Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

MENYINGKAP HAKIKAT DENGAN DOA


Salah satu ibadah yang paling banyak dan sering dilakukan oleh setiap muslim adalah berdoa. Dalam Islam doa mengiringi hampir setiap perbuatan yang dilakukan. Doa mengawali perbuatan, ketika melaksanakan dan setelah perbuatan itu sendiri selesai. Dengan kata lain doa tersebut senantiasa menemani setiap muslim ketika melakukan sesuatu. Tidak ada satupun perbuatan baik dalam Islam yang tidak ada doa didalamnya. Dalam hal ini kita semua mungkin sepakat berkata  bahwa doa dan berdoa itu penting. Ini pulalah sebabnya mengapa  Rasulullah Saw bersabda:” Doa adalah senjata setiap mukmin”

Persoalan penting seperti ini, tentulah mempunyai tujuan yang penting pula, sangking pentingnya, disamping Rasul menyebut doa itu sebagai senjata. Bahkan  dalam kesempatan lain Rasul juga menyebutkan bahwa ia adalah esensi dari setiap ibadah. Ruh ibadah itu adalah doa, tanpa doa ibadah akan terasa hampa.

Urgensi doa seperti yang telah disebutkan diatas, sudah  semestinya ia mendapatkan perhatian lebih dari setiap orang yang berdoa. Perhatian lebih yang dimaksudkan disini adalah berkaitan dengan pengungkapan makna, nilai, hakikat dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Hal ini mutlak harus dilakukan agar ritual doa yang kita lakukan baik cara maupun hasilnya sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah Swt.

Namun kenyataan berkata lain,  paling tidak ada dua hal yang menurut hemat penulis agak sedikit bertentangan dengan keharusan seperti yang  di sebutkan diatas. Pertama, minimnya literature yang berhubungan dengan kajian tentang doa, [bukan buku kumpulan doa] ini dapat dijadikan indikasi bahwa kajian tentang sesuatu yang sangat penting dalam ibadah dalam hal ini doa, masih tergolong sedikit. Kedua, kita dengan mudah dapat menemukan banyaknya orang-orang  berdoa yang lebih menekankan kepada bait dan lagunya, daripada isi doa itu sendiri.

Dalam pengamatan penulis masih banyak lagi indikasi lain yang berhubungan dengan persoalan ini, namun kedua hal diatas sudah cukup untuk dijadikan bukti betapa malangnya nasib doa tersebut. Ia bagaikan sebuah kelapa yang hanya diambil sabutnya. Padahal kita tahu bahwa kelapa tersebut semuanya bermanfaat. Dan tentu manfaat terbesar dari kelapa ada pada isi dan santannya. Untuk mendapatkan isi kelapa kita harus berusaha membelahnya, apalagi bila menginginkan santannya tentu upaya yang dilakukan harus lebih dari sekedar membelah.

Kenyataan ini mengingatkan penulis kepada sebuah ungkapan walau tidak persis sama sepenuhnya yaitu,”Di lautan yang dalam ada kekayaan tak tertara tapi kalau kau mencari aman maka di pantailah adanya”. Ungkapan ini bila dihubungkan dengan persoalan diatas, menggambarkan sebuah sikap malas dan menerima apa adanya, tanpa

mau mencari tahu lebih jauh hal-hal yang ada di balik sesuatu yang tampak. Begitu pulalah kurang lebih sikap umat Islam terhadap doa.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas secara mendalam tentang doa, disamping karena alasan kemampuan penulis termasuk juga medianya. Tulisan ini di maksudkan untuk  memaparkan kenyataan yang penulis ketahui serta untuk mengajak kita melihat kenyataan dan kemudian mudah-mudahan mendorong kita untuk mencari solusi yang tepat dari permasalahan yang kita hadapi.

Dalam bahasa aplikasi doa itu bermakna memohon atau meminta. Berangkat dari pengertian ini paling tidak ada tiga hal yang mutlak harus di fahami dan di sadari betul oleh orang yang berdoa. Ketiga hal tersebut adalah:

Pertama, siapa yang meminta [berdoa]

Kedua, kepada Siapa kita minta.

Ketiga, Apa yang kita minta.

Pertanyaan pertama mengenai siapa yang meminta. Pertanyaan ini mengingatkan penulis kepada  hadits Rasul “ tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”. Hadits ini merupakan larangan bagi setiap muslim untuk meminta-minta kepada manusia. Kenapa dilarang [atau paling tidak lebih baik memberi daripada meminta] karena disadari atau tidak perbuatan meminta-minta itu sama dengan merendahkan diri kita di hadapan makhluk. Padahal akidah kita mengajarkan bahwa kita hanya boleh merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Kalau hal ini kita hubungkan dengan pertanyaan pertama, maka jawaban dari pertanyaan siapa yang meminta adalah, yang rendah dan merendahkan diri, yang tidak memiliki kemampuan dan terbatas, yang tidak memiliki sesuatu kecuali doa, yang bodoh bila tidak diberi ilmu, yang hina karena perbuatan dan lain sebagainya.

Ada banyak ayat Al-Quran yang mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya, diantaranya adalah firman Allah:

Wahai manusia kalian adalah orang yang membutuhkan sesuatu dari Allah [fakir jamaknya fuqara’u] sedangkan Allah maha Kaya lagi maha Terpuji. [QS.Al-Fathir: 15]

Dan Allah adalah ghaniyyu [maha Kaya] sedangkan kalian fuqara’u [orang yang membutuhkan] [QS. Muhammad: 38]

Bila pengungkapan diri seperti diatas disadari betul hakikatnya maka paling tidak kita telah membuka pintu kenikmatan dalam berdoa. Sekaligus ia akan menuntun kesadaran kita kepada pengenalan yang lebih dalam lagi. Kesadaran akan siapa kita dalam berdoa akan memberikakan  pengaruh yang luar biasa. Dari sisi ini berdoa berarti mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Dari pengenalan itu akan lahir rasa malu kepada Allah dan khawatir doa kita tidak dikabulkan.

Perasaan malu dan kekhawatiran doa tidak dikabulkan seperti tersebut diatas adalah hasil pertama yang harus kita dapatkan sebelum doa diucapkan. Itu pulalah sebabnya mengapa dalam  surat al-Fatihah kata na’budu mendahului kata nasta’in. Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa, sebelum meminta [berdoa] tempatkan dulu diri kita pada tempat yang semestinya. Kita adalah hamba yang kemampuannya dalam beribadah terbatas, sementara disisi lain kita adalah orang yang sangat mengharapkan pertolongan Allah. Dengan kata lain ibadah kita [na’budu] sedikit  sedangkan yang kita minta [nasta’in] sangat banyak. Kalaupun doa kita dikabulkan oleh Allah itu bukan karena prestasi ibadah kita melainkan karena kasih sayang Allah.

Bila perasaan  takut dan malu seperti diatas dapat kita peroleh melalui doa, kemudaian kedua hal tersebut kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari terutama ketika kita berinteraksi dengan orang lain, maka kita akan menjadi orang yang sadar akan kapasitas diri dan kewajiban kita. Kita akan menjadi orang yang senantiasa berorientasi kepada kewajiban daripada hak. Kondisi seperti itu akan mengantarkan kita kepada kesuksesan dalam hablun min an-naas. Ini adalah kondisi ideal yang didambakan oleh setiap insan. Karena ia telah mendapatkan hasanah [kebahagiaan/kebaikan] di dunia.

Subhanallah ternyata doa itu adalah sesuatu yang luar biasa. Dari uraian diatas paling tidak sudah dua hal besar yang kita dapati melalui doa bahkan sebelum lidah berucap. Rasa takut dan malu adalah yang pertama dan sukses dalam berinteraksi dengan orang lain yang kedua. Semua yang disebutkan diatas adalah hasil dari pertanyaan pertama.

Kalau di rinci hasil dari persoalan pertama ini maka hasilnya adalah:

  1. Mengenal diri [ma’rifatun nafs]
  2. Malu kepada Allah [al-haya-u]
  3. Khawatir dan takut doa tidak di kabulkan. Ini buah dari kesadaran  minimnya ibadah kita. Dari hal ini akan lahir dorongan untuk senantiasa meningkatkan ibadah kepada Allah baik kwantitas maupun kwalitasnya.
  4. Merendahkan diri [tadharru’] hanya kepada Allah.
  5. Mengerti akan kewajibannya.
  6. Seimbang antara ibadah dan doa. Walaupun hal ini tidak mungkin, karena betapapun banyaknya ibadah kita,rasanya tidak pantas untuk dibandingkan dengan apa yang kita minta.

Selanjutnya pertanyaan kedua, yaitu kepada Siapa kita meminta [berdoa]. Sebelum pertanyaan ini dijawab, saya ingin memberikan sebuah ilustrasi sederhana yang berhubungan dengan masalah ini. Ketika kita membutuhkan pertolongan seseorang maka sebelum meminta tolong pastikan terlebih dahulu bahwa orang tersebut mau memberika pertolongan dan bisa/sanggup untuk menolong. Karena bila kita minta tolong kepada orang yang tidak memiliki kedua hal tersebut, maka permohonan kita akan sia-sia. Bila ilustrasi ini dihubungkan dengan pertanyaan kedua diatas, maka pertanyaan kepada siapa kita minta tolong jawabannya adalah kita minta tolong kepada Zat yang bukan saja mau [Rahman dan Rahim] dan mampu [Qadir] menolong, lebih dari itu Dia yang memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina. [QS. Al-Mukmin: 60]

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu [Muhammad] tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,agar mereka selalu berada dalam kebenaran.[QS.Al-Baqarah:186]

Bila kesadaran akan diri dengan segala keterbatasannya telah mengantarkan kita kepada rasa takut dan khawatir doa tidak di kabulkan, maka pengenalan akan Allah [tempat meminta] yang disertai dengan kesadaran akan melahirkan rasa harap [thama’a].

Dan berdoalah kalian kepada-Nya dengan rasa takut [khauf] dan harap [thama’a] sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat bagi orang-orang yang berbuat baik. [al-A’raf: 56]

Dalam berdoa kedua rasa tersebut yaitu takut dan harap harus mendapatkan perhatian yang sama. Selalu mengkhawatirkan doa tidak terkabul adalah tidak boleh, sebaliknya terlalu mengandalkan kasih sayang Allah  juga tidak boleh. Keduanya harus berimbang. Namun ketika kita mengucapkan permohonan kita harus berada dalam kondisi yang yakin dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun.

Keseluruhan keadaan tersebut, takut, harap dan yakin akan memunculkan hal-hal yang luar biasa bagi kebaikan manusia. Sekali lagi ingin saya katakana bahwa ini adalah hasil yang kita dapat di luar dari permohonan. Melihat hal tersebut kita akan berkata sekali lagi terima kasih ya Allah Engkau telah perintahkan kami agar berdoa.

Ketika kedua pertanyaan diatas dan hal-hal yang menyertainya mampu kita jawab dengan tepat serta menempatkan keduanya pada tempatnya masing-masing, maka untuk jawaban dari pertanyaan yang ketiga secara tidak langsung sudah terjawab. Kata kuncinya terletak pada pengenalan siapa kita dan kepada siapa kita memohon.

Kesadaran manusia berkaitan dengan siapa dirinya dengan segala konsekwensinya adalah jawaban dari pertanyaan yang ketiga. Ini berarti bahwa apa yang kita minta adalah sesuatu yang menurut kita baik dan memberikan kebaikan. Tapi harus di ingat bahwa sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut penilaian Allah Swt. Kesadaran seperti ini akan membawa manusia memasuki wilayah kepasrahan saat mengakhiri doanya. Kepasrahan itu biasanya di wujudkan dengan kalimat, ya Allah berikanlah kepada kami sesuatu yang menurut-Mu baik.

Buah kepasrahan ini dalam kehidupan sehari-hari bila di hubungkan dengan doa, maka ia akan menghindarkan kita dari sikap protes atau mempertanyakan ketetapan Allah. Selanjutnya ia akan menjadi orang yang ikhlas menerima apapun yang Allah tetapkan untuknya tanpa mengabaikan usaha. Karena kewajiban kita adalah berusaha  sedangkan hasil adalah ketentuan Allah. Keikhlasan tersebut muncul dari kesadarannya bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuknya, termasuk mengabulkan atau tidak. Dan ia juga menyadari betul kemungkinan-kemungkinan yang berhubungan dengan doa. Kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah:

  1. Kemungkinan yang pertama adalah bahwa pengabulan doa kita ditangguhkan [takjil] oleh Allah Swt. Penangguhan ini tentu berkaitan dengan kapasitas orang yang berdoa serta momentnya. Hal ini untuk kebaikan  manusia itu sendiri.
  2. Kemungkinan yang kedua adalah doa kita disegerakan [ta’jil] pengabulannya. Inipun pasti demi kemaslahan manusia itu sendiri.
  3. Bahkan kemungkinan yang ketiga Allah menukar atau mengganti [tabdil] sesuatu yang kita minta dengan sesuatu yang lain. Karena inilah yang terbaik menurut Allah.

Ketidaktahuan  bukan berarti kita tidak boleh menyebutkan dan merinci apa saja yang di minta. Karena keduanya adalah dua sisi yang berbeda dalam doa. Kepasrahan lahir dari kesadaran akan keterbatasan  manusia, sementara merinci permohonan dalam doa disamping untuk menyadarkan manusia bahwa kebutuhannya kepada Allah banyak sekaligus ia juga di perlukan untuk menuntun pikiran dan hati orang yang berdoa agar bisa fokus.

Fokus dalam berdoa termasuk unsur yang sangat penting. Karena ia memiliki peran yang besar dalam terkabul atau tidaknya doa. Seperti apakah hubungan antara fokus dengan pengabulan doa. Rincian permintaan dan berulang-ulangnya permintaan tersebut diucapkan bertujuan untuk melahirkan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa kita sekaligus ia berfungsi sebagai afirmasi yang berulang-ulang kita ucapkan agar ia masuk kedalam alam bawah sadar kita.

Disamping itu mengungkapkan  keinginan dengan kalimat yang jelas dan berulang-ulang  dalam berdoa ia juga bertujuan untuk mengokohkan komitmen mengenai sesuatu yang kita inginkan. Dari komitmen yang kokoh inilah diharapkan lahirnya azam [tekad] yang kuat untuk mewujudkan keinginan tersebut. Dari tekad yang kuatlah tindakan nyata akan muncul.

Bila dari sisi ini kita melihat doa, maka ini berarti bahwa doa tidak berakhir dengan kalimat amin. Bahkan ia adalah pemisah antara doa dalam bentuk ucapan dan aplikasinya dalam tindakan yang nyata dan terarah.  Dengan kata lain doa yang benar adalah doa yang melahirkan kreativitas bukan pasrah apalagi malas. Itu sebabnya menurut hemat penulis mengapa Allah Swt merinci persoalan doa ini dalam al-Quran, sebagaimana firman-N ya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk. [QS. Al-Baqarah:186]

Jakarta,21 September 2010

JASDI BAHRUN

Hp: 0812 9461 389

Email: jasdibahrun@yahoo.co.id

Blog: jasdibahrun.wordpress.com


September 27, 2010 - Posted by | Uncategorized

1 Comment »

  1. Assalamualaikum Wr Wb,

    Alhamdulillah, akhirnya sudah bisa memulai tulisannya ya, semoga bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Amin

    Didit

    Comment by Didit | September 28, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: