Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

KEMBALI KEPADA FITHRAH


KEMBALI KEPADA AL-QURAN DAN KEBENARAN

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد
الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين واشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له خصنا بخير كباب انزل واكرمنا بخير نبي ارسل وجعلنا به خير امة اخرجت للناس نا مر بالمعروف وننهي عن المنكر و نؤمن بالله اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا واشهد ان محمدا عبده ورسو له الذي ادئ الامانة وبلغ الرسالة ونصح للامة وجاهد في الله حق جهاده فمن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا اللهم صل وسلم وبارك علئ هذا النبي الكريم وعلئ اله وصحابته واحينا اللهم علئ سنته وامتنا علئ ملته واحشرنا في زمرته مع الذين انعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا اما بعد

Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

Ketika matahari akhir ramadhan terbenam, pertanda datangnya bulan syawal, serentak di segenap penjuru dunia, kaum muslimin menyambut kemenangan iman dalam pertarungannya melawan hawa nafsu dan syaithan. Sungguh inilah sebuah kemenangan yang paling besar dan membahagiakan. Kemenangan yang sesungguhnya, yang juga merupakan hakikat yang seharusnya di perjuangkan oleh setiap mukmin. Kita semua bisa merasakan betapa bahagianya hari ini, ketika dua musuh utama manusia yaitu hawa nafsu dan syaitan bisa dilumpuhkan, inilah kebahagiaan dan kemenangan yang fithri. Refleksi kemenangan itu diungkapkan dengan mengumandangkan kalimat tasbih tahmid dan takbir
.
الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لا اله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده واعزجنده وهزم الاحزاب وحده لا اله الا الله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون ولو كره المشركون ولو كره المنافقون لااله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Maha Besar Allah, dan segala puji hanya untuk Allah, maha suci Allah sepanjang waktu pagi dan petang, tidak ada satupun yang berhak disembah kecuali hanya Allah, Dia telah membenarkan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan telah mengokohkan kepada bala tentara-nya serta mengalahkan sekutu-sekutu-Nya, tidak ada sembahan kecuali Allah, dan kami tidak akan menyembah kecuali hanya kepada-Nya, kami adalah orang-orang yang mengikhlaskan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir, orang musyrik dan orang munafiq membencinya, tidak ada sembahan kecuali Allah, Maha besar Allah dan segala puji hanya untuk Allah.
Kalimat takbir seperti diatas, pada awalnya diikrarkan oleh pasukan kaum muslimin ketika kembali dari perang badar, dimana pasukan kaum muslimin memperoleh kemenangan gemilang. Inilah janji Allah, dan beginilah pasukan kaum muslimin menyambut kemenangan tersebut.

Perang yang kita hadapi saat ini jauh lebih besar dari perang badar, yaitu memerangi hawa nafsu. Rasulullah Saw bersabda:

رجعنا من الجهاد الاصغر الئ الجهاد اكبر جهاد النفس

Artinya: kita baru saja kembali dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikianlah kurang lebih makna takbir yang baru saja kita lantunkan, didalamnya ada pengagungan, pujian dan tasbih. Yang tidak kalah pentingnya adalah di dalamnya terdapat pengakuan bahwa Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memberi kekuatan kepada bala tentara-Nya serta menghancurkan sekutu-Nya. Ini adalah sebuah pengakuan terbesar umat Islam, saya mengajak diri sendiri dan kita semua, mari di hari yang fitri ini kita meresapi dan menghayati serta menyadari dengan sesadar-sadanya kandungan makna pengakuan tersebut untuk kemudian kita aplikasikan dalam kehidupan kehidupan kita sehari-hari.

Dalam untaian takbir tersebut juga terdapat janji yang harus kita taati yaitu tidak akan pernah mengabdikan diri kecuali hanya kepada Allah semata, walaupun konsekwensinya kita tidak disukai dan bahkan dibenci oleh orang-orang kafir,musyrik dan munafiq. karena hanya dengan mengabdi kepada-Nya lah yang akan membuahkan ketenangan dan kebahagian hidup.

Inilah sebuah perwujudan keimanan yang sangat luar biasa, yang senantiasa mengedepankan Allah dalam setiap prestasi yang dicapai, sekaligus mengandung makna syukur yang sedalam-dalamnya kehadirat Allah Swt. Syukur terhadap kasih sayang Allah, yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengisi seluruh rangkaian ibadah ramadhan dengan sebaik-baiknya, serta mempertemukan kita kembali dengan bulan syawwal 1431 H. Mudah-mudahan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita hari ini di iringi dengan taufiq dan hidayah-Nya,.Karena Setiap kenikmatan yang Allah berikan, pada hakikatnya merupakan kesempatan untuk menjadi lebih baik pada masa yang akan datang, sekaligus ia merupakan batu ujian untuk menguji kadar syukur kita di hadapan Allah Swt. Nabi Sulaiman as, bahkan memohon kepada Allah Swt agar di berikan kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya.

رب اوزعني ان اشكر نعمتك التي انعمت علي وعلئ والدي وان اعمل صالحا ترضاه وادخلني برحمتك في عبادك الصالحين

Artinya: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kemampuan untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu, yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. [an-Naml 27:19]

Syukur dalam pandangan Nabi Sulaiman adalah memberdayakan segenap potensi yang di miliki untuk melakukan ketaatan dan kebaikan yang diridhai oleh Allah Swt. Mudah-mudahan Allah Swt, menjadikan syukur kita sebagaimana syukurnya Nabi Sulaiman as. Amin ya rabbal Alamin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Tanpa mengurangi kegembiraan kita merayakan hari kemenangan, sejenak khatib ingin mengajak kita semua, untuk melayangkan pandangan kebelakang, untuk melihat apa yang telah kita lakukan di bulan ramadhan. Sambil mempertanyakan dengan jujur kepada diri sendiri, sudahkan maksimalkah ibadah yang kita lakukan? Atau mungkin sebaliknya. Kegembiraan apa sebenarnya yang menyelimuti hati kita saat ini. Kegembiraan karena kesempurnaan ibadahkah atau yang lainnya. Sudahkah ibadah yang kita lakukan mengantarkan kita kepada kesadaran, kesadaran akan diri, kesadaran akan Tuhan dan kesadaran akan tanggung jawab kita di hadapan Allah Swt.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlu di munculkan sebagai bagian dari koreksi dan introspeksi diri guna untuk meningkatkan kwalitas hidup kita agar menjadi lebih baik. Sekaligus diharapkan agar pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi inspirasi yang mewarnai kehidupan kita sebelas bulan kedepan. Bila tidak demikian, secara pribadi khatib khawatir bila ramadhan tahun ini akan bernasib sama dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Maaf mungkin saya terlalu berlebihan, namun izinkan saya membacakan beberapa bait ungkapan yang menggambarkan kekhawatiran yang sama:

AKANKAH KUJUMPAI LAGI?

Ramadhan datang lagi
Bangun sebelum pagi
Sahur biar berenergi.

Ramadhan datang lagi
Lapar di terik hari
Dahaga menggoda hati.

Ramadhan datang lagi
Masjid berpenghuni
Seminggupun terpenuhi.

Ramadhan datang lagi
Puasa sebulan hari
Menyongsong idul fitri.

Ramadhan setengah lagi
Masjid tak padat lagi
Dimulai acara seleksi

Ramadhan datang lagi
Dengar ceramah malam hari
Ngantuk dan gelisah selimuti hati

Ramadhan setengah lagi
Tadarrus mulai berhenti
Apalagi zikir gelap hari

Ramadhan setengah lagi
Mulai jelas iman setiap diri
Yang palsu diantara yang murni

Ramadhan hampir pergi
Beli kemeja dan safari
Piknik kemana nih nanti

Ramadhan hampir pergi
Masjid kekurangan penghuni
Hingga takbir malam menghiasi

Ramadhan hampir pergi
Terakhir mungkin yang ini
Sebelum mati menghampiri

Ramadhan hampir pergi
Nggak sadar juga diri ini
Seolah tak kan pernah mati

Ramadhan telah pergi
Kok seperti dulu lagi
Tiada satupun mewarnai

Ramadhan telah pergi
Masjid sepi penghuni
Yang hadir itu-itu lagi

Ramahdan telah pergi
Nggak sadar juga diri ini
Ampuni aku ya rabbi

Ramadhan telah pergi
Akan kah kujumpai lagi?

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah,

Itulah sekelumit gambaran kekhawatiran orang-orang yang mendambakan adanya perubahan menuju keadaan yang lebih baik, karena tanpa perubahan niscaya kita akan menjadi orang yang merugi. Rasulullah Saw bersabda:

من كان يو مه مثل امسه فهو خاسر من كان يومه خير من امسه فهو رابح ومن كان يومه شر من امسه فهو ملعون

Artinya: Siapa yang hari ini sama seperti kemarin maka dia termasuk orang yang merugi, dan siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dialah orang yang beruntung, sebaliknya siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia adalah orang yang dilaknat. [HR. Baihaqi]

Setiap orang pada dasarnya pasti menginginkan perubahan, namun tidak semua orang mampu menterjemahkan keinginan tersebut dalam bentuk perbuatan nyata. Hal ini disebabkan karena ketidak mampuan mereka mengolah dan memupuk keinginan tersebut hingga menjadi sebuah tekad. Karena hanya yang bermodal tekad kuatlah yang akan mampu berbuat sesuatu untuk mewujudkan keinginannya. Allah Swt Berfirman:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وان الله لمع المحسنين

Artinya: Dan orang yang bersungguh-sunguh di jalan Kami, sungguh benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-Ankabut: 69]

Disamping itu tekad saja tentulah belum cukup untuk dapat melakukan perubahan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt. Karena selain tekad, kita juga membutuhkan pengetahuan dan prioritas, yang dengannya kita mengetahui dari mana dan apa yang harus kita perbaiki.

ان الله لا يغير ما بقوم حتئ يغيرما بانفسهم

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mampu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. [Ar-Ra’du: 11]

Ayat diatas menyebutkan bahwa perubahan itu harus dimulai dari sesuatu yang terdapat dalam diri kita. Sesuatu yang disebutkan ayat tersebut tentulah hal yang sangat penting dan mendasar dalam sebuah perubahan sikap dan prilaku seseorang. Diantara sekian banyak hal yang harus kita ubah adalah keyakinan, persepsi dan sudut pandang kita terhadap sesuatu. Karena bagaimana persepsi kita terhadap sesuatu maka seperti itu pulalah perlakuan kita terhadap sesuatu tersebut. Sebuah contoh sederhana ingin khatib sampaikan, misalnya keimanan kita kepada Al-Quran.

Sebagai muslim kita yakin dan percaya bahwa Al-Quran adalah firman Allah, yang kebenarannya adalah pasti dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Allah Swt menurunkannya untuk dijadikan pedoman oleh manusia agar ia selamat dunia dan akhirat, bahkan Rasulullah Saw memberikan garansi kepada orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Quran tidak akan pernah tersesat selamanya.

تركت فيكم امرين لن تضل ما ان تمسكتم بهما كتاب الله وسنة رسول الله

Artinya: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw.

Khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungkan hal ini, sudahkah kita menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup?, berapa banyak ayat al-Quran yang kita hafal, mengertikah kita dengan ayat-ayat yang kita baca? Berapa lama dalam sehari semalam kita alokasikan waktu untuk membaca Al-Quran, adakah program khusus yang kita buat untuk mendalami kandungan Al-Quran, yang dengannya kita yakin akan memperoleh kebahagiaan dan keberkahan hidup?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pertanyaan-pertanyaan tersebut khatib munculkan untuk kita jadikan bahan otokritik, dalam mengkritisi sikap kita terhadap Al-Quran selama ini. Kenyataan yang sering kita dapati adalah masih banyaknya umat islam yang belum bisa membaca al-Quran yang diyakini sebagai pedoman hidupnya. Kalaupun mereka bisa membaca, sedikit sekali yang mengerti makna dan kandungannya, karena biasanya motivasi mereka hanya sekedar mengharap pahala, tanpa adanya keinginan untuk mencari tahu lebih jauh makna pahala tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Padahal pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt tersebut adalah sesuatu yang real, dan berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup manusia. Salah satu kebutuhan mendasar selain kebutuhan jasmani adalah ketenangan. Al-Quran disamping fungsinya sebagai pedoman umat manusia ia juga kitab yang menjamin ketenangan hidup bagi siapa saja yang membacanya. Rasulullah Saw bersabda:

ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم الا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وخفتهم الملئكة وذكرهم الله فيمن عنده

Artinya: Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, kemudian mereka membaca kitabullah dan mempelajarinya diantara mereka, melainkan Allah menurunkan ketenangan kepada mereka, dan mereka diliputi rahmat serta para malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk disisi-Nya. [HR. Muslim]

Ma’asyiral muslimin ra

Kalau boleh kita jujur melihat kenyataan hidup saat ini, kita bisa berkata bahwa ketenangan saat ini adalah sesuatu yang sangat mahal, dan sulit untuk di dapatkan. Bahkan tidak jarang kita lihat berbagai macam cara di lakukan untuk mendapatkan ketenangan tersebut. Namun apa yang terjadi, bukan ketenangan yang di dapat malah sebaliknya. Kaena mereka mencari ketenangan tersebut di tempat dan cara yang salah. Dan kalaupun mereka dapati itupun sesaat sifatnya. Sementara ketenangan yang dijanjikan Allah sangat murah harganya dan mudah mendapatkannya, bukan hanya itu ia pun tidak bersifat sesaat. Mari kita cari dan kita temukan ketenangan itu dalam Al-Quran.

Disamping ketenangan al-Quran juga memberikan garansi keberkahan bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya.

وهذا كتاب انزلنه مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون

Artinya: Dan al-Quran ini adalah kitab yang Kami turunkan yang di berkahi dan memberikan keberkahan, maka ikutilah ia dan bertaqwalah agar kalian dirahmati.[al-An’am: 155]

Di ayat lain al-Quran menyebutkan dirinya sebagai obat/penawar serta rahmat

وننزل من القران ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظلمين الا خسارا

Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim kecuali kerugian. [al-Isra: 82]

Menjamurnya pengobatan-pengobatan yang bersekutu dengan kemusyrikan, membuktikan betapa tidak mengertinya kita dengan peran dan fungsi Al-Quran dalam kehidupan.

Dari hadits dan ayat-ayat diatas dapat kita lihat bahwa Al-Quran itu sangat berkaitan dengan kebutuhan dasar hidup manusia, bukankah kita menginginkan kehidupan yang baik,? Sekali lagi khatib mengajak mari bergabung dengan Al-Quran.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari atas mimbar ini khaatib mohon maaf yang sebesar-besarnya, bila mungkin apa yang disampaikan tidak berkenan dihati, saya memahami betul konsekwensi dari apa yang khatib sampaikan, Di balik itu semua yang sesungguhnya khatib inginkan adalah mengajak diri sendiri dan kita semua ayo kita kembali kepada Al-Quran. Karena kita tidak akan pernah mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya bila kita tidak kembali kepada Al-Quran.

Persoalan ini sungguh sangat sederhana kedengarannya, namun permasalahannya adalah, lemahnya tekad dan kesungguhan untuk melakukannya. Kedua hal tersebut tidak akan dapat berkembang dengan baik tanpa adanya pengetahuan dan pemahaman. Pengetahuan dan pemahaman terhadap makna, hakikat serta nilai dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Luputnya pemahaman akan hal-hal tersebut, terbukti telah membawa kita kepada rutinitas yang melelahkan. Bahkan Suka atau tidak, sering rutinitas tersebut telah mengantarkan kita kepada kehidupan tanpa makna, inilah penyakit masyarakat modern. Yang membuat mereka tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya mereka cari. Hal ini akan semakin jelas terlihat, manakala kita sejenak mau memperhatikan fenomena-fenomena yang ada di sekeliling kita. Kesulitan untuk menentukan skala prioritas dalam setiap tindakan, gampang stress dan mudah dihinggapi kebosanan adalah bukti yang paling konkrit dari hilangnya makna kehidupan. Allah Swt berfirman:

وابتغ فيما اتاك الله الدارالاخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا

Artinya: Dan carilah pada apa-apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu [untuk kebahagiaan] kampong akhirat, dan jangan kamu melupakan bagianmu dari [kenikmatan] dunia. [Al-Qashash: 77]

Pemahaman paling sederhana dari ayat diatas adalah, bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk mencari hal-hal yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan akhirat, tanpa melupakan bagiannya di dunia. Ini artinya adalah bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk lebih memprioritaskan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia.

Dari ayat diatas dapat kita kembangkan maknanya sehingga seakan ayat tersebut bermakna: Allah Swt memerintahkan kita agar mengedepankan nilai-nilai tauhid dalam setiap tindakan dan perubuatan.. mendahulukan ketaatan kepada Allah, memprioritaskan nilai-nilai kebenaran dalam setiap ketetapan. menjadikan kehalalan sebagai panduannya dalam mencari nafkah, mendahulukan kepentingan umat diatas kepentingan pribadi, membanggakan prestasi daripada prestise, mengedepankan kwalitas diatas kwantitas dan banyak lagi prioritas-prioritas lainnya. Namun yang jelas adalah bahwa keimanannya kepada Allah dengan segala konsekwensinya di jadikannya sebagai semangat dalam mengharungi kehidupan dan senantiasa berusaha agar selalu berada di jalan yang lurus shiratal mustaqiem.

اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين

Artinya: Ya Allah bimbinglah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat bukan jalan orang-orang yang di murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Dengan keyakinan seperti itu niscaya seseorang akan senantiasa beergerak dan berbuat sesuatu dalam bingkai keimanan, mereka berbuat penuh dengan keyakinan dan tidak ada sedikitpun keraguan, waktu-demi waktu yang dilalui penuh dengan perbuatan yang bermanfaat dan bermakna. Bukankah ramadhan telah mengajarkan hal yang sama kepada kita semua dan kita telah merasakan betapa nikmatnya hidup ini ketika kita mampu mengisinya dengan ketundukan dan ketaatan kepada Allah Swt. Persoalannya adalah mampukah kita menjadikan sebelas bulan kedepan seperti yang kita lakukan dalam bulan ramadhan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khutbah sederhana ini khatib sampaikan mudah-mudahan ada manfatnya baik bagi khatib pribadi maupun kita semua. Namun sebelum khatib tutup dengan doa izin khatib mengucapkan

من العا ئدين والفائزين تقبل الله منا ومنكم صيا منا وصيامكم كل عام وانتم بخير

Artinya: Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang kembali kepada fithrah dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang sukses . mudah-mudahan pula Allah menerima ibadah puasa kita semua, dan kita senantiasa sepanjang tahun berada dalam keadaan baik, amin ya rabbal alamin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ditengah keheningan idul fitri ini, mari kita tundukkan hati dan pikiran kita di hadapan Allah Swt, Zat yang maha pengasih lagi maha penyayang seraya berdoa dan memohon.

Istighfar dan pembukaan doa.

Ya Allah ya ghaffar, di depan pintu ampunan-Mu kami datang dan menghadap dengan membawa tumpukan dosa dan salah, bukakanlah bagi kami pintu ampunan-Mu, dan ampunilah dosa-dosa kami, jika Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami akan menjadi orang-orang yang merugi.

Ya Allah, ya ‘Alim ya Khabir, dengan rahmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kedua orang tua kami, kepedihan yang dialami ketika melahirkan kami mereka sambut dengan senyuman, kenakalan kami pada waktu masih kecil mereka balas dengan kasih sayang, kebiasaan kami membantah dan melawan mereka sikapi dengan iklas dan memaafkan, kesulitan mereka mendidik dan membesarkan kami mereka hadapi dengan tawakkal dan kesabaran, sehingga kami tumbuh menjadi dewasa seperti saat ini.

Ya Allah, kalau bukan karena kasih saying-Mu dan kasih sayang kedua orang tua kami, niscaya kami tidak akan menjadi seperti saat ini, oleh sebab itu ya Allah ampunilah kedua orang tua kami baik yang masih hidup ataupun yang sudah tiada, sayangilah mereka ya Allah sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil, bagi mereka yang sudah menghadap-Mu, tempatkanlah mereka ditempat yang terbaik di sisi-Mu, masukkanlah mereka kedalam surga-Mu. Bagi mereka yang masih hidup beri kami kesempatan ya Allah untuk dapat berbakti kepada keduanya, karena kami yakin bahwa ridha-Mu terletak pada ridha kedua orang tua kepada kami.

Ya Allah ya Rahman ya Rahim, bimbinglah kami dengan rahmat-Mu, agar kami mampu mendidik dan membesarkan anak-anak kami, sehingga mereka menjadi anak-anak yang shaleh dan sholehah. Bimbinglah mereka ya Allah, agar senantiasa berada dalam ridha-Mu.

ربنا هب لنا من ازواجنا وزريتنا قرة اعين وجعلنا للمتقين اماما ربنا تقبل منا انك انت السميع العليم وتب علينا انك انت التواب الرحيم

Jakarta, 1 syawwal 1431 H
Al-faqir

JASDI BAHRUN

September 13, 2010 - Posted by | Uncategorized |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: