Jasdibahrun's Blog

Nikmatnya Al-Quran dengan pemahaman

NIKMATNYA MERASAKAN GETARAN AL FATIHAH


NIKMATNYA MERASAKAN GETARAN
AL-FATIHAH
KESADARAN DIRI
“Kesadaran hanya datang dari hati yang bicara”
Seekor elang yang terlahir dalam kawanan ayam. Dari kecil sampai dewasa, di kawanan ayam itu sang elang merasa yakin bahwa dia seekor ayam yang tidak ada bedanya dengan anak-anak ayam. Ia berkokok dan berjalan layaknya seekor ayam. Tidak pernah mengepakkan sayapnya. Suatu hari ia melihat elang terbang tinggi dengan gagahnya, ia hanya bisa ternganga dan berdecak kagum sambil melamun, seandainya ia bisa terbang tinggi seperti itu. Sang elang terus melamun, dan tidak pernah berusaha mengepakkan sayapnya untuk terbang. Sang elang tidak mempunyai kesadaran diri. Ia bercerai dari fithrahnya.
KESADARAN DIRI SANGAT PENTING KARENA IA AKAN MENENTUKAN MOTIF YANG AKAN DIKEMBANGKAN DALAM MELAKUKAN SESUATU

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN
“Sesungguhnya Kami milik Allah berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”
Dengan fithrah KeTUHANAN kita datang, dan KITA dalam perjalanan PULANG,saat ini kita sedang mampir di suatu tempat yang bernama DUNIA, untuk mempersiapkan BEKAL perjalanan menuju kampung ABADI, kita harus PULANG dengan membawa KEUNTUNGAN.
Itulah SIAPA kita sesungguhnya. Sudahkah kita mempunyai bekal yang cukup, tindakan apa yang sudah di ambil untuk berbekal ? putuskan segera untuk berbuat sesuatu yang bisa dijadikan bekal.
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Bagaimana kalian bisa ingkar/kufur kepada Allah, padahal dulu kalian amwaatan [mati/tidak/belum ada], maka Dia akan mematikan kalian, kemudian akan menghidupkan kalian kembali, kemudian kepada-Nya kalian akan dikembalikan. [QS. Al-Baqarah: 28]
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوْالْجَلَالِ وَاْلِاكْرَامِ
Semua yang ada di muka bumi ini binasa, dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. [QS.ar-Rahman: 26-27]
Ayat-ayat di atas menjelaskan siklus perjalanan manusia, dari tidak ada [mati/di alam arwah] kemudian kita berpindah kealam dunia, tempat kita untuk mencari dan mempersiapkan bekal sekaligus menentukan pilihan, seperti apa kelak kita akan di bangkitkan. Kita di bangkitkan sesuai dengan apa yang kita lakukan hari ini. [QS. Al-Ghatsiyah: 1-16]
DENGAN KEADAAN BAGAIMANA KELAK KITA AKAN DI BANGKITKAN ?

KESADARAN AKAN TUHAN, KESAKSIAN SERTA
BALASANNYA TERHADAP PERBUATAN
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَوةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan dan dia seorang yang meyakini [iman] maka sungguh benar-benar Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberikan kepada mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
[QS. An-Nahl 16:97]
“Kalian tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Quran dan Kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya, tidak luput dari pengetahuan Tuhan kalian walaupun seberat zarrah [atom] di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata [lauh mahfuzh]”
[QS. Yunus: 61]

KEYAKINAN DOA DI KABULKAN
Kualitas hidup manusia di tentukan oleh kualitas keyakinannya, maka kemampuan untuk mengolah keyakinan adalah hal yang sangat penting. Satu diantara yang harus betul-betul di yakini adalah, bahwa Allah mengabulkan doa kita. Sadarilah
اُدْعُوْنِىْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. [QS. Al-Mukmin: 60]
TUHAN MENGABULKAN DOA YANG ADA DI HATI BUKAN YANG TERUCAP DI MULUT

AMBIL TINDAKAN CEPAT SEBELUM TERLAMBAT
Take time to THINK it is the source of power
Take time to READ it is the foundation of wisdom
Take time to QUIT it is the opportunity to seek God
Take time to DREAM it is the Future made of
Take time to PRAY it is the greatest power on the earth

LURUSKAN NIAT SEMATA-MATA MENGHARAP RIDHA ALLAH SWT
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْاِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيَّا وَرَسُوْلًا
[Aku ridha Allah Tuhanku, dan Islam Agamaku serta Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasulku]
اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً رَسُوْلُ اللهِ
[Aku bersaksi bahwa tidak ada yang patut untuk di sembah/di taati kecuali Allah Swt, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah]

SINGKIRKAN PENGHALANG

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّىْ لَا اِلَهَ اِلَّا اَنْتَ خَلَقْتَنِىْ وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ اَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِىْ فَاغْفِرْلِىْ فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ
Ya Allah Engkau adalah Tuhanku tiada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakan aku, aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang teguh dengan perjanjian-Mu dan janji-Mu sekuat kemampuanku, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku lakukan, aku mengakui curahan rahmat-Mu kepadaku, aku mengakui pula dosa-dosaku, ampunilah aku tidak ada yang mengampuni dosa kecuali hanya Engkau.

“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatinya sehasta, jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku mendekatinya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari”. [diriwayatkan oleh Imam Bukhari]

BANGUN KEKUATAN DENGAN DOA
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِىْ بِالْقُرْاَنِ وَاجْعَلْهُ لِىْ اِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَّرَحْمَةً اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنِىْ مِنْهُ مَا نَسِيْتُ وَعَلِّمْنِىْ مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِىْ تِلَاوَتَهُ اَنَاءَ الَّيْلِ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِىْ حُجَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Ya Allah, rahmatilah aku [diri] dengan al-Quran [fokuskan fikiran dan hati kepada al-Quran], jadikanlah ia [al-Quran] sebagai Imam [pemimpin/yang menuntun/yang di taati] dan cahaya [yang menerangi pikiran, hati dan kehidupan] dan pedoman/panduan serta rahmar/kasih sayang. Ingatkanlah aku dari apa-apa yang aku lupa dari al-Quran, ajarkanlah aku apa-apa yang aku tidak mengetahui darinya, karuniakan kepadaku bacaannya pada waktu malam dan siang hari, serta jadikanlah ia sebagai hujjah [alasan/bantahan] wahai pemelihara semesta alam.
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْئَلُكَ بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَصِفَاتِكَ الْعُلَى اَنْ تَجْعَلِ الْقُرْاَنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلَاءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ وَغَمِّيْ
Ya Allah aku [sebutkan diri sendiri] bermohon kepada-Mu dengan perantara Asma-Mu yang Indah dan dengan SIFAT-SIFAT-MU yang TINGGI, jadikanlah al-Quran [konsentrasi dan fokuslah] sebagai penyejuk hatiku [arahkan langsung ke diri sendiri dan tetaplah KONSENTRASI], Penerang dadaku [diri], penghilang rasa sedihku [diri] dan penghapus semua gundah gelisahku
Lebih fokus dan ikhlaslah, karena semua itu betul-betul sangat kita butuhkan, RUGI bila tidak dapatkan hal tersebut, kembangkan terus rasa itu, supaya jadi TEKAD
Karena banyaknya keinginan kita dari al-Quran, maka untuk lebih mudah fokus pilihlah salah satu dari keinginan tersebut. Ada baiknya kita mulai dengan RAHMAT [kasih sayang] karena ia adalah PINTU MASUK UTAMA untuk BERINTERAKSI dengan AL-QURAN.
Ya Allah, Rahmatilah aku dengan al-Quran. Ulangilah sesering mungkin doa ini, dan rasakan betapa bahagianya mendapatkan Rahmat. Sekali lagi RASAKANLAH, Kita akan dapatkan apa yang kita rasakan. Syukurilah.

BERSIAPLAH UNTUK MENDAPATKAN RAHMAT LEBIH BANYAK DAN RASAKAN GETARANNYA
ATURAN LATIHAN
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسِانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْاَنَهُ فَاِذَا قَرَئْنَهُ فَاتَّبِعْ قُرْاَنَهُ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk [membaca] al-Quran karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungghnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya [di dalam dadamu] dan [membuatmu pandai] membacanya, apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu, kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya [agar dapat difahami] [QS.al-Qiyaamah: 16-19]
JANGAN TERBURU-BURU DALAM MEMBACA AL-QURAN, IKHLAS DAN BERSERAH DIRILAH KEPADA ALLAH, NISCAYA DIA AKAN MEMASUKKAN AL-QURAN DAN PEMAHAMANNYA KEDALAM DADA KITA.KARENA DIALAH YANG MENGAJARKAN AL-QURAN, DENGAN SEBAIK-BAIKNYA, MAKA JADILAH MURID YANG BAIK.
اَلرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْاَنُ
Ar-Rahman [yang Maha Pengasih], Dia telah mengajarkan al-Quran.
[QS.ar-Rahman: 1-2]

PERSIAPAN LATIHAN UNTUK MERASAKAN
GETARAN AL-QURAN
HATI DAN KULIT ADALAH RECEIVER
“Allah Swt telah menurunkan perkataan paling baik yaitu al-Quran yang sama mutu-mutu ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka sewaktu mengingat Allah, inilah petunjuk Allah, dengan kitab ini Dia akan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, [QS. Az-zumar: 23]
Sesuai dengan teori getaran dan fenomena gelombang dua benda akan bergetar bersamaan ketika keduanya mengalami “Resonansi” dengan syarat keduanya memiliki Frekwensi diri yang sama.
Agar bisa merasakan getaran maka kita harus terlebih dahulu menyesuaikan frekwensi dengan al-Quran. Laa yamassuhu illa al-Muthahharuun, tidak menyentuhnya [mushaf dan kandungannya] kecuali orang-orang yang di sucikan. Bersihkanlah hati karena ia receiver yang sangat menentukan, kemudian tune in [menyetelnya] agar “SIAP MENERIMA” gelombang ILAHI MELALUI AL-QURAN.

SYUKUR PENJEMPUT RAHMAT
Alhamdulillah, Engkau bangunkan aku dari kelalaian, untuk mengingat-Mu. Bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu
Alhamdulillah, Engkau izinkan tanganku untuk menyentuh mushaf-Mu, bersihkanlah ia
Alhamdulillah, Engkau lembutkan lisanku untuk membaca Kalam-Mu yang suci, sucikanlah ia
Alhamdulillah, Engkau bukakan pikiranku untuk memahami agungnya firman-mu, cerdaskanlah ia
Alhamdulillah, Engkau bersihkan hatiku untuk menghayati makna wahyu-Mu, sinarilah ia
Alhamdulillah, Engkau karuniakan semua itu karena Rahmat-Mu, maka Rahmatilah aku

KITA MULAI DENGAN MOHON PERLINDUNGAN
واذا قرئت القران فاستعذ بالله من الشيطان الجيم
Apabila engkau akan membaca al-Quran, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk. [QS.an-Nahl; 98]
KITA MOHON PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH, KARENA KITA TIDAK MEMPUNYAI DAYA DAN KEKUATAN. AKUILAH, DAN LEPASKANLAH DIRI DARI KEDUANYA, SELANJUTNYA BIAR DAYA DAN KEKUATAN TUHAN YANG BEKERJA DENGAN CARA DAN MEKANISMENYA SENDIRI.
DARI DOA KITA MENGETAHUI DAN MENYADARI DIRI, BAWALAH KESADARAN INI DALAM KEHIDUPAN.

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

اعوذ
AKU [lihat dengan jujur dan ikhlas diri sendiri] Berlindung/memohon perlindungan. Lari menuju sesuatu [ALLAH SWT] untuk menghindar dari sesuatu yang ditakuti [SYAITHAN YANG TERKUTUK] dengan segala perangkapnya.
بالله BI [dengan, bersama] ALLAH [Al-Hafizh yang Maha Memelihara]
من الشيطان الرجيم Dari Syaithan [kejahatannya, godaannya,sifat-sifatnya] yang TERKUTUK dialah musuh kita sesungguhnya dan jadikanlah ia musuh. Tanamkan rasa tidak suka, benci dan permusuhan kepada syaithan, langkah-langkahnya serta sifat-sifatnya seperti dengki, iri, sombong, pembangkang dll.

يَبَنِى اَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُوَرِيَهُمَا سَوْاَتِهِمَا اِنَّهُ يَرَىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لَاتَرَوْنَهُمْ اِنَّاجَعَلْنَاالشَّيَاطِيْنَ اَوْلِيَاءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
Hai anak Adam [arahkan kata ini ke diri sendiri, seolah Allah berfirman Hai fulan [nama kita], jangan sekali-kali kamu [kita] benar-benar di tipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu [kita] dari surga, ia [syaithan] menanggalkan dari keduanya [adam dan Hawa] pakaiannya [telanjang/aib/rahasia] untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya [sesuatu yang kita tidak mau orang lain mengetahuinya]. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya [kelompok jin dan manusia] melihat kamu [kita] dari suatu tempat yang kamu [kita] tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami [Allah] telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. [QS.al-A’raf:27]
“SADARILAH BAHWA SYAITHAN DAN PENGIKUT-PENGIKUTNYA MELIHAT KITA DI MANA SAJA, SEMENTARA KITA TIDAK DAPAT MELIHAT MEREKA, MAKA BERLINDUNGLAH KEPADA ZAT YANG MAHA MELIHAT, DAN KITAPUN TENANG DENGANNYA”

Bi [dengan,bersama,mengikutsertakan] ISMI [nama, zat,sifat,perbuatan] ini adalah kekuatan, kita lemah bila sendiri, tapi menjadi kuat ketika kita bersama ALLAH. بسم
Allah [tempat berlindung] karena IA maha Mampu/kuasa dan MAU melindungi, dan iman kita meyakini tidak ada perlindungan yang bisa melidungi kecuali perlindungan/pertolongan Allah Swt. الله
Maha PENGASIH dengan Rahmat-Nya. Ini membuat kita yakin karena Dia PASTI akan menolong/melindungi kita. الرحمن
Maha PENYAYANG. Kita YAKIN bahwa tidak ada yang menyayangi melebihi SAYANGNYA ALLAH SWT, termasuk orang tua, suami atau istri sekalipun. Kasih sayang dalam ayat ini tertuju kepada Zat-Nya yaitu ALLAH. الرحيم
Seraplah sebanyak-banyaknya nilai-nilai yang dikandung oleh dua asma tersebut yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim, tetapkanlah agar hati senantiasa berada dalam harapan agar mendapatkan dua asma di atas. Dan buatlah afirmasi [penegasan] untuk menebar kasih sayang dalam kehidupan. Man la yarham la yurham [siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan di sayang. Bertekadlah untuk menjadi penebar RAHMAT, AGAR MENDAPATKAN RAHMAT LEBIH BANYAK LAGI

Segala Puji. Sadari kita sedang memuji AL HAMID [Yang Maha Terpuji] yang pujian-Nya tidak tergantung kepada pujian makhluk, Ia tetap Terpuji walau tidak ada yang memuji, sementara manusia terpuji karena Tuhan memberi kita potensi dan kelebihan yang dengannya bila dioptimalkan dapat membuat kita terpuji, potensi tersebut adalah ASMA yang Tuhan titipkan dalam diri. Bertekadlah untuk senantiasa berbuat yang terbaik yang akan mengantarkan kita menjadi orang terpuji dalam pandangan Allah Swt. Fokuslah kepada pujian Allah, karena di dalamnya terkumpul pujian makhluk. Memuji Allah berarti: memuji Zat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya. Suci zat-Nya, Mulia sifat-sifat-Nya dan Sempurna Perbuatan dan ketetapan-Nya. الحمد
Bagi.untuk, kepunyaan, milik. ل
Zat yang kepadanya kita mengarahkan segala bentuk ketaatan, loyalitas, harapan dan rasa takut الله
RABB yang mengatur, memelihara, mendidik, dan mengawasi ia adalah sifat Tuhan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan kita, kita bisa bernafas adalah bagian dari bentuk pemeliharaan Allah Swt yang melekat dalam diri kita, Al-Quran adalah panduan pemeliharaan Tuhan terhadap semesta alam. Peliharalah al-Quran niscaya Allah akan memelihara kita dengan cara-Nya. رب
Semesta alam, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan benda-benda yang lain, alam dunia, alam barzakh, dan alam akhirat.
Allah kita puji karena KESEMPURNAANNYA DALAM MELAKUKAN PEMELIHARAAN TERHADAP SEMESTA ALAM. Teladanilah Tuhan dalam hal pemeliharaan. Ingin terpuji jadilah pemelihara terbaik [khalifah] العالمين

Dalam sebuah Hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: Allah Swt berfirman, Aku membagi Shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba apa yang dia minta. Ketika seorang hamba mengatakan alhamdulillahi rabbil ‘alamin [dalam shalat], maka Allah menjawab, Hamidani ‘abdi [hamba-Ku telah memuji-Ku]

Maha PENGASIH dan tidak pilih kasih, siapa saja mendapat kasih Tuhan di minta maupun tidak. Kita tidak pernah minta di beri mata sebelum lahir, tapi Allah beri kita mata, karena DIA maha TAHU sarana apa yang di butuhkan oleh manusia untuk mencapai tujuannya. Rasakan kasih Tuhan melalui mata yang Dia berikan. Ini sifat Tuhan dan Memelihara semesta alam, yang di landasi oleh kasih sayang. الرحمن
Maha PENYAYANG, Dia akan menyayangi siapa saja yang mengharapkan di sayang Tuhan, dan berbuat sesuai dengan harapnnya. Allah memberi kita aturan berupa AGAMA ISLAM karena DIA sayang kepada kita. Mau di sayang, amalkan ISLAM الرحيم
Ketika seorang hamba membaca ar-Rahmaani ar-Rahiim, maka Allah Swt menjawab, Atsna ‘alayya ‘abdi, [ hamba-Ku telah menyanjung-Ku]
Sadarilah bahwa bacaan al-Fatihah kita dalam shalat adalah DIALOG LANGSUNG KITA DENGAN ALLAH YANG MAHA SUCI, kesadaran ini akan membuat ayat demi ayat yang kita baca terasa nikmat, dan kita merasa Allah sedang MENATAP DAN MENJAWAB UCAPAN KITA. Nikmati dan hayatilah kedekatan hubungan ini.

Yang merajai, pemilik kerajaan, yang menguasaikan. Tataplah Allah dengan sejelas-jelasnya melalui sifat-Nya al-Maalik. Alihkan perhatian kepada diri kita yang sangat bergantung kepada Malik Allah, kita tidak mungkin bisa menyebut-Nya kalau bukan karena malik yang Tuhan anugerahkan kepada kita, syukurilah, dan mohonlah dalam hati agar beroleh tambahan malik itu. Doa “ya Maalikal maalik, tajalla lanaa bi sirri ismika al-maalik, hatta numlika nufusana” wahai pemilik kekuasaan, tampakkanlah dengan sejelas-jelasnya kepada kami rahasia nama-Mu al-Maalik, hingga kami mampu menguasai diri kami مالك
Hari yang telah ditetapkan oleh Allah يوم
Agama atau pembalasan. Pembalasan terhadap segala perbuatan manusia, dan tidak ada perbuatan kita yang luput dari pembalasan tersebut, [dialogkan ini dengan diri sendiri, kira-kira balasan kebaikankah yang kita dapat atau sebaliknya, lebih positif berfikir yang sebaliknya, karena ini akan mendorong seseorang untuk senantiasa memohon ampun, dan tidak pernah merasa dirinya suci, kecuali kalau zat yang Maha SUCI mensucikannya. الدين
Yang menguasai hari pembalasan. Setelah selesai membaca ayat ini maka Allah Swt akan menjawab; majjadani ‘abdi, hambaku telah mengagungkan Aku. Tentang apa hari pembalasan itu, bisa kita lihat dari surat al-infithaar ayat; 17-19. “dimana seseorang pada hari itu tidak memiliki kekuatan sedikitpun, dan urusan pada hari itu milik Allah. ayat ini menjelaskan tentang VISI kita sebagai mukmin yang jelas dan jauh ke depan, tidak hanya dalam hitungan tahun di dunia saja. مالك يوم الدين
Hanya Kepada, ايا
Engkau, fokuskan fikiran ketika menyebut huruf KA ini, karena yang dimaksud adalah Allah. Engkau adalah orang kedua, yang diajak bicara, sementara kita adalah orang pertama [yang berbicara] ini membantu menyadarkan kita bahwa kita sedang berdialog dengan ALLAH. tanamkanlah rasa bahwa kita adalah orang yang diajak bicara oleh Allah, karena ini akan sangat membantu hadirnya Hati dalam Shalat. ك
Kami menyembah, taat dan mengabdi. Kuatkan keyakinan ini bahwa kita tidak akan pernah taat dan mengabdikan diri kepada makhluk melebihi ketaatan dan pengabdian kita kepada Allah.INI ADALAH PRINSIP HIDUP. Prinsip yang akan membuat hidup kita punya arah yang jelas. Berprinsiplah kepada 99 asma al-Husna, niscaya kita akan menjadi orang yang kuat. Dan hidup kita akan penuh dengan makna. Karena ucapan, perbuatan, sikap serta loyalitas kita hanya kepada zat yang Maha Esa. Introspeksi diri kita, ketaatan apa saja yang sudah kita lakukan, dan bagaimana kualitas ibadah tersebut, hal ini penting karena berkaitan dengan permohon pertolongan. نعبد
Dan و
Hanya Kepada ايا
Engkau, sekali lagi hadirkan dengan sejelas-jelasnya makna kalimat ini dalam pikiran dan hati kita, sadari betul kalau kita sedang berkomunikasi dua arah dengan Allah Swt. ك
Kami mohon pertolongan. Mohon pertolongan dalam ayat ini ditempatkan sesudah menyembah, bila menyembah adalah kewajiban dan mohon pertolongan adalah hak, maka konsep al-fatihah mengajarkan kepada kita, bahwa kita harus mendahulukan kewajiban baru kemudian hak. Bandingkan antara kewajiban yang kita lakukan dengan hak yang kita minta dari Allah, berimbang dan adillah, dalam menuntut hak, karena Allah tidak akan mengingkari janji dan Allah tidak akan menzhalimi orang yang beribadah kepada-Nya. Pertahankan terus agar apa yang di ucapkan oleh lisan di mengerti dan di hayati oleh hati. Inilah yang tetap membuat ibadah itu nikmat. Ayat kelima ini berdasar hadits Qudsi diatas, Allah berfirman “Haza baini wa baina ‘abdi” ayat ini antara Aku dan hamba-Ku. Iyya ka na’budu adalah bagian Tuhan dan iyya ka nasta’in adalah bagian hamba. Dan bagian hamba adalah apa yang dia minta. نستعين

Bimbinglah, tuntunlah, tunjukkanlah, antarkanlah serta berilah hidayah. Ini adalah doa yang sangat bagus, yang merupakan bagian seorang hamba dari Allah. Di dalamnya terdapat permohonan yang sangat luar biasa, yang tidak akan di dapati oleh seseorang di dunia dan di akhirat yang lebih baik dari doa tersebut. Sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada Nabi Muhammad Saw, wa yahdiyaka shirathan mustaqiiman [dan Dia menunjukimu ke jalan yang lurus]. Kondisikanlah fikiran dan perasaan semaksimal mungkin, sehingga betul-betul sampai pada tingkat keikhlasan yang sempurna ketika memasuki ayat ini, serta ucapkanlah dengan penuh kesadaran dan pengharapan kepada Allah, yakinlah bahwa apa yang kita minta tersebut adalah sesuatu yang sangat agung, yang akan membawa kita kepada kebaikan dunia dan akhirat. Bayangkan betapa bahagianya bila kita mendapatkan apa yang kita minta dalam doa ini. Bukankah kita sangat mengharapkan hidayah, maka ini adalah permohonan agar diberi hidayah. Dengan hidayah tersebut kita menjalani kehidupan. Ini adalah doa penentu keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat. Tidak ada orang yang selamat menjalani kehidupan tanpa hidayah Allah. اهد
Kami. Bentuk ukhuwwah dan kasih sayang seorang mukmin tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam shalatpun, minimal ketika membaca ayat ini, kita memperlihatkan betapa rasa persaudaraan tersebut tetap menyertai kita, dalam berdoa sekalipun. Kata kami dalam ayat ini seyogyanya menanggalkan sifat ego yang mungkin kita miliki. Kita tidak boleh mengganti kata tersebut dengan saya, meskipun kita shalat sendirian. Dalam kami tersebut ada orang lain, minimal keluarga. Kita ingin dapat hidayah, kita juga ingin seluruh keluarga mendapatkan dal yang sama. نا
Shirath adalah jalan yang lebar lagi lurus, yang menjamin siapapun yang melewatinya akan sampai ke tempat yang di tuju. Kata Shirath dalam al-Quran terulang sebanyak 45 kali dan seluruhnya dalam bentuk tunggal. Ini berati bahwa jalan kebenaran itu Cuma satu dan jangan pernah mencari jalan-jalan lain untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat. Yakinlah dan bawalah keyakinan tersebut dalam kehidupan. Tidak ada cara yang dapat mengantarkan kita kepada kesuksesan [yang sesungguhnya], kecuali jalan yang telah di tentukan oleh Allah Swt. Diantara jalan-jalan tersebut adalah:
Menyembah Allah Swt. [Ali-Imran:51 dan Maryam:36]
Berpegang teguh kepada Allah [Ali-Imran: 101]
Agama yang lurus [Al-an’am: 161]
Tidak musyrik [Al-An’am: 161]
Hanif /cendrung kepada kebaikan [Al-An’am: 161]
Al-Quran [Ibrahim: 1]
Orang-orang yang ikhlas [Al-hijr: 40-41]
Menyuruh kepada keadilan [An-Nahl: 76]
Bersyukur [An-Nahl: 121] الصراط
Al-Mustaqiem berarti yang lurus, konsistensi, istiqomah. Makna keseluruhan ayat ini memperlihatkan sebuah kepasrahan dan penyerahan diri secara totalitas, kepada mekanisme atau cara yang telah Allah tetapkan. Sekaligus mengakui dengan jujur akan ketidakmampuan manusia untuk menentukan cara yang tepat bagi dirinya. المستقيم

Jalan yang di minta dalam ayat ke 6 diatas, adalah Jalan yang benar-benar riil dan sudah terbukti mampu menyelesaikan segala persoalan dengan baik. 14 abad jalan tersebut di uji oleh zaman, dan semakin jelas bagi kita bahwa ini adalah jalan Tuhan, dan Pasti Benar. صراط
Orang-orang yang, الذين
Telah Engkau beri nikmat. Huruf TA dalam ayat ini adalah kata ganti orang kedua, yang berarti Engkau, yaitu Allah Swt.[hadirkanlah hati, karena kita sedang berdialog], dalam ayat ini dengan jelas disebutkan bahwa nikmat berasal dari Allah. انعمت
Atas mereka. Kenikmatan dalam membaca ayat ini, tidak bisa di pisahkan dengan pengetahuan pembacanya. Karena ayat ini adalah ayat sejarah. Sebesar apa pengetahuan kita kepada sejarah orang-orang yang telah Allah karuniai nikmat, akan berdampak kepada kejelasan apa yang sebenarnya kita minta. Pikiran dan hati kita akan membentuk suatu gambaran yang benar-benar nyata. Semakin nyata gambaran apa yang kita minta dan ia memenuhi pikiran dan hati pembacanya, maka semakin besar pula kemungkinan permohonan kita di kabulkan oleh Allah Swt. Di samping itu, ayat ini seyogyanya menjadi inspirasi bagi kita dalam melakukan segala sesuatu. Sekaligus ia akan menjadi control, apakah yang kita lakukan sesuai dengan yang di contohkan oleh orang-orang yang telah diberi nikmat. Orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini di jelaskan oleh Allah dalam al-Quran, diantaranya: “dan siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, shiddiqiin, para syuhada dan shalihin, mereka itulah sebaik-baik teman”[an-Nisa:69]. Intonasi dalam membaca ayat ini sebaiknya di rendahkan, karena ia berkaitan dengan permohonan akan nikmat. Menempatkan intonasi yang tepat dalam membaca al-Quran, dan disertai dengan pengetahuan serta penghayatan terhadap ayat akan sangat membantu untuk merasakan nikmatnya berdialog dengan al-Quran. Biarkanlah lisan berucap dengan ikhlas mengikuti pikiran dan hati, niscaya sentuhan ayat akan benar-benar nyata kita rasakan. Berlatihlah عليهم
Ghair secara bahasa berarti tidak, bukan dan selain. Ini adalah bentuk penolakan yang datang dari sebuah kesadaran bahwa yang kita harapkan adalah jalan nikmat dan bukan selainnya. Semakin kuat keinginan tersebut mewarnai pikiran dan hati kita, maka semakin kuat pula penolakan terhadap hal sebaliknya. Hayatilah dengan hati, dan berdoalah supaya bisa merasakan nikmatnya ayat ini. Mudah-mudahan berawal dari kenikmatan baca, akan membimbing kita untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih besar lagi. غير
Kalimat ini berasal dari kata Ghadhaba, marah, murka. Al-maghdhuub adalah kata benda, yang berarti yang di murkai/yang di marahi, ayat ini sengaja saya garis bawahi karena banyak yang kurang tepat dalam menterjemahkannya. Yang di murkai dalam ayat ini adalah orang Yahudi, yang mengerti akan kebenaran tetapi tidak beramal sesuai dengan pengetahuannya. Kemudian ulama tafsir memperluas maknanya sehingga menjadi orang yang di murkai adalah orang yang punya ilmu dan tidak beramal dengan ilmunya. Bisa jadi kita termasuk dalam kategori orang yang dimaksudkan oleh ayat ini. Mengarahkan makna ayat ini kedalam diri sendiri akan lebih berdampak positif, dimana secara psikologis minimal ketika baca ayat ini ada kesadaran diri dan keinginan untuk keluar dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan. المغضوب
Atas mereka, kembali pikiran kita tertuju kepada orang yang di murkai diatas, kalimat ini merupakan penekanan kembali. عليهم
Dan tidak [pula], ini ayat komitmen. Orang yang berkomitmen untuk menata hidupnya agar senantiasa berada dalam wilayah nikmat Allah, maka kebencian kepada hal-hal yang sebaliknya, dapat memudahkan perjalanannya mendapatkan apa yang di inginkan. Ucapkan dengan penuh kesadaran kalimat ini, dan tidak, sekali lagi tidak/bukan. ولا
Orang-orang yang sesat. Awalnya adalah orang nasrani. Sifat utama yang membuat mereka sesat adalah berbuat sesuatu tanpa ilmu. Sifat mereka ini bisa saja mempunyai kemiripan dengan kita. Sekali lagi seakan-akan Allah menyadarkan kita bahwa apa yang kita lakukan harus memiliki ilmu. Berilmu tapi tidak beramal, akan di murkai. Beramal dan tidak berilmu maka sesat. Kalau 17 kali sehari-semalam al-Fatihah dibaca dengan kesadaran seperti ini, niscaya akan memberikan efek yang luar biasa. Minimal semakin akan memperjelas prinsip, nilai, arah serta tujuan hidup seseorang yang membacanya. Keseluruhan ayat ke tujuh ini, membawa seorang yang membacanya kepada dua hal yang bertolak belakang, pertama berharap agar tergolong orang-orang yang di bimbing oleh Allah sehingga berada di jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat. Dan kedua terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengundang murka, dan juga selamat dari segala bentuk kesesatan. Bila pikiran dan emosi dilibatkan secara maksimal dalam membaca ayat ini maka akan menghasilkan kenikmatan yang luar biasa. Amin [kabulkanlah ya Allah]. ketika lisan mengucapkan amin, niscaya pikiran dan hati kita kembali tertuju kepada permohonan di atas. Nikmatilah ucapan amin tersebut, dan yakini bahwa Allah segera mengabulkan permohonan hamba-Nya, selama hamba betul-betul mengharapkannya. الضالين

October 14, 2011 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

BAHASA ARAB


ضمير فعل الماض زيادة الاخر معنئ
هُوَ فَعَلَ   Dia 1 org laki-laki telah mengerjakan
هُمَا فَعَلَا َا Dia 2 org laki-laki telah mengerjakan
هُمْ فَعَلُوْا ُوْا Mereka laki-laki telah mengerjakan
هِيَ فَعَلَتْ تْ Dia 1 org perempuan telah mengerjakan
هُمَا فَعَلَتَا تَا Dia 2 org perempuan telah mengerjakan
هُنَّ فَعَلْنَ ْ نَ Mereka perempuan telah mengerjakan
اَنْتَ فَعَلْتَ ْ تَ Engkau/Kamu 1 org laki telah mengerjakan
اَنْتُمَا فَعَلْتُمَا ْ تُمَا Engaku/Kamu 2 org laki telah mengerjakan
اَنْتُمْ فَعَلْتُمْ ْ تُمْ Kalian laki-laki telah mengerjakan
اَنْتِ فَعَلْتِ ْ تِ Engkau/Kamu 1 org pr telah mengerjakan
اَنْتُمَا فَعَلْتُمَا ْ تُمَا Engkau/Kamu 2 org pr telah mengerjakan
اَنْتُنَّ فَعَلْتُنَّ ْ تُنَّ Kalian pr telah mengerjakan
اَنَا فَعَلْتُ ْ تُ Aku laki/pr telah mengerjakan
نَحْنُ فَعَلْنَا ْ نَا Kami laki/pr telah mengerjakan
 

 

هُوَ يَفْعَلُ يَفْعِلُ يَفْعُلُ ي
هُمَا يَفْعَلَانِ يَفْعِلَانِ يَفْعُلَانِ ي    َانِ
هُمْ يَفْعَلُوْنَ يَفْعِلُوْنَ يَفْعُلُوْنَ ي    ُوْنَ
هِيَ تَفْعَلُ تَفْعِلُ تَفْعُلُ ت
هُمَا تَفْعَلَانِ تَفْعِلَانِ تَفْعُلَانِ ت    َانِ
هُنَّ يَفْعَلْنَ يَفْعِلْنَ يَفْعُلْنَ ي    ْ نَ
اَنْتَ تَفْعَلُ تَفْعِلُ تَفْعُلُ ت
اَنْتُمَا تَفْعَلَانِ تَفْعِلَانِ تَفْعُلَانِ ت     َانِ
اَنْتُمْ تَفْعَلُوْنَ تَفْعِلُوْنَ تَفْعُلُوْنَ ت     ُوْنَ
اَنْتِ تَفْعَلِيْنَ تَفْعِلِيْنَ تَفْعُلِيْنَ ت     ِيْنَ
اَنْتُمَا تَفْعَلَانِ تَفْعِلَانِ تَفْعُلَانِ ت     َانِ
اَنْتُنَّ تَفْعَلْنَ تَفْعِلْنَ تَفْعُلْنَ ت     ْ نَ
اَنَا اَفْعَلُ اَفْعِلُ اَفْعُلُ ا
نَحْنُ نَفْعَلُ نَفْعِلُ نَفْعُلُ ن

 

 

 

ضمير فعل الماض زيادة الاخر معنئ
هُوَ شكر   Dia 1 org laki-laki telah bersyukur
هُمَا شكرا َا Dia 2 org laki-laki telah bersyukur
هُمْ شكروا ُوْا Mereka laki-laki telah bersyukur
هِيَ شكرت تْ Dia 1 org perempuan telah bersyukur
هُمَا شكرتا تَا Dia 2 org perempuan telah bersyukur
هُنَّ شكرن ْ نَ Mereka perempuan telah bersyukur
اَنْتَ شكرت ْ تَ Engkau/Kamu 1 org laki telah bersyukur
اَنْتُمَا شكرتما ْ تُمَا Engaku/Kamu 2 org laki telah bersyukur
اَنْتُمْ شكرتم ْ تُمْ Kalian laki-laki telah bersyukur
اَنْتِ شكرت ْ تِ Engkau/Kamu 1 org pr telah bersyukur
اَنْتُمَا شكرتما ْ تُمَا Engkau/Kamu 2 org pr telah bersyukur
اَنْتُنَّ شكرتن ْ تُنَّ Kalian pr telah bersyukur
اَنَا شكرت ْ تُ Aku laki/pr telah bersyukur
نَحْنُ شكرنا ْ نَا Kami laki/pr telah bersyukur

 

ضمير فعل الماض زيادة الاخر معنئ
هُوَ عَبَدَ   Dia 1 org laki-laki telah menyembah
هُمَا عَبَدَا َا Dia 2 org laki-laki telah menyembah
هُمْ عَبَدُوْا ُوْا Mereka laki-laki telah menyembah
هِيَ عَبَدَتْ تْ Dia 1 org perempuan telah menyembah
هُمَا عَبَدَتَا تَا Dia 2 org perempuan telah menyembah
هُنَّ عَبَدْنَ ْ نَ Mereka perempuan telah menyembah
اَنْتَ عَبَدْتَ ْ تَ Engkau/Kamu 1 org laki telah menyembah
اَنْتُمَا عَبَدْتُمَا ْ تُمَا Engaku/Kamu 2 org laki telah menyembah
اَنْتُمْ عَبَدْتُمْ ْ تُمْ Kalian laki-laki telah menyembah
اَنْتِ عَبَدْتِ ْ تِ Engkau/Kamu 1 org pr telah menyembah
اَنْتُمَا عَبَدْتُمَا ْ تُمَا Engkau/Kamu 2 org pr telah menyembah
اَنْتُنَّ عَبَدْتُنَّ ْ تُنَّ Kalian pr telah menyembah
اَنَا عَبَدْتُ ْ تُ Aku laki/pr telah menyembah
نَحْنُ عَبَدْنَا ْ نَا Kami laki/pr telah menyembah

 

 

ضمير فعل الماض زيادة الاخر معنئ
هُوَ اَنْزَلَ   Dia 1 org laki-laki telah menurunkan
هُمَا اَنْزَلَا َا Dia 2 org laki-laki telah menurunkan
هُمْ اَنْزَلُوْا ُوْا Mereka laki-laki telah menurunkan
هِيَ اَنْزَلَتْ تْ Dia 1 org perempuan telah menurunkan
هُمَا اَنْزَلَتَا تَا Dia 2 org perempuan telah menurunkan
هُنَّ اَنْزَلْنَ ْ نَ Mereka perempuan telah menurunkan
اَنْتَ اَنْزَلْتَ ْ تَ Engkau/Kamu 1 org laki telah menurunkan
اَنْتُمَا اَنْزَلْتُمَا ْ تُمَا Engaku/Kamu 2 org laki telah menurunkan
اَنْتُمْ اَنْزَلْتُمْ ْ تُمْ Kalian laki-laki telah menurunkan
اَنْتِ اَنْزَلْتِ ْ تِ Engkau/Kamu 1 org pr telah menurunkan
اَنْتُمَا اَنْزَلْتُمَا ْ تُمَا Engkau/Kamu 2 org pr telah menurunkan
اَنْتُنَّ اَنْزَلْتُنَّ ْ تُنَّ Kalian pr telah menurunkan
اَنَا اَنْزَلْتُ ْ تُ Aku laki/pr telah menurunkan
نَحْنُ اَنْزَلْنَا ْ نَا Kami laki/pr telah menurunkan

 

 

ضمير فعل الماض معلوم فعل الماض مجهول معنئ
هُوَ قَتَلَ قُتِلَ Dia 1 org laki-laki telah membunuh/dibunuh
هُمَا قَتَلَا قُتِلَا Dia 2 org laki-laki telah membunuh/dibunuh
هُمْ قَتَلُوْا قُتِلُوْا Mereka laki-laki telah membunuh/dibunuh
هِيَ قَتَلَتْ قُتِلَتْ Dia 1 org perempuan telah membunuh/dibunuh
هُمَا قَتَلَتَا قُتِلَتَا Dia 2 org perempuan telah membunuh/dibunuh
هُنَّ قَتَلْنَ قُتِلْنَ Mereka perempuan telah membunuh/dibunuh
اَنْتَ قَتَلْتَ قُتِلْتَ Engkau/Kamu 1 org laki telah membunuh/dibunuh
اَنْتُمَا قَتَلْتُمَا قُتِلْتُمَا Engaku/Kamu 2 org laki telah membunuh/dibunuh
اَنْتُمْ قَتَلْتُمْ قُتِلْتُمْ Kalian laki-laki telah membunuh/dibunuh
اَنْتِ قَتَلْتِ قُتِلْتِ Engkau/Kamu 1 org pr membunuh/dibunuh
اَنْتُمَا قَتَلْتُمَا قُتِلْتُمَا Engkau/Kamu 2 org pr telah membunuh/dibunuh
اَنْتُنَّ قَتَلْتُنَّ قُتِلْتُنَّ Kalian pr telah membunuh/dibunuh
اَنَا قَتَلْتُ قُتِلْتُ Aku laki/pr telah membunuh/dibunuh
نَحْنُ قَتَلْنَا قُتِلْنَا Kami laki/pr telah membunuh/dibunuh

 

POLA SERTA PERBANDINGAN KATA KERJA SEDANG AKTIF DAN PASIF

معنئ مجهول معلوم ضمير
Dia 1 org laki-laki sedang memukul/dipukul يُضْرَبُ يَضْرِبُ هُوَ
Dia 2 org laki-laki sedang memukul/dipukul يُضْرَبَانِ يَضْرِبَانِ هُمَا
Mereka laki-laki sedang memukul/dipukul يُضْرَبُوْنَ يَضْرِبُوْنَ هُمْ
Dia 1 org perempuan sedang memukul/dipukul تُضْرَبُ تَضْرِبُ هِيَ
Dia 2 org perempuan sedang memukul/dipukul تُضْرَبَانِ تَضْرِبَانِ هُمَا
Mereka perempuan  sedang memukul/dipukul يُضْرَبْنَ يَضْرِبْنَ هُنَّ
Engkau/Kamu 1 org laki sedang memukul/dipukul تُضْرَبُ تَضْرِبُ اَنْتَ
Engaku/Kamu 2 org laki sedang memukul/dipukul تُضْرَبَانِ تَضْرِبَانِ اَنْتُمَا
Kalian laki-laki sedang memukul/dipukul تُضْرَبُوْنَ تَضْرِبُوْنَ اَنْتُمْ
Engkau/Kamu 1 org pr sedang memukul/dipukul تُضْرَبِيْنَ تَضْرِبِيْنَ اَنْتِ
Engkau/Kamu 2 org pr sedang memukul/dipukul تُضْرَبَانِ تَضْرِبَانِ اَنْتُمَا
Kalian pr sedang memukul/dipukul تُضْرَبْنَ تَضْرِبْنَ اَنْتُنَّ
Aku laki/pr sedang memukul/dipukul اُضْرَبُ اَضْرِبُ اَنَا
Kami laki/pr sedang memukul/dipukul نُضْرَبُ نَضْرِبُ نَحْنُ

 

 

 

ISIM FA’IL DAN ISIM MAF’UL

KATA BENDA YANG MENGANDUNG ARTI PELAKU DAN YANG DILAKUKAN

اسم المفعول اسم الفاعل  
مَفْعُوْلَةٌ مَفْعُوْلٌ فَاعِلَةٌ فَاعِلٌ مفرد
مَفْعُوْلَتَانِ مَفْعُوْلَانِ فَاعِلَتَانِ فَاعِلاَنِ مثنئ
مَفْعُوْلَاتٌ مَفْعُوْلُوْنَ فَاعِلَاتٌ فَاعِلُوْنَ جمع

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

ISIM FA’IL DARI KATA ARTINYA
فاعل فعل SATU ORANG LAKI-LAKI YANG MENGERJAKAN/MELAKUKAN
فاعلان DUA ORANG LAKI-LAKI YANG MENGERJAKAN/MELAKUKAN
فاعلون ORANG-ORANG [LEBIH DARI DUA] LAKI-LAKI YANG MENGERJAKAN/MELAKUKAN
فاعلة SATU ORANG PEREMPUAN YANG MENGERJAKAN/MELAKUKAN
فاعلتان DUA ORANG PEREMPUAN YANG MENGERJAKAN/MELAKUKAN
فاعلات ORANG-ORANG [LEBIH DARI DUA] PEREMPUAN MENGERJAKAN/MELAKUKAN

 

 

 

 

 

 

 

 

ISIM FA’IL DAN ISIM MAF’UL

YANG DIDAHULUI OLEH HURUF JAR

 

مفرد فَاعِلٍ فَاعِلَةٍ مَفْعُوْلٍ مَفْعُوْلَةٍ
مثنئ فَاعِلَيْنِ فَاعِلَتَيْنِ مَفْعُوْلَيْنِ مَفْعُوْلَتَيْنِ
جمع فَاعِلِيْنَ فَاعِلَاتٍ مَفْعُوْلِيْنَ مَفْعُوْلاَتٍ

 

 

FI’IL AMR DAN NAHY

KATA KERJA PERINTAH DAN LARANGAN

فعل النهي فعل الامر مضارع
لاَ تَفْعَلِيْ لاَ تَفْعَلْ اِفْعَلِيْ اِفْعَلْ يَفْعَلُ
لاَ تَفْعَلَا لاَ تَفْعَلَا اِفْعَلَا اِفْعَلَا
لاَ تَفْعَلْنَ لَا تَفْعَلُوْا اِفْعَلْنَ اِفْعَلُوْا

 

فعل النهي فعل الامر مضارع
لاَ تَفْعِلِيْ لاَ تَفْعِلْ اِفْعِلِيْ اِفْعِلْ يَفْعِلُ
لاَ تَفْعِلَا لاَ تَفْعِلَا اِفْعِلَا اِفْعِلَا
لاَ تَفْعِلْنَ لَا تَفْعِلُوْا اِفْعِلْنَ اِفْعِلُوْا

 

فعل النهي فعل الامر مضارع
لاَ تَفْعُلِيْ لاَ تَفْعُلْ اُفْعُلِيْ اُفْعُلْ يَفْعُلُ
لاَ تَفْعُلَا لاَ تَفْعُلَا اُفْعُلَا اُفْعُلَا
لاَ تَفْعُلْنَ لَا تَفْعُلُوْا اُفْعُلْنَ اُفْعُلُوْا

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BENTUK PERINTAH, PERUBAHAN DAN CARA

MENTERJEMAHKANNYA

 

ARTINYA CONTOH BENTUK PERINTAH KATA GANTI/DHAMIR
Tolonglah [Oleh kamu 1 org laki-laki] اُنْصُرْ انت
Tolonglah [Oleh kamu 2 org laki-laki] اُنْصُرَا انتما
Tolonglah [Oleh kalian laki-laki] اُنْصُرُوْا انتم
Tolonglah [Oleh kamu 1 org perempuan] اُنْصُرِيْ انت
Tolonglah [Oleh kamu 2 org perempuan] اُنْصُرَا انتما
Tolonglah oleh kalian [perempuan] اُنْصُرْنَ انتن

 

 

 

 

هُوَ هُ ذَكَرَهُ Dia [lk] telah menyebutnya [lk]
هُمَا هُمَا ذَكَرَهُمَا Dia [lk] telah menyebut [dia berdua] lk
هُمْ هُمْ ذَكَرَهُمْ Dia [lk] telah menyebut [mereka] lk
هِئَ هَا ذَكَرَهَا Dia [lk] telah menyebutnya [pr]
هُماَ هُمَا ذَكَرَهُمَا Dia [lk] telah menyebut [dia dua orang pr]
هُنَّ هُنَّ ذَكَرَهُنَّ Dia [lk] telah menyebut mereka perempuan
اَنْتَ كَ ذَكَرَكَ Dia [lk] telah menyebutmu [lk]
اَنْتُمَا كُمَا ذَكَرَكُمَا Dia [lk] telah menyebut [kamu berdua] lk
اَنْتُمْ كُمْ ذَكَرَكُمْ Dia [lk] telah menyebut kalian [lk]
اَنْتِ كِ ذَكَرَكِ Dia [lk] telah menyebutmu [pr]
اَنْتُمَا كُمَا ذَكَرَكُمَا Dia [lk] telah menyebut kamu berdua [pr]
اَنْتُنَّ كُنَّ ذَكَرَكُنَّ Dia [lk] telah menyebut kalian pr
اَنَا نِيْ ذَكَرَنِيْ Dia [lk] telah menyebutku
نَحْنُ نَا ذَكَرَنَا Dia [lk] telah menyebut kami

DHAMIR YANG MENEMPATI POSISI SEBAGAI OBJEK

 

 

 

 

 

ARTINYA CONTOH BENTUK LARANGAN KATA GANTI/DHAMIR
Jangan kamu 1 org laki-laki menolong لاَ تَنْصُرْ انت
Jangan kamu 2 org laki-laki] menolong لاَ تَنْصُرَا انتما
Jangan kalian laki-laki menolong لاَ نْصُرُوْا انتم
Jangan kamu 1 org perempuan menolong لَا تَنْصُرِيْ انت
Jangan kamu 2 org perempuan menolong لاَ تَنْصُرَا انتما
Jangan kalian perempuan menolong لاَ تَنْصُرْنَ انتن
 

IDHAFAH ISIM DENGAN DHAMIR

ضمير ضمير اضافة  
هُوَ هُ كِتَابُهُ Kitabnya 1 org lk
هُمَا هُمَا كِتَابُهُمَا Kitab dia 2 org lk
هُمْ هُمْ كِتَابُهُمْ Kitab mereka lk
هِئَ هَا كِتَابُهَا Kitab dia 1 org pr
هُماَ هُمَا كِتَابُهُمَا Kitab dia 2 org pr
هُنَّ هُنَّ كِتَابُهُنَّ Kitab mereka pr
اَنْتَ كَ كِتَابُكَ Kitab mu 1 org lk
اَنْتُمَا كُمَا كِتَابُكُمَا Kitab kamu berdua lk
اَنْتُمْ كُمْ كِتَابُكُمْ Kitab kalian lk
اَنْتِ كِ كِتَابُكِ Kitab mu 1 org pr
اَنْتُمَا كُمَا كِتَابُكُمَا Kitab kamu 2 org pr
اَنْتُنَّ كُنَّ كِتَابُكُنَّ Kitab kalian pr
اَنَا بِيْ كِتَابِيْ Kitabku lk/pr
نَحْنُ نَا كِتَابُنَا Kitab kami lk/pr

 

 

IDHAFAH ISIM DENGAN DHAMIR DAN PERUBAHANNYA

 

كِتَابُكَ فِيْ كِتَابِكَ DIMASUKI OLEH HURUF JAR
كِتَابُكَ اِنَّ كِتَابَكَ DI AWALI OLEH HURUF INNA
كِتَابُكَ قَرَءْتُ كِتَابَكَ MENEMPATI POSISI OBJEK/MAF’UL BIH

 

 

 

 

 

 

 

IDHAFAH ISIM DENGAN ISIM

 

IDHAFAH [MUDHAF WA MUDHAFUN ILAIHI ISIM KEDUA MA’RIFAH PAKAI ALIF LAM  [AL] ISIM PERTAMA NAKIRAH TIDAK PAKAI ALIF LAM
رَسُوْلُ اللهِ اللهُ رَسُوْلٌ
سُوْرَةُ اْلفَاتِحَةِ اَلْفَاتِحَةُ سُوْرَةٌ
دِيْنُ اْلِاسْلَامِ اَلْاِسْلاَمُ دِيْنٌ

 

 

IDHAFAH ISIM DENGAN ISIM DAN

PERUBAHANNYA

 

IDHAFAH [MUDHAF WA MUDHAFUN ILAIHI ISIM KEDUA ISIM PERTAMA
رَسُوْلُ اللهِ/ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ اللهُ رَسُوْلٌ
سُوْرَةُ اْلفَاتِحَةِ/ اِنَّ سُوْرَةَ اْلفَاتِحَةِ اَلْفَاتِحَةُ سُوْرَةٌ
دِيْنُ اْلِاسْلَامِ/ عَمِلْنَا دِيْنَ اْلِاسْلَامِ اَلْاِسْلاَمُ دِيْنٌ

 

 

TSULATSI MUJARRAD

KATA KERJA YANG DASARNYA TERDIRI DARI TIGA HURUF

 

POLA TASHRIF [PERUBAHAN] TSULATSI MUJARRAD TERDIRI DARI 6 BAB, YAITU;

 

المفعول الفاعل المصدر المصدر المضارع الماض
مَفْعُوْلٌ فَاعِلٌ مَفْعَلاً فَعْلاً يَفْعُلُ فَعَلَ
مَفْعُوْلٌ فَاعِلٌ مَفْعَلًا فَعْلًا يَفْعِلُ فَعَلَ
مَفْعُوْلٌ فَاعِلٌ مَفْعَلًا فَعْلًا يَفْعَلُ فَعَلَ
مَفعُوْلٌ فَاعِلٌ مَفْعَلًا فَعْلًا يَفْعَلُ فَعِلَ
مَفْعُوْلٌ فَعَلٌ مَفْعَلًا فُعْلًا يَفْعُلُ فَعُلَ
مَفْعُوْلٌ فَاعِلٌ مَفْعَلاً فُعْلَاناً يَفْعِلُ فَعِلَ

 

 

 

 

مضارع مجهول ماض مجهول الالة مكان زمان النهئ الامر
يُفْعَلُ فُعِلَ مَفْعَلٌ مفعل لَا تَفْعُلْ اُفْعُلْ
يُفْعَلُ فُعِلَ مَفْعِلٌ مفعل لاَ تَفْعِلْ اِفْعِلْ
يُفْعَلُ فُعِلَ مَفْعَلٌ مفعل لَا تَفْعَلْ اِفْعَلْ
يُفْعَلُ فُعِلَ مَفْعَلٌ مفعل لَا تَفْعَلْ اِفْعَلْ
يُفْعَلُ فُعِلَ مَفْعَلٌ مفعل لاَ تَفْعُلْ اُفْعُلْ
يُفْعَلُ فُعِلَ مَفْعِلٌ مفعل لاَ تَفْعِلْ اِفْعِلْ

 

 

 

 

TSULATSI MADZID

KATA KERJA YANG MENDAPAT PENAMBAHAN HURUF

 

المفعول الفاعل المصدر المصدر المضارع الماض
مُفَعَّلٌ مُفَعِّلٌ تَفْعِيْلَةً تَفْعِيْلًا يُفَعِّلُ فَعَّلَ
مُفَاعَلٌ مُفَاعِلٌ فِعَالًا مُفَاعَلَةً يُفَاعِلُ فَاعَلَ
مُفْعَلٌ مُفْعِلٌ مُفْعَلًا اِفْعَالًا يُفْعِلُ اَفْعَلَ
مُتَفَاعَلٌ مُتَفَاعِلٌ مُتَفَاعَلًا تَفَاعُلًا يَتَفَاعَلُ تَفَاعَلَ
مُتَفَعَّلٌ مُتَفَعِّلٌ مُتَفَعَّلًا تَفَعُّلًا يَتَفَعَّلُ تَفَعَّلَ
مُفْتَعَلٌ مُفْتَعِلٌ مُفْتَعَلٌ اِفْتِعَالًا يَفْتَعِلُ اِفْتَعَلَ
مُنْفَعَلٌ مُنْفَعِلٌ مُنْغَعَلًا اِنْفِعَالًا يَنْفَعِلُ اِنْفَعَلَ
مُفْعَلٌّ مُفْعِلٌّ مُفْعَلاًّ اِفْعِلَالًا يَفْعَلُّ اِفْعَلَّ
مُسْتَفْعَلٌ مُسْتَفْعِلٌ مُسْتَفْعَلًا اِسْتِفْعَالًا يَسْتَفْعِلُ اِسْتَفْعَلَ
مُفْعَوْعَلٌ مُفْعَوْعِلٌ مُفْعَوْعَلًا اِفْعِيْعَالًا يَفْعَوْعِلُ اِفْعَوْعَلَ
مُفْعَالٌّ مُفْعَالٌّ مُفْعَالاًّ اِفْعِيْلَالًا يَفْعَالُّ اِفْعَالَّ
مُفْعَوَّلٌ مُفْعَوِّلٌ مُفْعَوَّلًا اِفْعِوَّالًا يَفْعَوِّلُ اِفْعَوَّلَ

 

 

مجهول مجهول الالة مكان زمان النهي الامر
يُفَعَّلُ فُعِّلَ مُفَعِّلٌ مُفَعَّلٌ لَا تُفَعِّلْ فَعِّلْ
يُفَاعَلُ فُوْعِلَ مُفَاعَلٌ مُفَاعَلٌ لاَ تُفَاعِلْ فَاعِلْ
يُفْعَلُ اُفْعِلَ مُفْعَلٌ مُفْعَلٌ لاَ تُفْعِلْ اَفْعِلْ
يُتَفَاعَلُ تُفُوْعِلَ مُتَفَاعَلٌ مُتَفَاعَلٌ لَا تَتَفَاعَلْ تَفَاعِلْ
يُتَفَعَّلُ تُفُعِّلَ مُتَفَعَّلٌ مُتَفَعَّلٌ لَاتَتَفَعَّلْ تَفَعَّلْ
يُفْتَعَلُ اُفْتُعِلَ مُفْتَعَلٌ مُفْتَعَلٌ لَا تَفْتَعِلْ اِفْتَعِلْ
يُنْفَعَلُ اُنْفُعِلَ مُنْفَعَلٌ مُنْفَعَلٌ لَا تَنْفَعِلْ اِنْفَعِلْ
يُفْعَلُّ اُفْعُلَّ مُفْعَلٌّ مُفْعَلٌّ لَاتَفْعَلَّ اِفْعَلَّ
يُسْتَفْعَلُ اُسْتُفْعِلَ مُسْتَفْعَلٌ مُسْتَفْعَلٌ لاَ تَسْتَفْعِلْ اِسْتَفْعِلْ
يُفْعُوْعَلُ اُفْعُوْعِلَ مُفْعَوْعَلْ مُفْعَوْعَلْ لاَ تَفْعَوْعِلْ اِفْعَوْعِلْ
يُفْعَالُّ اُفْعُوْلَّ مُفْعَالّ مُفْعَالٌّ لَا تَفْعَالَّ اِفْعَالَّ
يُفْعَوَّلُ اُفْعُوِّلَ مُفْعَوَّلٌ مُفْعَوَّلٌ لَا تَفْعَوَّلْ اِفْعَوَّلْ

 

March 23, 2011 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

DOA PENGUAT IMAN


DOA-DOA PENGUAT KEIMANAN

OLEH: JASDI BAHRUN

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمِ يَا بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ يَا ذَااْلجَلَالِ وَاْلِاكْرَامِ لَا اِلَهَ اِلَّا اَنْتَ بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ اَصْلِحْ لِيْ شَاْ نِيْ وَلَا تَكِلْنِيْ اِلئَ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنِ

Artinya: Wahai zat yang Maha Hidup dan berdiri sendiri, wahai pencipta langit dan bumi, wahai pemilik kebesaran dan kemuliaan, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua keadaanku dan jangan Engkau biarkan aku sendirian walaupun sekejap mata.

اللهم اجعلني صبورا واجعلني شكورا واجعلني في عيني صغيرا وفي اعين الناس كبيرا رب اغفر وارحم واهدني السبيل الاقوم

Artinya: Ya Allah jadikanlah aku orang yang penyabar dan jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur, dan jadikanlah aku dalam pandanganku kecil dan dalam pandangan manusia besar. Ya Rabb, ampuni dan sayangilah aku serta bimbinglah aku kejalan yang kokoh.

اللهم لا تدع لنا ذنبا الا غفرته ولا عيبا الا سترته ولا هم الا فرجته ولا دينا الا قضيته ولاحاجة من حوائج الدنيا والاخرة هي لك رضا ولنا صلاحا الا قضيتها يا ارحم الرحمين

Artinya: Ya Allah jangan Engkau biarkan dosa kami kecuali Engkau mengampuninya, dan jangan pula Engkau biarkan aib kami kecuali Engkau menutupinya, dan tidak pula duka cita kecuali Engkau melepaskannya, dan tidak pula engkau membiarkan hutang kecuali melunasinya, dan tidak pula hajat dari hajat-hajat dunia dan akhirat yang Engkau ridha padanya dan baik bagi kami melainkan Engkau tunaikan. Wahai yang maha Pengasih lagi maha Penyayang.

اللهم اني اسالك العفو والعافية والمعافاة الدائمة في الدين والدنيا والاخرة

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kemaafan dan kesehatan dan pemeliharaan yang berkesinambungan dalam hal agama, dunia dan akhirat.

اللهم اغفر لي جميع ما مض من ذنوبي واعصمني فيما بقي من عمري وارزقني عملا زاكيا ترض به عني

Artinya: Ya Allah ampunilah semua dosa-dosaku yang telah lalu dan peliharalah apa-apa yang tersisa dari umurku dan karuniakanlah kepadaku amalan yang suci yang Engkau ridhai dariku.

اللهم حبب الينا الايمان وزينه في قلوبنا وكره الينا الكفر والفسوق والعصيان واجعلنا من الرشدين

Artinya: Ya Allah jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah hati kami dengannya, dan tanamkanlah dalam diri kami kebencian kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapat petunjuk.

اللهم طهر قلبي من النفاق وعملي من الرياء ولساني من الكذب وعيني من الخيانة انك تعلم خائنة الاعين وما تخفي الصدور

Artinya: Ya Allah bersihkanlah hatiku dari kemunafikan dan amalku dari sifat riya dan lisanku dari dusta serta mataku dari khianat sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan setiap mata dan apa-apa yang tersimpan dalam dada.

اللهم اني اسالك الجنة وما قرب اليها من قول وعمل واعوذ بك من النار وما قرب اليها من قول وعمل واسالك ما قضيت لي من قضاء ان تجعل عاقبته لي رشدا

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan hal-hal yang dapat mendekatkan aku kepadanya berupa ucapan dan perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka dan hal-hal yang dapat mengantarkan aku kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan bagiku dari ketetapan-Mu hendaklah kiranya Engkau menjadikan baik dampaknya bagiku

January 4, 2011 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

SEHAT BERSAMA YASIN AYAT 36-40


SEHAT BERSAMA SURAT YASIN

AYAT 36 – 40

 

سُبْحَنَ الَّذِئ خَلَقَ اْلَازْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلَاْرضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ وَءَايَةٌ لَهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُظْلِمُوْنَ وَالشَّمْسُ تَجْرِئ لِمُسْتَقَرٍّلَهَا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ اْلعَلِيْمِ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّئ عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِئ لَهَا اَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِئ فَلَكِ يَسْبَحُوْنَ

 

PENJELASAN KATA-KATA

 

Kata subhaana, Maha Suci terulang sebanyak 18 kali dalam al-Quran, yang bersambung dengan kata ganti orang kedua subhaanaka ada 9 kali, sedangkan diganding dengan kata ganti orang ketiga Subhaanahu terulang 14 kali. Kata Azwaaj adalah bentuk jama’ yang tidak beraturan yang berarti pasangan-pasangan ia terulang sebanyak 52 kali. Bentuk tunggalnya zawjun ada 17 kali dan bentuk dualnya zaujaani dan zaujaini keseluruhannya terulang 7 kali. Kata ya’lamuun/mereka mengetahui terdapat 63 kali dalam al-Quran, 44 kali diantaranya diawali dengan kata Laa yang berarti tidak. Kata Ayat dalam bentuk tunggal terulang 84 kali dan jama’nya dengan berbagai kata ganti yang menyertainya terulang 330 kali. Al-Lail, malam ada 88 kali dan an-Nahr, siang terulang 57 kali. Asy-syams matahari terdapat 32 kali dan al-Qamar 27 kali. Sementara kata Taqdiir terulang 5 kali, dan al-“Aziz 99 kali, al-‘Alim dalam bentuk ma’rifah [diketahui/jelas] terdapat 80 kali, dalam bentuk nakirah 162 kali. Qaddarna, kami menetapkan terulang 5 kali, manaazila ada 2 kali. Falakin yasbahuun terulang 2 kali.

 

KANDUNGAN MAKNA

 

سُبْحَنَ الَّذِئ خَلَقَ اْلَازْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلَارْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

 

Artinya: Maha Suci Zat yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui.

 

Ayat 36 diatas diawali dengan tasbih Subhaana, berarti Maha Suci. Kata tersebut pada awalnya bertujuan untuk meluruskan  persepsi, pandangan, konsep serta sikap kaum musyrikin Mekkah terhadap Allah Swt. Apa sebenarnya pengertian kata tersebut dan apa pula hakikat yang dikehendaki oleh Allah dibalik kalimat tasbih itu, apakah ucapan tasbih yang kita ucapkan sudah sesuai dengan yang di kehendaki Allah Swt. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita persilahkan Al-Quran menjelaskannya agar memperoleh gambaran yang utuh tentang tasbih. Penulis sedikit ingin mempokuskan perhatian kepada persoalan ini, dengan harapan mudah-mudahan memberikan pencerahan khususnya terhadap persoalan sepenting tasbih.

Kata-kata  yang bermakna tasbih dalam al-Quran banyak kita temukan dengan berbagai bentuk perubahannya. Dimulai dari isim masdarnya Subhaana, bentuk lampau sabbaha, bentuk sedangnya yusabbihu, serta perintah yaitu sabbih. Izinkan penulis untuk memaparkan seluruh ayat-ayat tersebut semoga menjadi panduan ketika bertasbih dan sekaligus mudah-mudahan ia menjadi barometer tasbih yang kita lakukan.

 

PENGULANGAN KATA SUBHAANA

 

Katakanlah inilah jalanku [agamaku], aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak [kalian] kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik 12:108

 

Tasbih dalam ayat ini untuk meluruskan sikap mereka yang menyekutukan Allah 12:106. Juga untuk mengingatkan umat Nabi Yusuf yang senantiasa merasa aman dari siksa [balasan dari perbuatan mereka] serta hari kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak/tiba-tiba,12:107.

 

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami, sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Al-Isra’,17:1.

 

Dalam ayat ini Allah Swt memperlihatkan kekuasaan-Nya untuk diyakini oleh setiap mukmin, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin termasuk memperjalankan Hamba-Nya Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha bahkan sampai ke Sidratil Muntaha. Akal manusia mengatakan hal tersebut tidak mungkin, ini berarti Allah ingin meluruskan persepsi manusia tentang kekuasaan Allah, dengan kata lain jangan batasi kekuasaan Allah dengan sempitnya kemampuan nalar manusia.

 

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca, “katakanlah” Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul 17:93.

 

Tantangan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad Saw dalam ayat diatas dan beberapa ayat sebelumnya memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka mempersamakan nabi dengan Tuhan atau sebaliknya. Hal ini bisa dilihat dari ayat 91 mereka meminta nabi untuk mengalirkan sungai-sungai di celah kebun korma dan anggur. Ayat 92 mereka meminta pembuktian kenabian dengan cara nabi menjatuhkan langit berkeping-keping, bahkan yang lebih parah lagi mereka meminta nabi untuk mendatangkan Allah dan para Malaikat agar bertatap muka dengan mereka. Awal ayat 93 mereka meminta nabi untuk naik kelangit dan turun dengan membawa kitab untuk mereka baca. Bukankah hal ini terang-terangan memperlihatkan bahwa konsep Tuhan mereka sangat kacau. Mereka tidak bisa membedakan antara rasul dengan Tuhan. Padahal tidak satupun yang serupa dan menyamai Allah Swt termasuk rasul sekalipun. Itu sebabnya rasul meluruskan persoalan ini dengan kalimat indah dan tepat, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul akhir ayat 93.

 

Dan mereka berkata “Maha Suci Tuhan kami”, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi 17:108.

 

Ayat 107 surat ini Allah mengatakan bahwa berimanlah kamu kepada al-Quran atau tidak usah beriman. Karena beriman atau tidak sama saja bagi Allah, Dia tidak mengambil keuntungan dari keimanan kalian. Bahkan untung rugi setiap perbuatan kalian kembali kepada diri kalian sendiri. Berarti tasbih dalam ayat ini adalah bahwa tidak punya kepentingan terhadap keimanan manusia.

 

Sekiranya ada dilangit dan dibumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu rusak binasa, maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan 21:22.

 

Apakah tuhan-tuhan yang mereka ambil dari bumi dapat menghidupkan orang yang telah mati ayat 21. yang bisa menghidupkan dan mematikan hanyalah Allah Swt, inilah yang ingin ditasbihkan.

 

Allah sama sekali tidak punya anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan lain beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu 23:91.

 

Bantahan sekaligus meluruskan sikap kaum musyrikin dalam ayat diatas dan beberapa ayat sebelumnya sangat jelas, misalnya mereka mengetahui siapa pemilik semua yang ada di bumi ini, tetapi mereka tidak ingat ayat 84-85. mereka juga mengetahui siapa pemilik langit dan ‘Arasy yang besar, tetapi mereka tidak bertaqwa ayat 86-87. siapakah yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan lagi melindungi, dan tidak ada yang dapat melindungi dari azab-Nya, mereka menjawab kepunyaan Allah, maka dari jalan manakah kamu ditipu ayat 88-89. semua hal diatas merupakan bantahan terhadap sikap kaum musyrikin.

 

Awal ayat 91 meluruskan pandangan dan konsep ketuhanan mereka, Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan-tuhan lain bersama-Nya.

 

Dan Maha Suci Allah Tuhan semesta alam, 27:8.

 

Tasbih dalam ayat diatas untuk meyakinkan nabi Musa akan kekuasaan Allah Swt. Dalam ayat sesudahnya Allah berfirman “Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” ayat 9.

 

 

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan, 28:68.

 

Menciptakan dan memilih sesuatu adalah hak mutlak Tuhan, manusia dituntut ikhlas dan ridha terhadap apapun yang telah dipilihkan untuknya. Dan ingat apa yang telah Allah pilihkan untuk manusia itulah yang terbaik, karena Dia maha Mengetahui lagi Bijaksana.

 

Dia juga mengetahui apa yang disembunyikan dan yang ditampakkan ayat 69. tidak ada yang berhak disembah selain Allah, bagi-Nya segala puji dunia dan akhirat, segala ketentuan ada pada Allah dan kepada-Nya kalian akan dikembalikan ayat 70.

 

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,30:17.

 

Menciptakan dan mengembalikannya adalah kuasa sang Khaliq. Pada hari kiamat berhala-berhala yang mereka sembah tidak dapat memberikan pertolongan dan mereka pada waktu itu akan mengingkari berhala tersebut. Manusia pada hari kiamat akan terbagi bergolong-golongan, orang beriman dan beramal shaleh akan bergembira di dalam syurga, sementara orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat al-Quran dan mengingkari pertemuan di hari akhir akan kekal dalam siksa neraka ayat 11-16.

 

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang telah ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui, 36:36.

 

Tasbih dalam ayat diatas untuk mensucikan pandangan mereka terhadap Allah dari segala sifat kekurangan. Allah yang mereka ingkari tersebut adalah zat yang telah menciptakan segala tumbuhan dan menumbuhkan buah-buahan dengan cara menciptakan pasangan bagi masing-masing. Dialah zat yang memiliki sifat dan perbuatan yang sempurna, salah satu kesempurnaan tersebut adalah Ia menciptakan segala sesuatu seluruhnya serba berpasang-pasangan. Baik yang ditumbuhkan oleh bumi, dari diri mereka dan apa-apa yang tidak mereka ketahui. Kata kullaha yang berarti seluruhnya dan wa mimma laa ya’lamun, dari apa-apa yang tidak mereka ketahui, pengertian dari akhir ayat ini lebih memperluas lagi cakupan makna pasangan-pasangan tersebut. Sehingga ia tidak hanya terbatas pada tumbuh-tumbuhan semata.

 

Diantara hal-hal yang difahami sebagai berpasangan adalah: laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, siang dan malam, baik dan buruk, susah senang, hidup mati, panjang pendek, besar kecil, dunia akhirat, syurga neraka, positif negative dan banyak lagi yang lainnya.

 

Kesempurnaan dan kekuasaan justru lebih terlihat dengan adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu serba berpasangan. Bukankah dalam Asma al Husna kita dapati hal yang berpasangan tersebut, misalnya al-Qaabidhu dan al-Baashith, yang menyempitkan dan melapangkan, bila Asma-Nya seperti itu maka perbuatan-Nyapun menggambarkan demikian.

 

Maka Maha Suci Allah yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan, 36:83.

 

Ini adalah tasbih kedua dalam surat Yasin, dalam ayat ini Allah ingin mengingatkan Rasul dan umat Islam umumnya, bahwa dalam berdakwah tidak selamanya hasil sesuai dengan yang diharapkan justru sering sebaliknya, keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha bijaksana akan menjadi spirit dalam menghadapi berbagai hal yang bertolak belakang dengan keinginan. Semangat tersebut tentu sangat tergantung kepada amal dan perbuatan yang di lakukan. Ketika ketaatan meningkat maka ketika itu pula harapan kepada Allah semakin kuat. Ayat ke 76 surat yasin mengingatkan jangan ucapan mereka menyebabkan kamu bersedih.

 

Ayat 77-79 menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan manusia dan membangkitkan kembali setelah kematiannya, ini untuk meyakinkan manusia bahwa mengadakan dari tidak ada [menciptakan] sangatlah mudah bagi Allah, apalagi membangkitkan sesuatu yang pernah ada, tentu jauh lebih mudah.

 

Segala sesuatu sangat mudah bagi Allah karena Ia Maha Kuasa. Tasbih ayat terakhir surat yasin ini untuk membuang jauh-jauh keraguan orang terhadap kekuasaan Allah karena ditangan-Nyalah kekuasaan, dan segala sesuatu akan dikembalikan kepada-Nya.

 

Maha Suci Allah terhadap apa-apa yang mereka sifatkan,37:159.

 

Kembali kita saksikan betapa kacaunya pandangan dan konsep mereka tentang Tuhan, mereka berkata bahwa tuhan mempunyai anak, lebih dari itu Tuhan menurut mereka punya anak laki-laki dan perempuan, yang lebih rancu lagi adalah, mereka mengadakan hubungan nasab antara Tuhan dengan jin. Itu sebabnya ayat 159 diatas mengatakan Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.

 

Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakana,37:180.

 

Rasul dan orang-orang yang beriman harus meyakini dengan seyakin-yakinnya akan kebenaran janji Allah, termasuk menolong siapapun yang menjadi hamba-Nya.  Meyakini kebenaran Janji Allah, berarti bertasbih kepada-Nya.

 

Supaya kamu duduk di punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhan, apabila kamu telah duduk diatasnya, kamu berkata Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, Az-Zukhruf 43:13.

 

Kaum musyrikin ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi?, niscaya mereka akan menjawab, Allah. Tetapi mengapa mereka justru menyembah berhala. Allah menciptakan bumi untuk menetap dan membuat jalan-jalan diatas bumi supaya kalian mendapat petunjuk.Yang menurunkan air dari langit menurut kadar yang diperlukan, lalu Kami hidupkan dengan air tersebut bumi yang tandus, seperti itulah kalian akan dikeluarkan dari kuburan. Dia juga yang menciptakan semuanya berpasang-pasangan dan menjadikan untuk kalian kapal dan binatang ternak untuk ditunggangi. Inilah tasbi yang dikokohkan oleh ayat ke13 surat  az-Zukhruf ini.

 

Maha Suci Tuhan yang mempunyai langit dan bumi, Tuhan pemilik ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan itu, az-zukhruf 43:82.

 

Jika Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah [Nabi Muhammad] yang pertama memuliakan [anak itu]. Dialah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi, Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui, pemilik kerajaan langit dan bumi dan yang ada diantara keduanya, di sisi-Nya pengetahuan tentang kiamat dan kepada-Nya kalian dikembalikan.

 

Sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at. Kalau mereka ditanya siapakan yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab “Allah” maka bagaimana mereka di palingkan.

 

Ataukah mereka mempunyai sembahan selain Allah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan, ath-Thur 52:43.

 

Muhammad tetaplah engkau memberi peringatan, karena engkau bukan tukang tenung dan bukan pula orang gila. Kaum musyrikin berkata bahwa nabi seorang penyair, katakanlah kepada mereka apakah pikiran mereka yang memerintahkan mereka untuk mengucapkan tuduhan ini atau mereka kaum yang melampaui batas. Mereka mengatakan bahwa [Nabi Muhammad] yang membuat al-Quran, sebenarnya mereka tidak beriman. Kalau mereka benar hendaklah membuat kalimat yang semisalnya, jika mereka benar.

 

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu atau mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri], atau mereka kah yang menciptakan langit dan bumi, sebenarnya mereka tidak yakin dengan ucapanya sendiri. Atau disisi mereka punya perbendaharaan Tuhan, atau mereka yang berkuasa, ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak laki-laki, atau kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereke dibebani hutang, apakah mereka memiliki pengetahuan yang ghaib lalu mereka menuliskannya, atau mereka hendak melakukan tipu daya, maka mereka itulah yang kena tipu daya, ayat 29-43.

 

Dialah Allah yang tiada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia. Raja yang Maha Suci, yang Maha Sejahtra, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan,al-Hasyr 59:23.

 

Dalam ayat 23 diatas Allah Swt menjelaskan Asma dan Sifat-Nya, untuk difahami dan diyakini. Diantaranya Dialah Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak untuk di sembah selain-Nya, mengetahui yang ghaib dan nyata, Maha Pengasih lagi Penyayang, Raja yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Mengaruniakan keamanan, Maha Memelihara, Maha perkasa, Maha Kuasa yang memiliki segala keagungan maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, pemilik Asma al Husna, semua yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.Memahami dan meyakini Asma Allah diatas serta mengaplikasikan keyakinan tersebut dalam bentuk ucapan, perbuatan dan sikap, inilah Tasbih yang sebenarnya, Al Hasyr 22-24.

 

Maha Suci Tuhan kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim,al-Qalam 68:29.

 

Allah menguji pemilik kebun yang bersumpah bahwa mereka akan memetik hasilnya di pagi hari. Mereka tidak mengucapkan Insya Allah, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, al-Qalam 17-29.

 

Demikianlah al-Quran mengulang kata Subhana dan memperlihatkan kepada betapa kacaunya keyakinan oleh kaum musyrikin. Sengaja penulis memaparkan secara utuh ayat-ayat tersebut dengan harapan agar memperoleh gambaran menyeluruh sekaligus membandingkan kekeliruan tersebut dengan keyakinan yang kita miliki untuk menjadi koreksi dan penguat.

 

MAHA SUCI ENGKAU

 

Berbeda dengan Subhana diatas, kalimat Subhaanaka adalah tasbih yang dilakukan oleh malaikat, para Nabi dan Ulil Albaab. Sementara kata Subhana umumnya adalah ungkapan langsung Allah Swt sebagai bentuk pengajaran tasbih. Agar zat, sifat dan perbuatan Allah tidak dicemari oleh sifat-sifat yang tidak layak dan tidak patut bagi Allah.

 

Ketika nada protes dan menonjolkan diri yang dilakukan oleh malaikat di hadapan Allah Swt, kemudian ia disadarkan oleh Allah dengan cara memberikan tantangan  untuk  menyebutkan nama-nama yang ada di syurga, malaikat terhentak dari kesombongannya dan menyadari akan Pengetahuan dan Kebijaksanaan Allah, seraya berucap “Maha Suci Engkau, kami tidak mempunyai pengetahuan melainkan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.Al-Baqarah:30-32.

 

Inilah tasbih malaikat, yang dapat kita ambil pelajaran darinya adalah adanya PENGAKUAN yang menyertai kalimat Subhaanaka. Pengakuan tersebut terbagi dua, pertama mengakui ketidakmampuannya untuk menjawab tantangan Allah, kedua mengakui kebesaran Allah, yang ‘Alim al-Hakim.

 

Mengingat dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi yang dilakukan oleh Ulil Albaab berujung kepada Tasbih dan permohonan perlindungan dari azab api neraka.

 

سُبْحَنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّاِر

Artinya: Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka, Ali Imran: 191.

Surat al-Maidah ayat 116 Allah Swt berfirman, “dan ingatlah ketika Allah berfirman: Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah”, Isa menjawab:

 

سُبْحَنَكَ مَا يَكُوْنُ لِئ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِئ بِحَقٍّ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِئ نَفْسِئ وَلَا اَعْلَمُ مَا فِئ نَفْسِكَ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

Artinya: Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya], jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib, Al-Maidah;116.

Inilah tasbih Nabi Isa, di dalamnya juga ada PENGAKUAN, mari kita lihat bentuk pengakuan Nabi Isa.

  1. Tidaklah patut bagiku untuk mengatakan sesuatu yang bukan hakku untuk mengatakannya. Pengakuan ini penuh dengan nuansa Ilmu. Yaitu mengetahui apa yang menjadi haknya dan yang bukan, termasuk dalam hal ucapan.
  2. Jika aku pernah mengatakannya maka pastilah Engkau telah mengetahuinya. Nabi Isa menyadari betul bahwa tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan Allah. Berarti Isa mengenal betul siapa Allah, karena kalimat seperti diatas tidak mungkin terlontar tanpa pengetahuan.
  3. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Ini juga pengakuan yang nyata-nyata bermuatan pengetahuan dan pengenalan, kenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
  4. Engkau mengetahui hal-hal yang ghaib.

 

Dan tatkala Musa datang untuk [munajat dengan Kami] pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata: Ya Tuhanku, nampakkanlah [diri Engkau] kepadaku agar aku dapat melihat-Mu, Allah berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap berada ditempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, hancur luluhlah dia dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman, Al-A’raf:143.

Keinginan Musa untuk melihat Tuhan merupakan ketidak kenalannya akan Tuhan. Namun setelah hancurnya gunung dan Ia pingsan barulah Musa sadar bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Kesadaran itulah yang membuat Musa bertasbih dengan berkata, Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu [mengakui kesalahan dan dosaku] dan aku orang yang pertama-tama beriman. Kembali kita lihat tasbih di sertai dengan KESADARAN DAN PENGAKUAN. Itulah Tasbih Nabi Musa.

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah:

 

سُبْحَنَكَ اَلَّلهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ وَاَخِرُ دَعْوَاهُمْ اَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

 

Artinya: Subhaanaka Allahumma [Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami] dan salam penghormatan mereka ialah “Salam” dan penutup doa mereka ialah Alhamdu lillahi Rabbil ‘Alamin [Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yunus:10.

Itulah Tasbih penghuni surga, yang senantiasa melihat segala kesempurnaan, kelebihan dan kebaikan hanya ada pada Allah. Mereka bertasbih disertai dengan kesadaran akan ke-Maha sempurnaan Allah, kesadaran itulah yang menuntun pikiran, hati dan lisannya untuk mengucapkan PUJIAN, Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

 

Sekarang kita lihat bagaimana Nabi Yunus bertasbih. Dalam surat al-Anbiya ayat 87 Allah Swt berfirman:

 

Dan [ingatlah kisah] Dzun Nun [Nabi Yunus], ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan menyulitkannya [karena kemarahan tersebut], maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Sembahan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim, Al-Anbiya:87.

Kesalahan dalam mengira atau menduga tindakan atau perbuatan Tuhan mengantarkan Nabi Yunus kedalam perut ikan, yang dilukiskan al-Quran sebagai zhulumaat [keadaan yang sangat gelap]. Kondisi gelap tersebut kemudian menyadarkan nabi Yunus akan kesalahannya, kesadaran akan kesalahan tersebut membuat Nabi Yunus mengakui kebesaran Allah dengan ucapan Laa Ilaaha illa Anta [tidak ada sembahan kecuali Engkau] dan kemudian bertasbih Subhaanaka [Maha Suci Engkau] selanjutnya diikuti dengan pengakuan diri Inni kuntu minazhzhalimin [sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim]. Ada kesadaran, ada pengakuan akan Allah dan pengakuan siapa dirinya. Itulah Tasbih nabi Yunus.

 

Ingatlah diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut-ke mulut dan kamu katakana dengan mulutmu apa-apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal ia disisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata diwaktu mendengar berita bohong itu: “sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini. Maha Suci Engkau [Ya Tuhan kami], ini adalah dusta yang besar, An-Nuur:15-16.

 

Awalnya mereka [orang-orang mukmin yang ikut menyebarkan berita bohong tentang ‘Aisyah] menganggap kebohongan tersebut sebagai sesuatu yang hayyinan [ringan saja], namun setelah kemudian di ingatkan akan kesalahan tersebut dan mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Kesadaran mereka berujung dengan Tasbih dan juga pengakuan. Yang menarik adalah bahwa pengakuan di sini sedikit berbeda dengan pengakuan pada ayat-ayat sebelumnya, dalam ayat ini yang mereka akui  adalah bahwa berita bohong yang semula mereka kira Hayyinan [ringan] kemudian mereka sadari bahwa itu buhtaanun ‘azhim [kebohongan yang besar]. Itulah tasbih mereka dengan mengakui dan meyakini kebenaran yang ditetapkan oleh Allah Swt.

 

Dan ingatlah suatu hari [ketika] Allah menghimpun mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata [kepada yang disembah] “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirilah yang sesat dari jalan yang benar. Mereka [yang disembah itu] menjawab: Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau [untuk jadi] pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingat Engkau, dan mereka adalah kaum yang binasa, Al-Furqan:17-18. Itulah tasbih sesembahan kaum musyrikin, dengan mengakui siapa dirinya [tidak patut mengambil selain Allah untuk dijadikan pelindung].

 

Dan [ingatlah] hari [yang waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu”. Malaikat-malaikat itu menjawab “Maha Suci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu,Saba’:40-41. Itulah tasbih malaikat, yang senantiasa menyertakan pengakuan dalam tasbihnya, Engkaulah pelindung kami, dan inilah PENGAKUAN tersebut.

 

SIAPA YANG BERTASBIH

 

Terdapat tiga surat dalam al-Quran yang di awali oleh kata sabbaha [dia telah bertasbih]. Ketiga surat tersebut adalah: al-Hadiid, al-Hasyr dan ash-Shaf. Ada apa dibalik ketiga surat yang di awali oleh kata sabbaha tersebut, tentu memerlukan kajian tersendiri untuk dapat menjawabnya. Namun yang jelas dari ayat pertama masing-masing surat tersebut kita memperoleh informasi bahwa semua yang ada di langit dan di bumi telah bertasbih kepada Allah. Bukan hanya itu, bahkan ayat-ayat tersebut diakhiri dengan kata yang persis sama yaitu, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Bila ayat pertama ketiga surat tersebut menyebutkan secara umum bahwa semua makhluk yang ada di langit dan di bumi telah bertasbih kepada Allah, maka rincian dari makhluk-makhluk yang bertasbih tersebut terdapat dalam tujuh ayat al-Quran. Untuk mengetahui siapa saja yang bertasbih menurut ayat-ayat tersebut ada baiknya kita simak penuturan al-Quran, berikut:

 

  1. Guruh dan Malaikat.

 

Allah Swt berfirman, “ dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, [demikian pula] Malaikat karena takut kepada-Nya, Ar-Ra’du:13.

  1. Langit.

 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengetahui tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun, Al-Isra’:44.

  1. Orang-orang yang tidak di lalaikan hatinya oleh perniagaan dan jual beli.

 

Bertasbih di dalamnya [masjid] pada waktu pagi dan petang.Laki-laki yang tidak di lalaikan oleh perniagaan dan tidak pula jual beli dari mengingat Allah, dan [dari] mendirikan shalat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang [di hari itu] hati dan penglihatan menjadi goncang, An-Nuur:36-37.

  1. Burung.

 

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan [juga] burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara shalat dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, An-Nuur:41.

  1. Semua yang ada di langit dan di bumi.

 

Dan bertasbih kepada-Nya semua yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Al-Hasyr:24.

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Raja yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, al-Jumu’ah:1.

 

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Hanya Allah yang mempunyai kerajaan dan pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, at-Taghaabun:1.

 

bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengetahui tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun, Al-Isra’:44.

 

 

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, An-Nuur:4

BERTASBIHLAH

 

Kata sabbih adalah bentuk perintah yang berarti bertasbihlah, kata ini terulang sebanyak 13 kali dalam al-Quran, yaitu:

 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيْرًا وَسَبِّحْ بَالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Artinya: dan sebutlah [nama] Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari, Ali Imran:41.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِيْنَ

Artinya: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu diantara orang-orang yang bersujud [shalat], al-Hijr:98.

فَاصْبِرْ عَلئَ مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا

Artinya: Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka ucapkan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, Thaha:130.

 

وَمِنْ اَنَاءِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَئ

Artinya: dan dari waktu-waktu malam hari maka bertasbihlah dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, Thaha:130.

 

وَتَوَكَّلْ عَلَئ الْحَيِّ اَّلِذيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَئ بِهِ بِذُنُوْبِ عِبَادِهِ خَبِيْرًا

Artinya: dan bertawakkallah kepada Allah yang Hidup [kekal] yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya, al-Furqan:58.

فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Artinya: maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi, al-Mukmin:55.

فَاصْبِرْ عَلَئ مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ

Artinya: Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakana dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, Qaaf:39.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُ

Artinya: dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun, ath-Thuur: 48.

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

Artinya: Maka bertasbih dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang Maha Besar, Al-Waqi’ah: 74, 94 dan Al-Haaqqah: 52.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلَاعْلَئ

Artinya: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, al-‘A’laa:1.

Demikianlah kata tasbih dengan berbagai bentuk dan pengertiannya. Masih banyak lagi kata-kata tersebut disebutkan dalam al-Quran, namun yang telah penulis paparkan di atas paling tidak memberikan gambaran kepada kita apa, siapa dan bagaimana tasbih tersebut.

 

Selanjutnya kembali kepada ayat 37 surat yasin.

 

وَءَايَةٌ لَهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُظْلِمُوْنَ

Artinya; dan suatu tanda [kekuasaan Allah] bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang darinya, maka tiba-tiba mereka berada dalam kegelapan.

 

Kata ayat di awal ayat 37 ini merupakan yang ke dua dari tiga kali pengulangan kata tersebut dalam surat yasin. Pertama terdapat pada ayat 33, dan diakhiri dengan kalimat “maka apakah mereka tidak bersyukur”. Bila kaum musyrikin Mekkah yang menjadi sasaran awal ayat ini mau membaca ayat-ayat Allah yang paling dekat dengan kehidupan mereka, yaitu bumi yang tandus, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat 33 yang lalu, maka tentulah ayat yang ke dua ini akan mudah pula untuk mereka baca. Tahapan membacanya dimulai dari terdekat dengan mereka, sampai kepada yang jauh.

 

Tanda keberadaan dan keesaan Tuhan yang kedua yang harus di baca adalah, pergantian siang dan malam dan hal-hal yang menyertai pergantian tersebut. Pergantian siang dan malam tidak hanya sekedar perubahan terang menjadi gelap. Lebih dari itu pergantian tersebut punya tujuan, baik yang berhubungan dengan manusia maupun yang lainnya. Yang berhubungan dengan manusia misalnya, Allah menjadikan malam untuk istirahat dan siang untuk berusaha. Istirahat dan berusaha adalah dua hal yang berhubungan dengan pemeliharaan kehidupan manusia itu sendiri. Ini berarti bahwa pergantian siang dan malam adalah bagian dari kasih sayang Allah untuk kemaslahatan manusia. Tidak bisa dibayangkan sekiranya Allah menjadikan seluruh waktu adalah malam atau sebaliknya.

Terjadinya pergantian siang dan malam pada dasarnya merupakan akibat dari perjalanan matahari. Yang menarik disini adalah Allah tidak menyebutkan perjalanan matahari lebih dahulu baru kemudian dampaknya yaitu siang dan malam, melainkan sebaliknya. Pengaruhnya di sebutkan terlebih dahulu baru kemudian yang mempengaruhi. Hemat penulis ini berkaitan dengan tahapan dalam membaca ayat-ayat Allah. Pertama,mulai dari yang terdekat dan yang nyata sampai kepada yang jauh. Kedua, pada umumnya cara berfikir manusia selalu berawal dari dampak/akibat dan bukan penyebab. Misalnya mengapa ia batuk, ternyata setelah dicari penyebabnya baru terjawab. Dia batuk karena debu. Untuk cara berfikir orang awam, kalau tidak ada yang batuk niscaya sampai hari ini tidak akan di ketahui bahwa debu bisa menimbulkan batuk.

 

Allah melalui ayat diatas mempergunakan cara ini. Dengan adanya gelap mereka akan mencari penyebabnya. Itu sebabnya ayat 38 berbunyi:

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِئ لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

Artinya: dan matahari beredar pada garis edarnya. Itulah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui

Kata Mustaqarr dalam ayat diatas mempunyai pengertian, antara lain:

 

  1. Waktu yang terbatas, suatu masa yang ditentukan, seperti dalam surat Al-An’am;67.
  2. Tempat istirahat atau tempat tinggal, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah:36.

 

Dalam lingkungan masyarakat sederhana seperti yang di dapati oleh al-Quran ketika itu, pemilihan kata mustaqarr sangat tepat dan bijak. Sehingga mudah untuk mereka fahami dengan tingkat pemahaman yang sederhana tentunya. Ketika matahari terbenam dan tidak menampakkan dirinya maka mereka berkata bahwa matahari menetap di suatu tempat dan beristirahat untuk besok muncul kembali. Pengertian mustaqarr bagi masyarakat maju tentu tidak demikian.

 

Itulah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, penyandingan kedua Asma diatas dan hubungannya dengan peredaran Matahari adalah sangat jelas. Keteraturan terbit dan terbenamnya serta dampat yang di munculkan oleh kehadiran atau ketidak hadirannya tidaklah mungkin di lakukan tanpa keperkasaan dan pengetahuan. Itulah barangkali mengapa di masyarakat jahiliyah ada diantara mereka yang menyembah matahari. Karena melihat kehebatan matahari, dan bukan yang menciptakannya. Ini disebabkan karena cara berfikir yang salah, yang hanya mampu melihat yang nyata dan jelas tanpa melihat adanya sesuatu di balik yang nyata tersebut.

 

Dari ayat 33 secara tidak langsung Allah mulai meluruskan cara berfikir kaum musyrikin Mekkah, dengan cara memerintahkan mereka untuk membaca ayat berupa bumi yang tadinya tandus kemudian menjadi subur dan menumbuhkan korma dan anggur. Diharapkan hasil dari pembacaan ayat-ayat kauniyah seperti ini berujung kepada kesimpulan bahwa ada yang menghidupkan bumi yang tandus tersebut. Untuk kemudian mencari tahu siapa yang menghidupkan tersebut.

 

Bila berfikir seperti ini di teruskan kepada peredaran matahari, niscaya ke kaguman mereka kepada matahari akan sirna bila melihat siapa yang menciptakan dan mengatur matahari tersebut.

 

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّئ عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ

Artinya: dan bulan Kami telah menetapkan manzilah-manzilahnya hingga ia kembali seperti tandan yang sudah tua.

Setelah diajak untuk melihat matahari, kembali Allah mengajak kita untuk melihat bulan. Sebagaimana matahari yang beredar pada garis edarnya, bulanpun Allah tetapkan manzilah-manzilahnya. Manaazil atau manzilah-manzilah tersebut adalah tempat-tempat yang di lalui oleh bulan. Mulai dari kecil sampai bulan sabit, kemudian purnama dengan sinarnya yang indah sampai kemudian terlihat kecil kembali. Yang dalam bahasa yasin disebut sebagai ‘urjuunil qadiim/tandan yang sudah tua.

 

Kata ‘urjun/tandan akan mengingatkan kita kepada tanaman kelapa atau korma. Bagi orang Arab kata tersebut tentu tidak asing, karena korma tumbuh dan banyak di dapat ditempat mereka. Ini berarti Allah kembali mengajak terutama kaum musyrikin Mekkah ketika itu, untuk melihat sesuatu yang jauh dengan mengambil sample dari sesuatu yang terdekat dengan kehidupan mereka.

 

Pengumpamaan sesuatu yang dekat untuk memahami yang jauh, hemat penulis untuk menimbulkan zuaq/rasa. Sehingga mudah membekas dalam hati. Tentunya ini kesan paling sederhana yang harus di dapati dari setiap ayat yang dibaca.

 

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِئ لَهَا اَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِئ فَلَكِ يَسْبَحُوْنَ

Artinya: tidaklah mungkin bagi matahari mendapati bulan dan malam mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Matahari dan bulan melintasi daerah zodiac, dan gerakan masing-masing keduanya berbeda, keduanya tidak pernah saling menyusul atau saling mendahului. Apabila matahari dan bulan berada di sisi yang sama dan segaris dengan bulan, maka akan terjadi gerhana matahari. Sebaliknya, bila bulan dan matahari berada pada sisi yang berbeda dalam satu garis, maka akan terjadi gerhana bulan, tetapi tidak ada benturan antara keduanya.

 

Di sini, telah berlaku hukum Ilahi bagi bulan dan matahari. Apabila dalam suatu masa misalnya hari kiamat, bulan mulai meninggalkan bumi untuk bergabung dengan matahari [al-Qiyaamah 75:8-9]. Maka ini pertanda bahwa bulan dan matahari sudah tidak berada dalam posisinya masing-masing.

December 18, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

KISAH HIKMAH


KISAH HIKMAH
[Cerita seorang syaikh]

Kaum bani Israil satu kali mendatangi Musa, “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami” Dengan marah musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan ” Tetapi ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, ” Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan ini ? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka Aku akan datang pada pesta mereka, jumat petang.

Musa menyampaikan berita Tuhan itu kepada umat-Nya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada hari jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. “Saya lapar sekali, ” katanya kepada Musa. “Berilah aku makanan” Musa berkata, Sabarlah Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air kesini. Kamu juga harus memberikan bantuan. Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorangpun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang dianggapnya memperdayakan mereka

Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, ” Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan, Tuhan menjawab, Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruhku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan.

Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan. Tapi ia hanyalah manusia biasa.

Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku.

Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku.

December 11, 2010 Posted by | Serba-serbi, Uncategorized | Leave a comment

PROGRAM HAJI AWANA TOUR


TENTATIF PROGRAM PERJALANAN HAJI KHUSUS 1432 / 2011 M
AWANA TOUR ( ARBAIN )

No. Hari Tanggal Agenda AKOMODASI / HOTEL
Hijriah Masehi Perjalanan MAKKAH AL SAFWAH ORCHID/GRAND ZAMZAM/STRF*5
1 Selasa 4 Dzulhijjah 1-Nov-11 Jakarta – Jeddah Continue reading

December 6, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

PROGRAM UMRAH AWANA TOUR


UMROH REGULER

Hari 01 Jakarta – Jeddah – Madinah 08 Maret 2011 Selasa
 Sudah berkumpul di Bandara Soekarno Hatta 03 jam sebelum keberangkatan, dengan mengucapkan Bismilahirrohmanirohim Tawakaltu Alallahi, berangkat ke Jeddah. Tiba di Jeddah langsung menuju Madinah dengan Bus AC. Continue reading

December 5, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

SEHAT BERSAMA YASIN AYAT 28 S/D 35


SEHAT BERSAMA SURAT YASIN
AYAT 28 S/D 35
بسم الله الرحمن الرحيم
وَمَا اَنْزَلْنَا عَلَئ قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنّاَ مُنْزِلِيْنَ اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خَمِدُوْنَ يَحَسْرَةً عَلَئ الْعِبَادِ مَا يَأْتِيْهِمْ مِنْ رَسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهِ يَسْتَهْزِءُوْنَ اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ اْلقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَايَرْجِعُوْنَ وَاِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيْعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ وَءَايَةٌ لَهُمُ اْلَارْضُ اْلمَيْتَةُ اَحْيَيْنَهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنَّتٍ مِنْ نَخِيْلٍ وَاَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِ لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

PENJELAN KATA-KATA

Kata Anzalna, kami telah menurunkan terulang sebanyak 40 kali. Ia berasal dari Anzala yang berarti dia telah menurunkan dan terulang sebanyak 63 dalam al-Quran. Selain dari itu kata nazala, dia turun ada 4 kali, serta nazzala, dia telah menurunkan ada 12 kali. Berarti keseluruhannya berjumlah 119 kali. Isim fail [kata benda yang menunjuk kepada pelaku] dari kata anzala tersebut berjumlah 3 kali dalam bentuk munziliin dan 2 kali munziluun. Ke lima bentuk isim fail tersebut memiliki arti yang berbeda: Continue reading

December 2, 2010 Posted by | Tafsir/Kajian | Leave a comment

UNTAIAN DOA AYAT 1 S/D 12 SURAT YASIN


UNTAIAN DOA SURAT YASIN

YAASIN

Ya Allah, Engkaulah yang mengetahui hakikat makna sesunguhnya, bimbinglah kami agar dapat menyelami kandungan surat yasin, untuk kami jadikan panduan dalam kehidupan. Ya Allah, jadikanlah kami insan yang sempurna, sebagaimana yang telah Engkau berikan kepada Nabi Muhammad Saw. Ya Allah, berilah kami kemampuan untuk menata diri dan menghiasinya dengan akhlak yang mulia, mudah-mudahan ia menjadi tiket bagi kami untuk memasuki indahnya surga-Mu. Amin Continue reading

November 26, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

POLA MAZID BI HARFIN [kata kerja yang mendapat tambahan satu huruf]


فعل الثلاثي مزيد
Fiil Tsulatsi mazid itu adalah kata kerja yang aslinya tiga huruf kemudian mendapatkan penambahan. Penambahan tersebut bisa satu huruf, dua huruf dan tiga. Seluruhnya berjumlah 12 bab.

Untuk penambahan satu huruf terdiri dari tiga bab, sebagai berikut: Continue reading

November 24, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment