Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

SEHAT BERSAMA SURAT YASIN


SEHAT BERSAMA SURAT YASIN

PERTEMUAN PERTAMA
Ayat 1 s/d 6

بسم الله الرحمن الرحيم

يس والقران الحكيم انك لمن المرسلين علئ صراط مستقيم تنزيل العزيز الرحيم لتنذر قوماما انذر ءابا ؤهم فهم غفلون

PENJELASAN KATA-KATA

Huruf ya dan sin pada awal surat diatas adalah huruf fawatihus suar [pembuka surat-surat]. Huruf wa yang bersambung dengan al-Quran, adalah huruf qasam [sumpah] yang diartikan dengan demi. Ia diketahui sebagai sumpah karena kata sesudahnya yaitu al-Quran berbaris katsrah sehingga menjadi wa al-Qurani. Kalau kata al-Qurannya berbaris akhir dhammah dan menjadi wa al-Quraanu, maka artinya dan al-Quran.

Kata al-Hakim pada ayat kedua diatas terulang sebanyak 81 kali dalam al-Quran. Maknanya berkisah pada yang bijaksana dan penuh hikmah. Kata Innaka terdiri dari dua yaitu Inna dan Ka. Inna adalah huruf penegas/penguat sehingga ia berarti sesungguhnya. Ka adalah kata ganti orang kedua dari Anta [anda/engkau]. Kata lamina juga terdiri dari dua yaitu la dan min. La berarti sungguh dan min berarti dari atau termasuk.

Al-Mursalin aslinya adalah al-Mursaluun, tapi karena di dahului oleh huruf min [huruf jar] maka ia menjadi al-Mursaliin. Dari segi arti keduanya sama, yaitu orang-orang yang diutus. Kata Mursaliin dalam al-Quran terulang sebanyak 24 kali. ‘Ala berarti atas, ia adalah hufuf jar. Shiratin adalah kata benda, dari mana kita tahu yaitu dari baris akhirnya in atau karena didahului oleh huruf jar [‘ala]. Shirath artinya jalan, yaitu jalan yang lebar dan luas. Kata shirath terulang sebanyak 45 kali dalam al-Quran. Kata Mustaqiim berarti lurus. Al-Mustaqiim terulang sebanyak 31 kali sedangkan dalam bentuk lain mustaqiiman ada 6 kali dalam al-Quran. Jadi kalau digabung shirathin Mustaqiim, maka berarti jalan yang lebar dan luas lagi lurus.

Kata tanziil terulang sebanyak 11 kali, ia berasal dari kata anzala yang berarti menurunkan. Al-Aziiz dan Ar-Rahim keduanya adalah asma al husna. Asma al-‘Aziiz terulang sebanyak 99 kali dalam al-Quran. Allah adalah Al-‘Aziiz yakni Yang Maha Mengalahkan siapapun yang melawan-Nya dan tidak terkalahkan oleh siapapun. Dia juga yang tidak ada yang sama dengan-Nya, serta tidak dapat dibendung kekuatan-Nya. Dia begitu tinggi sehingga tidak dapat disentuh oleh keburukan dan kehinaan. Kata ar-Rahiim terulang sebanyak 114 kali dalam al-Quran yang berarti Maha Pengasih/penyayang.

Litunzira kata li dalam ayat ini berarti agar. Tunzira asalnya tunziru karena dimasuki li maka ia menjadi tunzira, artinya engkau memberi peringatan/mengingatkan. Sehingga bila digabung maka ia menjadi agar engkau [Muhammad] memberi peringatan. Qouman yang berarti kaum terulang sebanyak 40 kali, sedangkan dalam bentuk lain Qaumin terdapat 47 dan al Qaumu yang paling banyak yaitu 206 kali dalam al-Quran. Adalagi yang disambung dengan kata ganti orang kedua laki-laki yaitu Qaumuka terdapat 11 kali dalam al-Quran. Perubahan kata ini dalam bentuk lain misalnya Qaumuhu [kaumnya] ada 56 kali dan Qaumuna [kaum kami] 4 kali.

Unzira bentuk telah pasif yang berarti telah diberi peringatan/telah diperingatkan. Ia berasal dari kata anzara [dia telah memperingatkan].

Kata ghofilun adalah kata benda yang menunjuk kepada pelaku, ia berbentuk jamak, dan terulang 9 kali. Dalam bentuk lain ghofiliin terulang 8 kali, bahkan dalam bentuk tunggal yang disertai huruf jar [bi] terulang 9 kali. Kata bendanya [masdar] menjadi ghaflah terulang 5 kali dalam al-Quran.

KANDUNGAN MAKNANYA

Secara keseluruhan kandungan 83 ayat surat yasin meliputi berbagai pokok pembahasan. Diantaranya, penjelasan tentang keberadaan Allah Swt, hari kebangkitan, konsekwensinya berupa keimanan kepada Allah Swt dan para nabi-Nya, tujuan-tujuannya, serta bantahan dan pernyataan perang terhadap orang-orang kafir dan musyrik. Juga diutarakan argument tentang kebenaran ajaran Ilahi dan kesesatan ajaran lainnya, berbagai kejadian di syurga dan keadaan para penghuninya. Ringkasnya, pokok-pokok pembahasan al-Quran yang berhubungan dengan Allah, hari kebangkitan, dan ajakan kepadanya terkandung dalam ayat ini. Oleh karena itu, esensi al-Quran sesungguhnya adalah ayat-ayat tentang keimanan kepada Allah. Dalam hal ini, surat Yasin meliputi seluruh penjelasan tersebut.

Subhanallah, luar biasa luasnya kandungan surat yasin. Adalah wajar kalau kemudian Rasulullah Saw memberikan penekanan pada surat ini dengan fadhilah-fadhilahnya yang luar biasa pula. Sudahkah kita merasakan keluasan kandungan dan maknanya ketika membaca surat ini. Kalau sudah alhamdulillah, bila belum maka bersyukurlah kepada Allah karena Ia masih memberi kesempatan kepada kita untuk dapat mengarungi keluasan maknanya.

Untuk mendapatkan itu semua maka yang perlu dipersiapkan adalah kondisi hati. Kesiapan hati sangat menentukan hasil penjelajahan kita dalam mengarungi samudra yasin ini. Al-Quran tidak akan menembus hati orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah Swt berfirman:

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat setiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka selalu menempuhnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai darinya. [al-A’raf: 146]

Dengan mengucapkan basmalah dan mengharap ridha Allah serta menjadikan-Nya sebagai Guru, mari kita telusuri kedalaman ayat-ayat-Nya. Rabbi zidni ‘ilman warzuqni fahman/ ya Rabb tambahkanlah kepadaku ilmu dan anugerahkanlah kepadaku pemahaman [yang benar]

بسم الله الرحمن الرحيم

يس
Hanya Allah yang mengetahui maknanya

Dalam al-Quran terdapat dua puluh sembilan surat yang di mulai dengan huruf-huruf hijaiyah seperti ini, yang disebut dengan fawatihus suar/pembuka surat-surat al-Quran. Huruf-huruf hijaiyah yang menjadi pembuka surat-surat tersebut berjumlah empat belas, yang sementara ulama merangkainya menjadi kalimat:

نص كريم قاطع له سر
Teks mulia yang bersifat pasti dan memiliki rahasia

Mengenai pengertian ayat pertama surat yasin ini para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Pendapat-pendapat tersebut diantaranya:

Ada yang memahami bahwa ia sebagai tantangan kepada mereka yang meragukan kebenaran wahyu Ilahi yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw itu. Ada pula yang memahaminya sebagai bagian dari pemeliharaan Allah Swt terhadap al-Quran. Huruf ya dan sin masing-masing di temukan sebanyak 285 kali dalam surat yasin ini. Jumlah tersebut sama dengan 15 x 19. Angka sembilan belas berasal dari jumlah huruf basmalah dan ia diambil dari ayat ke 30 surat al-Mudatsir. Dengan kata lain, bila jumlah huruf ya dan sin dalam surat ini masing-masing jumlahnya tidak habis dibagi dengan angka 19, maka berarti ada huruf-huruf yang ditambah atau di kurangi oleh manusia. Subhanallah, tidakkah bertambah yakin kita akan kebenaran al-Quran.

Selanjutnya pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf fawatihus suar tersebut termasuk cara Allah untuk menarik perhatian orang yang mendengarkan al-Quran, kepada apa yang akan disampaikan. Yang akan disampaikan tersebut tentulah sesuatu yang sangat penting, sehingga Allah memilih cara tertentu untuknya. Dan sesuatu yang sangat penting tersebut adalah al-Quran. Hal ini dapat di lihat pada keseluruhan surat yang dimulai dengan fawatihus suar. Ayat selanjutnya sesudah huruf-huruf hijaiyah tersebut selalu menyebutkan al-Quran. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan disebut dengan apersepsi. Tujuan supaya informasi penting yang akan disampaikan tersebut betul-betul masuk kedalam hati dan pikiran orang yang mendengarkannya sehingga berkesan. Adakah kata lain yang pantas diucapkan selain subhanallah. Sudahkah kesan seperti itu kita dapati dalam membaca surat yasin. Alhamdulillah ya Allah Engkau masih beri kami kesempatan untuk memperbaiki kekurangan.

Ada pula yang memahami huruf ya dan sin tersebut sebagai singkatan dari ya insanu yang berarti wahai manusia sempurna. Manusia sempurna yang dimaksud menurut Ibnu Abbas adalah Nabi Muhammad Saw. Pengertian ini dihubungkan dengan ayat ke 3 dari surat yasin yaitu, innaka laminal mursaliin [sesungguhnya engkau pastilah salah seorang dari rasul-rasul]

Terlepas dari apapun pendapat mereka, namun yang pasti adalah bahwa mereka telah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan untuk mengungkap makna yang dikandung oleh surat yasin. Bagaimana dengan kita, kontribusi apa yang telah kita lakukan untuk memahami surat yasin.

والقران الحكيم
Demi al-Quran yang penuh hikmah

Huruf wa diawal ayat ini adalah waw qasam [sumpah]. Pada umumnya sumpah di perlukan untuk pembuktian dan menguatkan keyakinan. Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa, sumpah al-Quran ini mengandung makna pengagungan terhadap muqsam bih [objek yang digunakan untuk bersumpah]. Ibnu Qayyim al Jawziah mengatakan bahwa sumpah Allah Swt dengan sesuatu membuktikan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar.

Bila sumpah diatas di hubungkan dengan muqsam bih berarti bahwa Allah ingin menekankan keagungan al-Quran. Salah satu bentuk keagungannya adalah al-hakim, sebagaimana penyifatannya seperti ayat diatas. Penyifatan tersebut mengisyaratkan bahwa al-Quran mengandung hikmah yang dapat mengantar manusia kepada kemaslahatan duniawi dan ukhrawi serta menghindarkannya dari segala petaka karena itulah makna hikmah. Di sisi lain, hakim/bijaksana adalah sifat makhluk hidup, berakal, serta memiliki kehendak. Walau penyifatan tersebut bagi al-Quran merupakan metafora, ia mengesankan bahwa kitab suci al-Quran memiliki “ruh”, dan memang Allah juga menyatakan bahwa:

وكذالك اوحينا اليك روحا من امرنا
Demikianlah Kami telah menurunkan kepadamu “ruh” dari sisi Kami, yakni al-Quran [QS. Asy- Syura: 52]

Al-Quran akan dekat kepada kita dan kitapun akan merasakan kedekatan itu jika kita memiliki ruh yang bersih. Ia akan membuka hati dan rahasia-rahasianya jika kita bersedia membuka hati kita kepadanya.

Bila keyakinan bahwa al-Quran dapat mengantarkan manusia kepada kemaslahatan dunia dan akhirat serta menghindarkan dari segala bentuk bencana. Sekaligus selalu membuka hati dan membeberkan rahasia yang sangat diperlukan oleh manusia, maka alangkah baiknya sekiranya kita mempersiapkan segala cara untuk dapat senantiasa dekat dan akrab dengan al-Quran. Karena hanya dengan kedekatan dan keakraban itulah kita mendapatkan manfaat yang sebanyak-banyak dari al-Quran.

Bila al-Quran disifati dengan bijaksana, maka orang-orang yang bersahabat dengan al-Quranpun akan bijaksana. Bukankah sifat bijaksana bagi manusia saat ini merupakan sesuatu yang langka dan mahal harganya. Jadilah orang yang istimewa karena kebijaksanaan dan jadilah orang yang bijaksana karena kedekatannya dengan al-Quran. Demikian kurang lebih kandungan ayat ke dua, wallahu A’lam.

انك لمن المرسلين
Sesungguhnya engkau pastilah salah seorang dari rasul-rasul

Ayat kedua diatas menggunakan kata al-Quran sebagai sumpah untuk menekankan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang rasul. Tidak seorangpun secara pribadi yang dikukuhkan pemberitaannya oleh al-Quran dengan sumpah, kecuali Nabi Muhammad Saw.

Huruf ka dalam ayat diatas, merupakan kata ganti orang kedua yaitu anta, yang berarti engkau. Engkau dalam ayat ini adalah nabi Muhammad Saw. Ketika kita membaca ayat-ayat seperti ini seharusnya hadir dalam pikiran dan hati kita siapa engkau tersebut. Dalam ayat ini berarti katika membacanya maka sosok pribadi nabi hadir dalam pikiran dan hati kita.

Keberhasilan kita menghadirkan nabi dalam pikiran idealnya adalah sebuah keharusan, ini disebabkan karena nabi adalah orang yang paling memperhatikan nasib kita, yang perhatiannya kepada kita melebihi siapapun. Bahkan ia adalah orang yang sangat mengkhawatirkan akan keimanan dan keselamatan diri kita, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Firman Allah surat at-Taubah ayat 128 menyebutkan hal tersebut:

لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف الرحيم
Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan [keimanan dan keselamatan] bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman. [at-Taubah: 128]

Ketika kita sampai pada kondisi seperti tersebut diatas, berarti kita telah berinteraksi dengan al-Quran. Kenikmatan interaksi tersebut sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, keimanan dan pemahaman terhadap objek interaksi tersebut. Ketika semua hal tersebut menyatu serta hati dan pikiran kita hanya tertuju kepada objek, maka disitulah emosinal akan tumpah dan itulah kenikmatan yang paling indah ketika membaca al-Quran.

Efek yang lahir dari interaksi tersebut bermacam-macam ada rasa harap, takut, cemas, dan khawatir. Yang jelas bila kita telah berhasil sampai di tingkat ini, berarti kita telah sampai di depan pintu gerbang rahmat dan ampunan Allah. Dari sinilah seharusnya doa terucap. Dan doa ketika itu adalah doa yang sangat indah, karena ia lahir dari lubuk kesadaran yang teramat dalam. Adalah sangat di sayangkan bila kita membaca ayat demi ayat al-Quran tidak mengantarkan kita kepada keadaan seperti itu.

Innaka lamin al-mursalin, untuk menyampaikan kalimat singkat inilah Allah bersumpah. Dan dengan sumpah tersebut yang merupakan penguat dan penegas diharapkan memperkuat keyakinan Nabi Muhammad akan kerasulan dirinya. Ini akan menjadi bekal yang sangat berarti bagi Nabi dalam menjalankan misi kerasulannya. Selanjutnya bagi setiap mukmin ayat ini akan menjadi pengokoh keyakinannya kepada Rasulullah Saw

Disamping itu, dari ayat ini juga diharapkan orang-orang yang meyakini kerasulan Muhammad Saw akan melakukan introspeksi diri, berkaitan dengan sikapnya terhadap Rasul dan ajarannya. Karena keyakinan tidak boleh hanya menempati hati dan lisan saja, ia harus diterjemahkan dalam bentuk ketaatan berupa perbuatan nyata. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan: Apa buktinya kalau kita yakin kepada Rasul.

Kalau kesan seperti ini muncul setiap kali kita membaca surat yasin, maka alangkah dahsyatnya perubahan yang akan kita lakukan ketika puluhan tahun sudah kita membacanya. Demikian kurang lebih mutiara yang dapat diambil dari ayat ketiga. Wallahu a’lam.

علئ صراط مستقيم
Pada jalan yang lurus

Ayat ini merupakan penjelasan Allah kepada Nabi bahwa ia diutus pada jalan yang lurus. 45 kali kata shirat dalam al-Quran dan semuanya dalam bentuk tunggal, berbeda dengan sabil yang juga berarti jalan. Ini berarti bahwa shirat hanya satu dan bersifat benar. Shirat berarti jalan yang luas. Ia tidak hanya luas tapi disifati pula dengan kata mustaqiim/lurus. Jadi shirathal mustaqim berarti jalan yang luas dan lurus.

Bukankah dalam shalat ketika membaca al-fatihah kita memohon kepada Allah agar di bimbing ke jalan yang lurus. Ini berarti bahwa kita meminta kepada Allah agar dapat mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Karena itulah makna jalan yang lurus.

تنزيل العزيز الرحيم
Yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengasih

Al-Quran yang dijadikan landasan sumpah pada ayat kedua disifati dengan kata hakim/penuh dengan hikmah dan bijaksana. Pada ayat ini Allah menyebutkan siapa yang menurunkan al-Quran tersebut.

Kata tanziilan, berarti hard al-syai-I min ulwi ila sufli, turunnya sesuatu dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah. Pengertian ini hemat penulis sangat penting untuk digaris bawahi, karena kesadaran akan ketinggian al-Quran tersebut seharusnya mendahului segala sikap kita terhadap al-Quran. Dari kesadaran tersebut niscaya akan lahir sikap ta’zhim [pengagungan] baik ta’zhimul kalam [mengagungkan firman] maupun ta’zhimul mutakallim [mengagungkan yang berfirman]. Dan dari ta’zhim inilah sikap-sikap positif terhadap al-Quran akan muncul. Ayat 77 s/d 80 surat al-Waqi’ah dapat membantu lahirnya sikap ta’zhim. Allah berfirman:

Sesungguhnya al-Quran itu adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara [lauhul mahfuzh], tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Tuhan semesta alam [al-Waqi’ah: 77-80]

Rahmat Allahlah yang menurunkan al-Quran dari ketinggian ‘Arasy-Nya kemudian mentranslasinya kedalam bahasa bumi, bahasa manusia. Agar dengan bahasa tersebut manusia bisa memahami. Walaupun sudah ditranslasi kedalam bahasa manusia, namun tidak semua tangan bisa menyentuhnya dan tidak semua lisan mampu melafalkannya.

Dalam al-Quran penulis temukan kata tanziilan sebanyak 11 kali. Masing-masing dirangkai dengan kata rabbil ‘alamin sebanyak 4 kali, ‘Azizil hakim 3 kali, dan selebihnya dirangkai dengan kata ‘Azizir Rahim, ‘Azizil Alim, rahmanir rahim dan hakimil hamid, keseluruhannya masing-masing 1 kali. Dengan kata lain Asma yang menyertai tanziilan tersebut adalah : rabbil ‘Alamin, al-‘Aziz, al-Hakim, ar-Rahim, al-‘Alim, ar-Rahman dan al-Hamid. Ada 6 Asma selain Rabbul ‘Alamin. Ke enam Asma tersebut menggambarkan sifat Kalam [al-Quran].

Menurut hemat penulis, al-Quran diturunkan oleh Pemelihara semesta alam untuk jadi pemelihara semesta alam. Semesta alam ini hanya dapat di pelihara dengan al-Quran yang memiliki sifat, perkasa, bijaksana, pengasih, penyayang, mengetahui dan terpuji. Alam terkecil dari semesta alam ini adalah manusia. Dan manusia akan selamat bila memiliki ke enam sifat tersebut. Keseluruhan sifat itu akan di dapat bila kita mampu menyerapnya dari al-Quran.

لتنذر قوماما انذر ءباؤهم فهم غفلون
Agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah di beri peringatan, karena itu mereka lalai.

Bila ayat ke tiga merupakan pengukuhan kerasulan Muhammad Saw, maka ayat ke enam ini menjelaskan tugas seorang rasul, yaitu sebagai nadzir/yang memberi peringatan. Dengan peringatan tersebut niscaya akan mengeluarkan seseorang bahkan kaum dari kelalaian. Begitu pula sebaliknya, seseorang/suatu kaum akan lalai bila tidak di beri peringatan. Itulah tugas dan kewajiban seorang rasul, dan kemudian tugas tersebut juga menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Setiap muslim harus menjadi nadzir minimal untuk diri sendiri dan keluarga.
INTERNALISASI DAN RENUNGAN

Jika kata yasin di pahami sebagai tantangan bagi orang-orang yang tidak mengimani al-Quran, maka kita patut bersyukur karena kita mengimaninya. Tantangan tersebut tidak mungkin ada yang bisa menjawabnya, karena Allah Swt telah memberikan jaminan yang bersifat pasti, yaitu walaupun jin dan manusia bersatu untuk membuat satu surat saja yang sama dengan al-Quran niscaya mereka tidak akan mampu membuatnya. Jaminan tersebut tentu akan membuat kita menjadi lebih yakin akan kebenaran al-Quran.

Kalau ia di pahami sebagai bagian dari pemeliharaan Allah terhadap al-Quran, maka sudahkah kita mengambil bagian dalam pemeliharan kitab suci tersebut. Apa yang sudah dan yang akan kita lakukan untuk memelihara al-Quran.

Yasin jika di pahami sebagai singkatan dari wahai manusia sempurna[Nabi Muhammad], maka bukankah kesempurnaan itu juga merupakan sesuatu yang sangat kita harapkan. Kalau manusia menginginkan kesempurnaan maka menyerap nilai-nilai kesempurnaan al-Quran dan meneladani rasul adalah dua cara yang tepat untuk merealisasikan kesempurnaan tersebut.

Bila sebagai apersepsi maksud ayat pertama ini, maka pernahkan kita tertarik untuk memperhatikan kandungan ayat-ayatnya. Kalau belum, maka alihkanlah ketertarikan kita kepada kesempurnaan yang di tawarkan al-Quran.

Demi al-Quran yang penuh hikmah dan bijaksana. Nabi Muhammad Saw menjadi manusia sempurna dan dipuji kesempurnaannya oleh Allah swt karena menjadikan al-Quran sebagai panduan dalam setiap ucapan, tindakan dan perbuatan. Nilai kita di hadapan Allah sangat tergantung kepada pengetahuan, pemahaman dan pengamalan al-Quran. Carilah jalan yang bisa mengantarkan kita kepada pengetahuan dan pemahaman. Dan mohonlah pertolongan Allah agar bisa mengamalkannya dalam kehidupan.

Sesungguhnya engkau benar-benar termasuk orang-orang yang di utus. Kuatkanlah keimanan kita kepada rasul dan jadikanlah ia teladan. Karena rasul membawa ajaran yang benar [lurus] yang menjamin orang-orang yang mengikutinya akan selamat dunia dan akhirat serta tidak akan tersesat selama-lamanya. Jaminan tersebut merupakan pembuktian kebenaran ajaran rasul dan al-Quran sekaligus. Disamping itu al-Quran juga menjanjikan aziz [keperkasaan/kekuasaan] dan rahim [pengasih dan penyayang] bagi siapa saja yang menghendaki keduanya. Temukanlah keduanya dalam al-Quran.

Litunzira. Jadilah pewaris dan penerus ajaran Nabi, dengan cara mengamalkan dan mendakwahkannya. Sampaikanlah kebenaran kepada orang lain sesuai dengan kapasitas dan tingkat kemampuan kita. Islam tidak cukup hanya di imani dan diamalkan melainkan ia juga harus di perjuankan dan didakwahkan.

October 19, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: