimpulan itulah yang kemudian disadari atau tidak ia telah membentuk persepsi
.
Persepsi seseorang terhadap sesuatu pada dasarnya harus berawal dari pengetahuan [pengenalan], namun kenyataannya tidak jarang kita dapati orang memahami sesuatu berawal dari penilaiannya terhadap perlakuan/sikap seseorang terhadap sesuatu itu. Cara inilah yang sangat berbahaya, bukan saja ia membuat sebuah kesimpulan yang keliru tetapi juga ia semakin jauh dari kebenaran yang sesungguhnya.

Bukan untuk bertele-tele atau membesar-besarkan masalah, hal ini sedikit saya beri penekanan dengan harapan mudah-mudahan, ia menjadi pembanding atas sikap dan perlakuan kita terhadap Al Quran. Sekaligus hal ini saya jadikan landasan berpijak untuk meneruskan perjalanan menelusuri rangkaian hikmah Al-Quran.

B. Fungsi Al-Quran.

Dalam Al Quran kita temukan banyak ayat-ayat yang menyebutkan fungsinya, diantaranya adalah:

1. Hudan.
ذلك الكتاب لا ريب فيه هدئ للمتقين
Artinya; Kitab [Al-Quran] itu tidak ada keraguan di dalamnya;
Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Al baqarah; 2

2. Rahmah
هدئ ورحمة للمحسنين

Artinya. Petunjuk dan rahmah bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, [Lukman.3]

3. Dzikr
وهدا دكر مبارك انزلناه افانتم له منكرون
Artinya; Dan AlQuran ini adalah suatu kitab peringatan/zikr yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan. Maka mengapa kamu mengingkarinya ? Al-Anbiya:50

4. Maw’izhah

هد ا بيان للناس وهدئ وموعظة للمتقين
Artinya; Al Quran ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunju serta pelajaran /mau’izhah bagi orang-orang yang bertaqwa. Ali Imran; 138.

5. Syifa
وننز ل من القران ما هو شفاء ورحمة للمؤ منين ولا يزيد الظلمين الا خسارا

Artinya; Dan Kami telah turunkan dari Al Quran sesuatu yang menjadi Penawar/syifa dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Al Isra; 82.

6. Tadzkirah
كلا انه تد كرة
Artinya: Sekali-kali tidak demikian halnya. Al Quran itu adalah peringatan/tadzkirah. Al Mudatsir, 54.

7. Al Furqan
تبارك الدئ نزل الفرقان علئ عبده ليكون للعلمين نديرا
Artinya: Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan[pembeda] kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Al Furqan:1

Banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang dengan tegas menyebutkan fungsi Al Quran. Apa yang saya sebutkan disini pada dasarnya sudah mewakili dari keseluruhan fungsinya.

Yang menjadi perhatian utama saya dalam tulisan ini lebih kepada bagaimana kita membaca, memahami dan menghayati kandungan Al Quran agar ia dapat memberikan pencerahan bagi orang yang membacanya.

Agar tujuan tersebut dapat dipenuhi, maka kita harus kembali kepada cara-cara yang disebutkan Al Quran bagaimana seharusnya ia di Di dekati agar misi utamanya dapat diwujudkan

C. Cara membaca Al Quran

Sedikitnya ditemukan 9 cara/methode yang dapat dijadikan pedoman dalam memahami Al Quran sehingga mendapat pemahaman seperti yang dikehendaki oleh Allah Swt. Cara/methode tersebut adalah:

1. Dzakarah [mengingat]

Sekali-kali jangan. Sesungguhnya Al Quran adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki ia mengingatnya/dzakarah.’Abasa: 11-14

2. Yastami’u [mendengarkan]

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik. [Al-‘Araf:204]
3. Yanshitu [memperhatikan dengan cermat]

….dan perhatikanlah dengan cermat, agar kamu mendapat rahmat. [Al-‘Araf: 204]

4. Qara’a [membaca]

Apabila kamu membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.[An-Nahl,98]

5. Yatlu [menelaah]

Orang-orang yang Kami berikan kepadanya Al-Kitab mereka menelaah dengan bacaan yang benar.[ Al- Al-Baqarah,121]

6. Rattili [membaca dengan perlahan]

….dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan.[Al-Muzammil, 4]

7. Tadrusun [mengkaji secara akademik]

…hendaklah kamu menjadi rabbani [orang-orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah Swt], karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan karena kamu tetap mengkajinya. [Ali Imran.79]

8. Yatafakkarun [memikirkan]

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. [An-Nahl.44]

9. Tadabbur [memahami dengan hati]

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci. [Muhammad.24]

D. Persiapan-persiapan yang harus dilakukan

Persoalan yang sangat penting dalam membaca Al-Quran adalah persiapan. Hal ini menjadi penting karena ia merupakan penentu keberhasilan seseorang dalam membaca Al-Quran. Hanya saja sangat disayangkan, persoalan penting ini jarang diperhatikan orang dengan serius. Persiapan-persiapan tersebut adalah:

1. Tidak mengingkari dan tidak ragu sedikitpun kepada Al Quran. [Hud: 17]

Persyaratan ini wajar untuk dipenuhi, sebab akan memberikan pengaruh terhadap kelanjutan proses mempelajari Al-Quran untuk dapat memahami hingga mengamalkan secara konsisten dan menyeluruh. Terlebih lagi bahwa Al-Quran adalah sesuatu yang bersifat ruhaniyah.

2. Mendengarkan dan menyimak ketika dibacakan. [Al-A’raf: 204]

Mendengarkan dan menyimak ketika Al-Quran dibacakan merupakan syarat untuk memperoleh rahmat. Hal ini sangatlah beralasan, sebab apapun yang mengakibatkan mendapat sejumlah kebaikan dan manfaat, hendaknya diterima dengan penuh konsentrasi. Sehingga muatan-muatan pesan yang dikandungnya dapat diserap tanpa ada yang menghalangi.

3.Tidak menyempitkan dada [Al-‘Araf:2]

Allah Swt menurunkan Al Quran untuk manusia agar memperoleh kedudukan yang mulia, yaitu taqwa. Hal ini menuntut kesiapan jiwa yang kuat dan hanya dapat dibentuk dengan melapangkan dada. Sebab, berfungsinya Al-Quran dimulai dengan kesiapan hati: sebuah perlengkapan dalam diri manusia sebagai tempat menyimpan. Melalui melapangkan dada itulah, hati menjadi terbuka luas dan memudahkan masuknya Al-Quran serta tersimpan dengan rapi.

4. Tidak berpenyakit hati dan tidak sesat [Al-Haj: 52-54]

Hati adalah potensi manusia yang luar biasa namun disisi lain hati sangat mudah diserang oleh berbagai macam penyakit dan menjadi kotor bahkan bias menjadi keras yang dapat melebihi batu sekalipun.

Al-Quran itu suci dan ia tidak akan masuk kedalam dada menusia apalagi menetap didalamnya kecuali orang-orang yang memiliki kesucian hati. Kita tidak akan mampu merasakan nikmatnya belaian ayat-ayat Al-Quran bila tidak dengan kesucian hati. Dengan kata lain Al-Quran akan menetap dalam hati bila hati kita selamat dari kotoran, penyakit dan kesesatan.

5. Menyucikan diri. [Al-Waqi’ah:77-80]

Penertian “menyucikan diri” dalam konteks memahami dan memanfaatkan Al-Quran berkaitan dengan aspek-aspek jasmaniah, akal pikiran, hati dan jiwa manusia. Melalui proses penyucian yang melibatkan segenap unsure tubuh, maka Al-Quran yang juga berkarakter suci, akan menjadi amat mudah berinteraksi, beradabtasi.

Karena Allah yang Maha Suci mengajarkan Al-Quran dan menjelaskannya [Ar-Rahman:1-4]. Maka, Al-Quran sebagai kalam suci dan manusia yang menyucikan, akan terjalin hubungan yang sangat kuat yang memudahkan memahami dan mengamalkannya.

Itulah beberapa persyaratan yang walaupun telah kita lihat betapa pentingnya persyaratan-persyaratan tersebut namun sering kita dapati hal ini tidak begitu di perhatikan atau bahkan tidak dianggap penting oleh orang yang membaca Al-Quran.

E. Adab-adab bathin dalam membaca Al-Quran

Al-Quran adalah kitab suci, ia berbeda dengan kitab-kitab karangan manusia, karena Al-Quran adalah firman Allah Swt. Sudah barang tentu untuk membacanya diperlukan adab-adab baik adab lahir maupun bathin. Disini saya hanya akan menyampaikan adab-adab bathin yang berhubungan dengan membaca Al-Quran. Adab-adab tersebut diantaranya adalah:

1. Ta’zhimul kalam [Mengagungkan firman].

Memahami keagungan dan ketinggian firman, karena ia merupakan karunia terbesar yang Allah berikan kepada manusia dalam menurunkan Al-Quran dari Arasy kemuliaan-Nya kederajat pemahaman makhluk. Walaupun ia berbahasa arab tapi ia bukan ucapan orang arab. Ia adalah firman [ucapan] Allah Swt.

2. Ta’zhimul mutakallim [mengagungkan Allah]

Orang yang membaca Al-Quran harus menghadirkan dalam hatinya keagungan Allah, dan menyadari bahwa apa yang dibacanya bukanlah pembicaraan manusia.

لا يمسه الا المطهرون
Artinya: Tidak menyentuhnya kecuali orang di sucikan.

Tidak semua tangan bisa menyentuh kulit mushaf.
Tidak semua lisan bisa membaca huruf-hurufnya. Tidak semua hati bisa memperoleh makna-maknanya.

3. Hudhurul Qalb [kehadiran hati]

ييحي حد الكتاب بقوة واتينه الحكم صبيا
Artinya: Ya Yahya ambillah[pelajarilah] kitab itu dengan kuat, Kami akan memberikan kepadanya hikmah sewaktu ia masih kecil. [Maryam:12]

Dengan kuat menurut ayat diatas yakni dengan serius dan bersungguh-sungguh serta berkonsentrasi penuh dalam membacanya dan mengarahkan perhatian hanya kepadanya.

Sebagian ulama terdahulu apabila mereka membaca satu ayat tetapi hatinya tidak bersama dengannya maka ia mengulangi lagi bacaannya, sampai ia betul-betul konsentrasi. Sifat ini lahir dari apa yang ada sebelumnya yaitu ta’zhim.

4. Tadabbur

Ali bin Abi Thalib berkata: Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak disertai dengan pemahaman terhadapnya, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Quran yang tidak disertai dengan tadabbur [memahaminya dengan hati]

Abu Dzar berkata: Rasulullah Saw pada suatu malam mengimami kami lalu membaca satu ayat berulang-ulang, yaitu surat Al-Maidah ayat 118.

Sebagian ulama berkata: Satu ayat yang tidak aku fahami dan hatiku tidak bersamanya maka aku tidak menganggapnya berpahala.

Sebagian Ulama yang lain berkat:
Aku punya program menghatamkan Al-Quran setiap jumat, setiap bulan dan tahun.

Tapi aku punya program hataman yang semenjak 30 tahun yang lalu belum bisa aku tuntaskan, yaitu Tadabbur.

5. Tafahhum [Memahami secara mendalam]

Mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat, karena Al-Quran meliputi berbagai masalah tentang sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan-Nya, ihwal paara Nabi, para pendusta bagaimana mereka dihancurkan, perintah dan larangan serta surga dan neraka.

6. Meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahahan.

Adapun hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman diantaranya adalah:

Perhatiaannya hanya tertuju kepada bacaan dan makhraj huruf saja.
Taqlid kepada mazhabnya.
Terus menerus dalam dosa atau sikap sombong, nafsu kepada dunia yang diperturutkan. Hal ini dapat menyebabkan kegelapan dan karat dalam hati.

Ia bagaikan kotoran di kaca cermin, sehingga menutupi munculnya kebenaran secara jernih. Ia bahkan merupakan penghalang hati terbesar. Semakin besar syahwat semakin besar pula penghalang untuk bisa memahami makna-makna Al-Quran. Semakin ringan beban dunia dari hati semakin dekat pula tersingkapnya makna-makna Al-Quran. Hati ibarat cermin sedangkan syahwat ibarat kotoran dan makna-makna Al-Quran ibarat gambar yang terlihat dicermin.

Oleh karena itu Allah Swt mensyaratkan Inabah [taubat/permohonan ampun] untuk bisa mendapatkan pemahaman dan pengambilan pelajaran. [Qaf:8]

7. Takhshish

Menyadari bahwa dirinya merupakan sasaran yang dituju oleh setiap khitab/pembicaraan [nash] yang terdapat dalam Al-Quran.

Jika mendengar/membaca suatu peri ntah atau larangan maka ia memahami bahwa perintah dan larangan itu ditujukan kepadanya. Begitu juga halnya dengan janji dan ancaman.

Jika kisah Nabi atau orang-orang terdahulu, ia tahu bahwa itu bukan sekedar cerita semata tapi untuk diambil pelajaran darinya [Hud:120]

Hendaklah setiap hamba yang membaca Al-Quran meyakini bahwa Allah meneguhkan hatinya dengan kisah-kisah para Nabi, kesabaran mereka dalam menghadapi gangguan, ketegaran mereka dalam membela kebenaran dan agama.

Qatadah berkata: Seseorang tidak duduk menekuni Al-Quran kecuali ia akan bangkit dengan memperoleh tambahan atau kekurangan [tidak mendapat apa-apa kecuali kerugian] Al-Isra: 82.

8. Ta’atsur [Mengimbas kedalam hati]

Mengimbasnya suatu ayat yang dibaca kedalam hati sangat dipengaruhi oleh suasana hati tersebut sebagaimana telah disebutkan dalam adab-adab bathin terdahulu. Imbasan tersebut juga sesuai dengan tingkat pemahaman orang-orang yang membacanya.

Bekas atau imbasan setiap ayat berbeda-beda sesuai dengan tema yang dibaca. Ia bisa berupa rasa sedih, takut, harap dan sebagainya. Perhatikan surat Thaha: 81-82.

Rasulullah berkata kepada Ibnu Mas’ud: Bacakanlah kepadaku, Ibnu Mas’ud berkata: aku mulai membaca surat An-nisa dan ketika sampai ayat 41 aku melihat kedua matanya berlinang dan berkata kepadaku cukup.

Muhammad bin Kaab al Qurthubi: Orang yang telah sampai Al-quran kepadanya sama dengan orang yang diajak bicara oleh Allah Swt.

9. Taraqqi [Peningkatan penghayatan sampai ketingkat mendengarkan kalam dari Allah bukan dari dirinya sendiri]

Ada tiga derajat bacaan orang-orang yang membaca Al-Quran, yaitu:

1. Derajat yang paling rendah.

Seorang hamba merasakan seolah-olah dia membacanya kepada Allah, berdiri/duduk dihadapan-Nya, sementara Allah menyaksikan dan mendengarkannya. Sehingga dengan gambaran perasaan seperti itu ia dalam posisi selalu memohon dan merendahkan diri.

2. Derajat pertengahan.

Menyaksikan dengan hatinya seolah-olah Allah Swt melihatnya dan mengajaknya bicara, memanggilnya dengan berbagai nikmat dan kebaikan-Nya, sehingga ia memahami.

3. Derajat paling tinggi.

Melihat Mutakallim dalam setiap ayat yang dibacanya, melihat sifat-sifat-Nya dalam kalimat yang ada, sehingga ia tidak melihat dirinya dan bacaannya. Perhatiannya hanya terkonsentrasi kepada Mutakallim, pikiran terikat kepada-Nya, seolah-olah hanyut dalam menyaksikan Mutakallim sehingga ia tidak melihat kepada selainnya. Ini derajat muqarrabin dan kedua tingkat sebelumnya adalah derajat Ashabul Yamin, diluar dari derajat tersebut adalah Ghafiliin [Orang-orang yang lalai]

10. Tabarri

Melepaskan diri dari daya dan kekuatan, memandang kepada dirinya dengan pandangan ridha. Bila ia melewati suatu ayat yang berhubungan dengan janji Allah kepada orang-orang yang shalih, ia tidak melihat dirinya dalam ayat tersebut. Begitu pula sebaliknya.

F. Hikmah-hikmah yang diperoleh

Apabila memahami Al-Quran menggunakan cara-cara yang telah dipaparkan diatas, maka Insya Allah akan mendapatkan pencerahan sebagai berikut;

1. Syahwat yang diarahkan kepada kehidupan surga
2. Hawa yang dikendalikan agar mengikuti kebenaran
3. Pemberdayaan anggota tubuh dengan konsumsi yang terpelihara.
4. Aktualisasi indra yang dibimbing oleh nurani.
5. Kekuatan intelektual yang dibimbing oleh hati.
6. Hati yang menjadi tempat keimanan, ruh, cahaya dan Al-Quran.
7. Jiwa yang senantiasa melakukan penyucian.

October 20, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: