Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

QUO VADIS AL-QURAN


Semua manusia pada dasarnya menginginkan kebahagiaan. Bahkan hal ini merupakan tujuan hidup setiap manusia. Sebagai seorang muslim kebahagiaan yang di inginkan bukanlah kebahagian semu, sesaat dan terbatas di dunia. Lebih jauh dari itu, kebahagiaan yang di cari adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah Swt pemilik jagad raya dan yang menciptakan manusia pasti mengerti betul apa yang diinginkan hamba-Nya. Oleh sebab itulah, malalui Rasul-Nya Dia menurunkan al-Quran yang bertujuan untuk membantu umat manusia dalam mewujudkan keinginan mereka. Sepanjang perjalanan sejarah manusia, persoalan yang paling banyak menyita waktu, menguras tenaga, pikiran dan harta adalah berkaitan dengan bagaimana caranya mendapatkan kebahagiaan hidup. Pada saat yang sama, sejarahpun kemudian mencatat betapa banyak manusia terjerumus kedalam lembah kehancuran, disebabkan karena keliru dalam menentukan  cara untuk meraih kebahagiaan yang mereka dambakan.

Bila seorang mukmin menginginkan kebahagiaan, dan pada saat yang sama masing-masing menempuh cara sendiri tanpa adanya sebuah aturan dan pembimbing yang universal dan absolute [al-Quran], maka yang terjadi kemudian adalah kehampaan dan kekacauan hidup, yang berakhir dengan kehancuran. Itulah gambaran manusia tanpa kehadiran al-Quran.

Seorang mukmin sejati adalah mereka yang meyakini kebenaran al-Quran secara keseluruhan, bukan hanya sekedar ucapan dan bahan bacaan yang sepi dari makna.Disinilah pentingnya kita meneguhkan kembali cara pandang dan keyakinan kita terhadap al-Quran. Keyakinan adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan di realisasikan dalam bentuk perbuatan. Yang terpenting dari semua itu adalah pembenaran yang di dalamnya meliputi ucapan, perbuatan serta sikap. Tidak ada pembenaran tanpa ilmu, dan tidak ada ilmu tanpa belajar. Dan tidak akan belajar, tanpa adanya keyakinan dan kesadaran yang tumbuh dari lubuk hati yang terdalam. Kesadaran akan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam menjalani kehidupan yang sempurna. Dalam konteks ini,  maka kesadaran adalah tangga pertama yang harus dinaiki seorang muslim ketika ia ingin sampai kepada keyakinan yang sesungguhnya.

Keyakinan memang sesuatu yang bersifat abstrak dan sulit untuk diukur, tetapi bekas atau indikasi dari keyakinan tersebut bersifat konkrit dan dapat dengan mudah dideteksi. Barometer keyakinan dapat dilihat dalam kehidupan nyata yang meliputi: ucapan, perbuatan, sikap, misi, orientasi dan pola hidup, pola piker dan lain sebagainya. Seseorang dikatakan meyakini dan mengimani al-Quran, bila semua sikap tersebut diatas diwarnai oleh jiwa, ruh serta semangat al-Quran. Jika semua sikapnya kosong dan hampa dari spirit al-Quran, rasanya terlalu dini untuk dikatakan sebagai orang yang yakin.

Fenomena semacam itu terlihat jelas dalam kehidupan, ketika keberadaan al-Quran disikapi dengan dingin dan hampa makna. Al-Quran hanya dibutuhkan pada waktu dan kondisi tertentu. Ketertarikan seseorang kepada al-Quran hanya sebatas rutinitas membaca, bukan memahami dan, apalagi mengamalkan dalam kehidupan. Motivasi segunung pahala dan segudang berkah lebih menggiurkan mereka daripada ilmu, pamahaman dan amal. Bahkan yang paling menyedihkan adalah bahwa tidak sedikit dari umat Islam yang tidak mampu membaca al-Quran. Kondisi seperti itu menjadi tanda tanya besar, bagi identitas kemusliman mereka  yang tercatat di KTP. Kalaupun sebagian mereka bisa membaca al-Quran, pembacaan mereka biasanya hanya sebatas mengharap berkah dari surat-surat tertentu dalam al-quran.  Mengharapkan keberkahan bukanlah satu-satunya tujuan membaca al-Quran. Walaupun harus jujur diakui bahwa tujuan tersebut lebih menonjol dari pada yang lainnya. Bila demikian halnya, maka sesungguhnya kita telah memilah-milah al-Quran, yang pada akhirnya mengambil sebagian dan meninggalkan bagian terbesar lainnya. Sikap seperti itu kelihatannya  sederhana dan simple. Namun bila dilihat lebih jauh, maka hal tersebut sangat berbahaya, terlebih lagi bila diukur dari kaca mata akidah. Disamping itu, sikap mengambil sebagian dan meninggalkan yang lainnya adalah merupakan sebuah tahapan untuk meninggalkan al-Quran seluruhnya. Al-Quran yang terdiri dari 30 juz dan  114 surat haruslah diimani seluruhnya. Mengingkari sebagian sama saja dengan menolak semuanya.

Mungkin kita harus sepakat, bahwa al-Quran tidak akan memberikan keberkahan yang nyata dalam kehidupan, bila ia hanya dibaca tanpa dipahami. Dalam konteks inilah firman Allah Swt berikut ini layak untuk kita renungkana;

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran” [Shad:29]

Dari ayat diatas, minimal ada dua kata kunci yang diajarkan al-Quran untuk mendapatkan keberkahan.

Pertama, liyaddabbaru [agar mereka memperhatikan ayat-ayat al-Quran dengan hati]

Kedua, liyazzakkaru [agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran]

Dari dua kata kunci tersebut dapat dipahami bahwa keterlibatan akal [memikirkan/merenungkan] dan hati [penghayatan] dalam membaca al-Quran adalah merupakan factor terpenting ketika kita menginginkan al-Quran membawa keberkahan dalam kehidupan. Selanjutnya al-Quran kembali menegaskan:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci ? [QS.Muhammad:24]

Hilangnya perhatian ketika kita membaca al-Quran disebabkan oleh matinya hati. Matinya hati disebabkan oleh ketertarikan kepada selain al-Quran. Ketertarikan hati kepada sesuatu itu berkaitan dengan sunnatullah. Kemana hati diarahkan maka kesitulah ia akan terpaut. Tapi bagaimana hati akan tertarik kepada al-Quran jika perhatian kepadanya tidak diprioritaskan; jika hanya dibaca pada saat tertentu dan kondisi-kondisi tertentu pula. Sumbatan hati yang terkunci tersebut, hanya bisa terbuka ketika kita dengan serius mampu memprioritaskan dan mengarahkan seluruh perhatian kita kepadanya.

Perlu diketahui bahwa, ketertarikan hati terhadap sesuatu akan melahirkan kesungguhan. Bila kesungguhan sudah didapatkan, maka seluruh rintangan akan mudah disingkirkan. Bila kita menyukai dan mencintai sesuatu, biasanya akan  menjadikan kita terus menerus berfikir untuk mencari cara bagaimana mendapatkan sesuatu itu. Bahkan pikiran dan hati kitapun tidak akan pernah lepas dari apa yang kita pikirkan, yang pada akhirnya akan sangat mempengaruhi sikap dan perbuatan.

Keyakinan terhadap al-Quran bukanlah berdiri sendiri, namun berkaitan erat dengan kelima rukun iman yang lainnya, terutama rukun iman yang pertama. Beriman kepada Allah Swt berarti meyakini segala firman-Nya. Sedangkan al-Quran adalah firman Allah. Memisahkan keduanya adalah hal yang tidak mungkin. Mengamalkan al-Quran atau tidak sangat dipengaruhi oleh nilai keimanan seseorang kepada Allah Swt.

Keimanan kepada Allah sangatlah mempengaruhi sikap seseorang terhadap al-Quran, yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya. Keberhasilan atau kegagalan, kebahagiaan atau penderitaan, kemuliaan atau kehinaan, kekuatan atau kelemahan, semua itu tergantung pada kedekatannya kepada al-Quran. AlQuran adalah Hudan [petunjuk] yang akan membebaskan manusia dari rasa takut dan sedih [QS. Albaqarah: 38], juga tidak akan celaka dan sesat [QS.Thaha: 123] serta terbebasnya seorang mukmin dari kesempitan hidup dan kebutaan di akhirat kelak [QS.Thaha:124].

Al-Quran wajib di baca, dipahami, dihayati dan di amalkan dalam kehidupan. Bila tidak demikian, kita khawatir jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang diadukan Rasulullah kepada Allah Swt, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran surat al-Furqan ayat 30 yang artinya:

Rasul berkata ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang tidak diacuhkan [mahjura][al-Furqan:30]

Menurut Ibnu Qayyim al-Jawziah, yang termasuk dalam pengertian mahjura tersebut adalah:

1.Tidak tekun membaca dan mendengarkannya,

2.Tidak mengindahkan halal haramnya,

3.Tidak menjadikannya sebagai rujukan walau dipercaya dan dibaca,

4.Tidak berupaya memikirkan dan memahami apa-apa yang diinginkan oleh Allah Swt.

Dalam tahapan selanjutnya, setidaknya kita menemukan 9 methode yang dapat dijadikan pedoman dalam memahami al-Quran, yaitu:

  1. Dzakarah [mengingat] QS.Abasa:11-14,
  2. Yastami’u [mendengarkan] QS. Al-‘Araf:204,
  3. Yanshitu [memperhatikan dengan cermat] QS.Al-“Araf:204,
  4. Qaraa [membaca] QS.An-Nahl: 98.
  5. Yatlu [menela’ah] QS. Al-Baqarah: 121
  6. Rattili [membaca dengan tartil] QS. Al-Muzammil: 4.
  7. Tadrusuun [mengkaji secara akademik] QS. Ali-Imran:79 dan Al-An’am: 156
  8. Yatafakkarun [memikirkan] QS. An-Nahl:44
  9. Tadabbur [memahami dengan hati] QS.Muhammad:24

Disamping itu, untuk merealisasikan pemahaman tersebut dalam bentuk perbuatan, minimal dibutuhkan tiga keharusan yaitu:

  1. Umat Islam harus mencintai al-Quran dan menjadikannya sebagai satu-satunya sumber nilai [selain hadits] dalam kehidupan.
  2. Umat Islam harus mempunyai tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap perintah Allah Swt dalam al-Quran.
  3. Umat Islam harus bersedia meninggalkan dan menanggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt melalui al-Quran. Dengan al-Quran kita mulai hidup baru, dengan ajaran dan tata nilai yang baru pula.

Allahumma irhamna bil Quran.

Wallahu a’lamu

Jakarta,21 September 2010

JASDI BAHRUN

Hp: 0812 9461 389

email: jasdibahrun@yahoo.co.id

Blog: jasdibahrun.wordpress.com

September 27, 2010 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: